Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Fajar Riza Ul Haq, mengatakan bahwa Ramadan adalah sekolah kehidupan. Karena itu, pihaknya mengajak kaum Muslimin menyambut bulan suci Ramadan dengan memperkuat pendidikan karakter sebagai fondasi pembentukan iman, akhlak, dan kepedulian sosial.
Hal itu disampaikan Fajar Riza Ul Haq dalam agenda Pengajian Tarhib Ramadan yang diselenggarakan Keluarga Besar Muhammadiyah Sumedang di Gedung Negara, Sumedang Jawa Barat, Ahad (8/2/2026).
Dalam tausiyahnya, Wamen Fajar menegaskan bahwa puasa tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih disiplin, empati, kejujuran, serta tanggung jawab sosial. Nilai-nilai inilah yang menjadi inti pendidikan karakter dan perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari, baik di rumah, sekolah, tempat kerja, maupun ruang publik.
“Saya berharap setelah menjalani pendidikan karakter di bulan Ramadan, kita semua bisa naik kelas. Tidak hanya dalam ibadah personal, tetapi juga dalam akhlak, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kebangsaan,” ujar Wamen Fajar.
Ia menekankan bahwa kesalehan umat Islam harus berbuah nyata dalam kehidupan bersama, termasuk ketaatan pada aturan dan etika publik, serta kepedulian terhadap lingkungan. Dalam konteks kebangsaan, kesalehan tersebut berjalan seiring dengan ketaatan kepada ulil amri selama berada dalam koridor konstitusi dan nilai keadilan.
Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) PP Muhammadiyah ini juga mengaitkan pendidikan karakter Ramadan dengan tantangan serius bangsa, khususnya darurat sampah nasional.
Indonesia menghasilkan sekitar 142 ribu ton sampah perhari, sementara yang terolah baru sekitar 24 persen. Karena itu, Ramadan menurutnya perlu dijadikan momentum perubahan perilaku, dimulai dari kebiasaan kecil namun berdampak besar, seperti mengurangi sampah, memilah sampah organik dan non-organik, serta membiasakan hidup bersih.
Di sisi lain, Wamen Fajar menekankan bahwa Gerakan Indonesia ASRI tidak cukup dipahami sebagai kebijakan semata, melainkan perlu menjadi gerakan kesadaran kolektif yang ditopang nilai keimanan.
Ia menambahkan bawa menjaga kebersihan adalah bagian dari iman, dan Ramadan merupakan waktu terbaik untuk membangun kebiasaan baik yang berdampak jangka panjang bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Dalam konteks ibadah, Wamen Fajar mendorong pentingnya tadarus Al-Qur’an yang bermakna, yakni membaca, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai satu kesatuan. Ramadan, tegasnya, harus melahirkan perubahan karakter sehingga ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi memberi manfaat nyata bagi sesama. (*/tim)
