Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan ketakwaan, kita berupaya sekuat tenaga untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui ibadah yang sungguh-sungguh, ketaatan terhadap perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ketakwaan sejati bukan sekadar perasaan dalam hati, tapi nyata dalam tindakan. Ia berdampak positif bagi kehidupan kita sehari-hari.
Seorang yang bertakwa akan senantiasa memperbaiki dirinya, menyesali kesalahan, dan berusaha menjadi hamba yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Waktu yang Terus Berlalu
Satu hal yang perlu kita sadari bersama adalah bahwa waktu terus berjalan dan tidak akan pernah kembali. Di saat waktu terus bergulir, sesungguhnya usia kita juga semakin berkurang. Setiap detik yang berlalu adalah bagian dari hidup yang telah kita tinggalkan dan tak mungkin kita ulang.
Karena itu, sangat penting untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Jangan sampai waktu yang berharga ini terbuang sia-sia hanya untuk mengejar kesenangan duniawi, sementara akhirat kita lupakan. Dunia memang perlu, tapi jangan sampai membuat kita lalai dari tujuan utama penciptaan kita: beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Sebagaimana sebuah ungkapan yang bijak menyatakan: “Hari-hari yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.”
Itulah sebabnya kita harus selalu mengisi waktu dengan amal kebaikan. Jika kita tidak menggunakan waktu dengan baik, maka kita akan merugi, bahkan bisa terjebak dalam penyesalan yang tak berujung.
Waktu Seperti Pedang
Ulama salaf menyebut bahwa waktu ibarat pedang. Jika kita tidak menggunakannya untuk memotong (melakukan kebaikan), maka ia yang akan memotong kita (menjerumuskan dalam kerugian).
Kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput. Kematian tidak memandang usia—anak-anak, remaja, orang tua, semua memiliki batas waktunya masing-masing. Maka di sisa umur yang Allah berikan, mari kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya melalui ibadah, amal saleh, dan usaha memperbaiki diri.
Hadis tentang Umur dan Perbuatan
Rasulullah shallallahu alaihi Wasallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi:
“Siapakah manusia yang paling baik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya.”
Lalu ditanya, “Siapakah manusia yang paling buruk?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan buruk amal perbuatannya.”
Hadis ini memberi pelajaran berharga: umur panjang bukan jaminan kebaikan jika tidak diiringi dengan amal saleh. Justru umur panjang bisa menjadi petaka bila dipakai untuk berbuat maksiat, meremehkan perintah Allah, dan mengabaikan kewajiban sebagai hamba.
Sebaliknya, umur panjang yang dimanfaatkan untuk kebaikan adalah nikmat luar biasa yang akan menjadi sebab kemuliaan seseorang di dunia dan akhirat.
Renungan dan Evaluasi Diri
Mari kita renungkan:
Apakah tambahan umur yang kita dapatkan menjadi sarana untuk memperbanyak amal saleh, ibadah, dan ketaatan?
Ataukah justru sebaliknya, hari-hari yang berlalu hanya menambah daftar dosa dan kelalaian?
Setiap waktu yang kita lewati harusnya menjadi peluang memperbaiki diri. Semakin banyak waktu, seharusnya semakin banyak pula amal kebaikan yang kita kumpulkan. Jika tidak, maka kita termasuk orang yang merugi.
Doa Nabi tentang Umur dan Kebaikan
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita doa yang sangat indah, yang menggambarkan harapan agar hidup dan mati kita bernilai:
“Ya Allah, jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai peristirahatan bagiku dari segala kejahatan.” (HR. Muslim)
Doa ini mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar untuk diisi, tetapi untuk diisi dengan kebaikan yang terus bertambah.
Dan kematian adalah penutup, tempat istirahat dari segala kelelahan dan keburukan dunia, bila kita telah mengisi hidup dengan amal saleh.
Isi Waktu dengan Amal Terbaik
Insya Allah, jika kita menyadari bahwa waktu adalah nikmat sekaligus ujian, maka kita akan lebih berhati-hati dalam menggunakannya.
Mari kita isi waktu demi waktu yang terus berjalan ini dengan hal-hal yang bermanfaat, sebagai bentuk rasa syukur dan sebagai ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Semoga setiap detik yang berlalu menjadi saksi kebaikan kita, bukan penyesalan. (*)
