Wakil Menteri Agama RI, KH. Romo Raden Muhammad Syafii, menegaskan pentingnya membangun keberanian tauhid dalam setiap diri umat Islam. Menurutnya, seseorang yang masih takut kepada kekuatan selain Allah sejatinya belum memiliki keberanian iman sejati.
“Jika seseorang masih takut kepada selain Allah, takut kepada kekuatan besar, tekanan politik, atau sosial, maka hakikatnya ia belum memiliki keberanian tauhid,” ujar KH Syafii dalam penutupan Rakernas II Majelis Tabligh PP Muhammadiyah di Kota Batu, Ahad (26/10/2025).
Ia menegaskan, hanya orang yang hatinya hidup dengan iman dan hanya takut kepada Allah yang mampu menghidupkan masjid. Iman sejati, kata Syafii, bukan sekadar pengakuan di lisan, tetapi pemahaman mendalam yang menuntut tanggung jawab di hadapan Allah.
KH Syafii mengingatkan, sejak masa Rasulullah SAW, fungsi masjid tidak pernah hanya untuk ibadah ritual. Masjid adalah pusat kehidupan umat: tempat dakwah, pendidikan, musyawarah, hingga pemberdayaan ekonomi.
Ia mencontohkan kisah sahabat miskin yang datang kepada Nabi Muhammad SAW. Rasul tidak hanya memberinya sedekah, tetapi juga membimbingnya berdagang hingga mampu mandiri. Bahkan, Rasulullah juga mendorong umat Islam membangun pasar di sekitar masjid agar ekonomi umat kuat dan mandiri.
“Ketika azan berkumandang, semua transaksi dihentikan, semua kembali kepada Allah. Inilah keseimbangan antara dunia dan akhirat,” jelasnya.
Dalam kunjungannya ke Mesir dan Maroko, Syafii menemukan bahwa masjid di sana menjadi pusat kehidupan masyarakat: tempat ibadah, belajar, sekaligus menggerakkan ekonomi umat. Namun, kondisi itu belum sepenuhnya terwujud di Indonesia.
“Kita sudah punya visi Indonesia Emas 2045, tapi mengapa masjid belum diarahkan menjadi pusat pemberdayaan umat?” tanya Syafii.
Menurutnya, masalah bangsa bukan pada kurangnya sumber daya, melainkan kurangnya keberanian dan kemandirian. Umat Islam sering tidak percaya diri membangun sistem ekonomi sendiri, padahal potensi zakat, infak, dan wakaf sangat besar jika dikelola di lingkungan masjid.
Wamenag Syafii menegaskan, zakat seharusnya tidak hanya dikumpulkan, tetapi dikelola untuk mengangkat ekonomi jamaah. Ia membayangkan setiap masjid memiliki unit usaha mikro atau koperasi syariah sehingga jamaah yang membutuhkan modal bisa datang ke masjid, bukan ke rentenir.
“Bayangkan kalau setiap masjid punya koperasi umat, lembaga keuangan mikro syariah, dan dikelola profesional. Di situlah semangat Islam hidup kembali,” ujarnya.
Ia menilai Muhammadiyah memiliki potensi besar untuk mewujudkan hal tersebut karena memiliki jaringan masjid, struktur organisasi, dan kepercayaan publik yang luas. Namun, gerakan masjid Muhammadiyah harus melampaui sekadar ibadah ritual menuju gerakan sosial dan ekonomi umat.
KH Syafii menekankan pentingnya sinergi antara Majelis Tabligh, Majelis Ekonomi, dan LAZISMU dalam membangun kekuatan umat berbasis masjid. Menurutnya, kekuatan tauhid harus diterjemahkan menjadi kekuatan sosial, ekonomi, dan politik yang berakar pada nilai-nilai Islam.
“Kalau Muhammadiyah bisa menjadikan masjid sebagai pusat gerakan tauhid, sosial, dan ekonomi, maka kebangkitan umat bukan lagi mimpi,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, reformasi politik dan pemberantasan korupsi tidak bisa hanya mengandalkan sistem, melainkan harus berangkat dari moral dan iman yang tumbuh di masjid.
Menutup ceramahnya, KH Syafii menyerukan agar umat menjadikan masjid sebagai jantung peradaban Islam di Indonesia.
“Jangan jadikan masjid hanya tempat ibadah ritual. Jadikanlah ia pusat kebangkitan umat. Dari masjid, lahir ilmu, ekonomi, dan masa depan bangsa,” pungkasnya. (Afifun Nidlom)
