Dalam suasana khidmat dan penuh kehangatan spiritual, Ustaz Muhammad Khalid Abri menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Taqwa, Jalan Kalimas Udik 1C Nomor 1, Surabaya, pada Jumat (18/4/2025).
Masjid ini berdiri di kawasan Lembaga Pendidikan Mufidah yang memiliki nilai historis tinggi sebagai bagian dari warisan KH Mas Mansur, salah satu tokoh besar Muhammadiyah yang dikenal luas karena pemikiran dan perjuangannya untuk umat dan bangsa.
Dalam khotbahnya, Ustaz Muhammad Khalid mengangkat tema pentingnya bersedekah sebagai amalan yang sangat utama dalam Islam.
Dengan gaya tutur yang tenang namun mengena, ia mengajak jamaah untuk merenungi kembali hakikat harta dan keutamaan berbagi kepada sesama.
“Harta yang kita miliki bukan sepenuhnya milik kita. Ia adalah titipan dari Allah. Maka, jangan sampai kita lupa untuk berbagi. Karena sedekah itu bukan hanya sekadar memberi, tetapi menunjukkan kualitas keimanan kita,” ujarnya.
Ustaz Muhammad Kholid lalu menjelaskan bahwa konsep sedekah dalam Islam sangat luas. Ia menyitir hadis dari Bukhari dan Muslim yang menyebutkan bahwa semua bentuk kebaikan bernilai sedekah. Bahkan kepada hewan pun, berbuat baik itu dianggap sedekah.
“Setiap sendi manusia harus disedekahi setiap harinya di mana matahari terbit. Berlaku adil antara dua orang adalah sedekah. Menolong orang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barangnya adalah sedekah. Ucapan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah menuju salat adalah sedekah. Dan menyingkirkan sesuatu yang berbahaya dari jalan juga adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa sekadar menebar senyum, menyapa saudara dengan wajah yang cerah, berkata dengan lemah lembut, hingga membantu orang lain menuangkan air dari sumur ke ember pun merupakan bentuk sedekah.
“Sedekah itu investasi,” tegas Ustaz Muhammad Khalid.
Dia menyebut bahwa dalam logika spiritual Islam, bersedekah bukanlah mengurangi harta, tetapi justru melipatgandakannya. Ia mengutip hadis dari Bukhari dan Muslim:
“Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurutnya, Allah tidak akan membiarkan hamba yang gemar bersedekah jatuh miskin. Bahkan, ia menyebutkan bahwa sedekah bisa menjadi pengganti pengobatan.
“Kalau sedekah, insyaAllah selamat. Tidak perlu infus, tidak perlu opname. Allah cukupkan dari arah yang tidak kita duga,” ucapnya sambil tersenyum.
Ia juga memperingatkan jamaah agar tidak menjadi pribadi yang sombong dengan harta dan jabatan.
“Allah tidak menyukai orang yang sombong. Ketika seseorang miskin kebaikan, maka kehinaan akan datang. Bukan karena tidak punya harta, tetapi karena tidak punya kasih,” tegasnya.
Ustaz Muhammad Khalid membedakan antara sifat bakhil dan syuh. Bakhil, menurutnya, adalah enggan berbagi harta dan ilmu. Sedangkan syuh adalah kondisi ketika seseorang tidak hanya kikir, tetapi juga ingin menguasai yang bukan miliknya.
Dia menyinggung perilaku sebagian orang yang tidak mau menyumbangkan ilmu, tidak mau terlibat dalam kegiatan sosial, dan bahkan enggan menyapa tetangga.
“Ada orang yang bahkan tidak mau berbagi ilmu, tidak mau berkiprah di masyarakat. Itu bukan hanya bakhil, tapi syuh. Allah telah memperingatkan dalam Al-Qur’an tentang orang-orang seperti ini,” katanya, seraya mengutip QS. An-Nisa ayat 37:
“(Yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir, serta menyembunyikan karunia yang telah Allah berikan kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.” (QS. An-Nisa: 37)
Dalam penutup khotbahnya, Ustaz Muhammad Khalid mengajak jamaah untuk tidak menjadi orang yang suka mengeluh atau sambat. Menurutnya, orang yang tidak bersyukur akan cenderung menyalahkan keadaan, bahkan mencela takdir.
Sebaliknya, sedekah adalah bentuk syukur yang nyata atas segala nikmat Allah.
Ia menyitir ayat dalam Al-Qur’an yang menekankan hubungan antara syukur dan bertambahnya nikmat:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7). (wh)
