Waktu,
Sering kali kita mengidentikkannya dengan usia (umur) manusia. Betulkah?
Banyak orang beranggapan demikian.
Alasannya, selama kita hidup, waktu adalah kesempatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan untuk kita nikmati.
Kita bebas menggunakan nikmat waktu semau kita, namun perlu diingat bahwa waktu (kesempatan) ini akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).”(QS. At-Takatsur: 8)
Orang yang berakal hendaknya selalu mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Allah, karena tidak ada yang tahu kapan kematian menjemput. Jika tidak, kelalaian yang terjadi semasa hidup akan berujung pada penyesalan karena telah menyia-nyiakan waktu tanpa manfaat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.”
(QS. Luqman: 34)
Memaknai ayat di atas, kita sadar bahwa kematian bisa datang kapan saja—bukan saat pensiun, bukan tahun depan, bahkan mungkin besok.
Mungkin saja sore ini kita masih duduk bersama sahabat di masjid, tapi besok Subuh kita sudah dipanggil Allah. Maka setiap waktu adalah kesempatan, jangan sia-siakan.
Karena itu, perbanyak istighfar, berzikir, dan bertasbih untuk selalu mengingat Allah.
Pertanggungjawaban atas Umur
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Manusia akan ditanya tentang umurnya dihabiskan untuk apa, dan masa mudanya untuk apa.” (HR. Tirmidzi, no. 2416)
Kesehatan dan waktu luang adalah dua nikmat besar yang sering kali baru disadari nilainya setelah hilang.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari, no. 6412)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi banyak kesempatan kepada hamba-Nya untuk memohon ampunan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Allah telah memberi banyak kesempatan untuk meminta ampunan kepada seseorang yang ditangguhkan ajalnya hingga mencapai umur enam puluh tahun.”
(HR. Bukhari)
Refleksi di Usia 40 Tahun
Imam Syamsuddin Al-Qurthubi menyatakan bahwa usia 40 tahun adalah saat seseorang mulai menyadari betapa banyak nikmat yang telah dikaruniakan Allah, dan saatnya untuk bersyukur dan memperbaiki diri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sehingga apabila dia telah dewasa dan sampai umurnya empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.'”
(QS. Al-Ahqaf: 15)
Jangan Sampai Menyesal Saat Terlambat
Bagaimana dengan orang yang lalai ketika diberi umur panjang?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang shalih, berlainan dengan yang telah kami kerjakan.’ Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (QS. Faathir: 37)
Waspadalah terhadap usia: Sudahkah kita mengisi umur dengan amal ibadah atau sebaliknya?
Saat ini, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan kita kesempatan, mari pergunakan waktu yang tersisa untuk beribadah dengan sungguh-sungguh. Bisa jadi, ini kesempatan terakhir kita.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)
Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang menyia-nyiakan waktu, dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang diridai. Aamiin.
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan menjadikannya paham dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). (*)
