Di era serba cepat dan penuh sorotan, menjadi trendsetter sering dipandang sebagai pencapaian besar. Seseorang yang berani memulai, mencetuskan ide, dan membuka jalan baru akan mudah dikenali dan diikuti banyak orang.
Namun realitasnya tidak selalu indah. Tidak sedikit pencetus yang tidak mampu merawat gagasannya secara konsisten. Menjadi contoh banyak orang tetapi tidak istikamah, bahkan ketika orang lain mencoba berinovasi justru minim apresiasi. Lebih menyedihkan lagi, kondisi di mana yang bergerak dan yang diam dinilai sama, seolah tidak ada perbedaan antara usaha dan kealpaan.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan sosial, tetapi juga persoalan nilai, keikhlasan, dan orientasi amal. Islam sejak awal telah memberikan panduan yang sangat jelas tentang memulai kebaikan, menjaga konsistensi, dan menghargai usaha, baik yang tampak besar maupun kecil.
Pencetus Kebaikan: Mulia, Tapi Belum Selesai
Menjadi pencetus kebaikan adalah hal yang sangat mulia. Rasulullah saw bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ
“Barang siapa yang memulai suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelah itu…” (HR. Muslim)
Hadis ini sering dijadikan motivasi untuk berinovasi dan berani memulai. Namun penting dipahami, memulai bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab. Pahala besar memang dijanjikan bagi pencetus kebaikan, tetapi Islam tidak pernah memisahkan nilai awal yang baik dari keberlanjutan yang terjaga.
Allah Swt mengingatkan dalam Al-Qur’an:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2)
Ayat ini menegur keras ketidaksesuaian antara ucapan, contoh, dan perbuatan. Menjadi trendsetter tanpa konsistensi berisiko menjadikan seseorang teladan di awal, tetapi kontradiksi di akhir.
Istikamah: Lebih Berat dari Sekadar Memulai
Banyak orang mampu memulai, tetapi sedikit yang mampu bertahan. Padahal dalam Islam, nilai sebuah amal sangat ditentukan oleh keberlanjutannya. Rasulullah saw bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa istikamah lebih utama daripada sensasi awal. Seseorang yang konsisten, meskipun langkahnya kecil, lebih bernilai di sisi Allah daripada mereka yang memulai besar namun berhenti di tengah jalan.
Inovasi Tanpa Apresiasi: Ujian Keikhlasan
Tidak semua inovasi akan disambut tepuk tangan. Banyak orang yang bergerak, berinovasi, dan memperbaiki keadaan, tetapi justru minim apresiasi, bahkan terkadang diabaikan. Dalam kondisi seperti ini, Islam mengajarkan agar orientasi amal tidak bergantung pada penilaian manusia.
Allah Swt berfirman:
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًا ۗ وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْأَاخِرَةِ نُؤْتِهِۦ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِى الشّٰكِرِينَ
“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran : 145)
Ayat ini mengingatkan bahwa tujuan amal menentukan ketahanan pelakunya. Jika bergerak hanya demi pengakuan, maka kekecewaan mudah datang. Namun jika bergerak karena Allah, minim apresiasi tidak akan mematikan semangat.
Ketika Yang Bergerak dan Yang Diam Dinilai Sama
Salah satu penyakit sosial yang paling melelahkan adalah ketika usaha dan ketidakpedulian diperlakukan setara. Orang yang bekerja keras dan yang pasif seolah berada di posisi yang sama. Padahal Islam sangat tegas membedakan antara keduanya.
Allah Swt berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ
“Apakah orang-orang yang mengetahui sama dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
Dalam ayat lain:
لَّا يَسْتَوِى الْقٰعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِى الضَّرَرِ وَالْمُجٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوٰلِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ
“Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya…” (QS. An-Nisa: 95)
Dalil-dalil ini menegaskan bahwa gerak, usaha, dan kontribusi memiliki nilai tersendiri, meskipun manusia sering gagal memberi penghargaan yang adil. Ketika dunia menyamaratakan, Allah tetap mencatat dengan teliti.
Menjadi Trendsetter yang Bertanggungjawab
Islam tidak melarang menjadi pelopor, tidak pula mematikan kreativitas dan inovasi. Namun Islam menuntut tanggung jawab moral dari setiap pencetus: konsisten semampunya, jujur pada keterbatasan, dan ikhlas terhadap hasil.
Lebih baik melangkah sederhana tetapi terjaga, daripada memulai gemilang lalu ditinggalkan. Lebih baik bergerak dalam senyap namun istikamah, daripada viral sesaat lalu hilang arah.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa banyak orang mengikuti kita, tetapi seberapa lama kita setia pada nilai kebaikan itu sendiri. Karena dalam pandangan Allah, tidak ada satu langkah pun yang sia-sia, selama dilakukan dengan iman, kejujuran, dan keistikamahan. (*)
