Dalam lembaran sejarah Quraisy, nama Walid bin al-Mughirah tercatat sebagai sosok yang diberi kekayaan, keturunan, dan kemudahan hidup, namun akhirnya justru tenggelam dalam kesombongan.
Meskipun dalam hatinya ia memahami kebenaran ajaran Nabi Muhammad saw, rasa takut kehilangan status dan kekuasaan membuatnya menolak terang kebenaran.
Allah mengabadikan kisah Walid dalam Surah Al-Muddatsir, sebagai peringatan bahwa nikmat dunia bisa menjadi ujian yang sangat berat.
Allah SWT berfirman:
“Aku beri dia kekayaan melimpah dan anak-anak yang selalu bersamanya.” (QS. Al-Muddatsir: 12–13).
Ayat ini menunjukkan betapa Walid mendapatkan banyak anugerah, namun tetap memilih berpaling. Dari sudut pandang psikologi, sikap Walid ini menggambarkan fenomena hubris syndrome, di mana kekuasaan membutakan hati dan menumbuhkan rasa tidak terkalahkan.
Akibatnya, Walid jatuh dalam jebakan ego, membangun dinding penyangkalan terhadap kebenaran yang ia tahu dalam batinnya.
Pilihan Walid untuk mengabaikan ajaran Rasulullah bukanlah karena kurangnya bukti, tetapi karena ketakutan akan perubahan.
Ia lebih memilih mempertahankan ilusi kekuasaan daripada merendahkan hati. Ironisnya, dalam usahanya mempertahankan kehormatan duniawi, ia justru menjerumuskan dirinya ke dalam kehancuran batin yang dalam.
Kisah Walid menjadi pelajaran berharga bagi kita hari ini. Tidak sedikit manusia modern yang terperangkap dalam kecintaan terhadap dunia, mengejar status dan kekayaan sambil mengabaikan suara hati.
Padahal, Al-Qur’an berulang kali mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu, dan nikmat sejati terletak pada kerendahan hati serta ketundukan kepada kebenaran.
Melalui perjalanan hidup Walid bin al-Mughirah, kita diajak untuk bercermin: apakah nikmat yang kita miliki mendekatkan kita kepada Tuhan atau justru menjauhkan?
Karena sejatinya, keberkahan bukan terletak pada berapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa dalam kita mensyukuri dan menggunakannya dengan hati yang bersih. (*)
