Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A, mengenang kembali kebersamaannya dengan Mendikdasmen, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., saat penelitian di beberapa sekolah Muhammadiyah di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2008. Dari penelitian tersebut, duet Abdul Mu’ti dan Fajar Riza melahirkan buku berjudul “Kristen Muhammadiyah”.
Hal ini disampaikan oleh Fajar Riza Ul Haq saat meninjau revitalisasi satuan pendidikan dan pemanfaatan intercative flat panel (IFP) di SMA Muhammadiyah Ende, Rabu (17/12/2025). Dalam rangkaian itu juga diselenggarakan dialog bersama kepala sekolah, para guru, dan keluarga besar Muhammadiyah Ende.
Ia menambahkan, pertama kali menginjakkan kaki di Kota Ende pada tahun 2008. Saat itu, bersama Abdul Mu’ti, tengah melakukan penelitian di beberapa sekolah Muhammadiyah termasuk SMA Muhammadiyah Ende.
“Saya dan Pak Menteri Abdul Mu’ti punya hubungan emosional dengan SMA Muhammadiyah Ende. Pada tahun 2008, saya pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Sekolah ini telah melahirkan seorang doktor dan doktor itu sekarang menjadi Menteri Pendidikan,” kata Fajar.
Pak Menteri Pendidikan Abdul Mu’ti, lanjutnya, meraih gelar doktor setelah melakukan penelitian di beberapa sekolah Muhammadiyah, salah satunya SMA Muhammadiyah Ende. Saat itu ia adalah asisten yang membantu penelitian itu.
“Penelitian di sekolah ini pula yang akhirnya melahirkan satu buku yang ditulis oleh Pak Mu’ti dan saya, judulnya adalah Kristen Muhammadiyah. Jadi, saya ingin menunjukkan bahwa sekolah yang sederhana ini telah melahirkan karya yang penting secara akademik. Juga sudah menjadi banyak perbincangan di level nasional oleh kalangan akademisi,” sambungnya.
Wamen Fajar mengatakan bahwa buku ini banyak menguraikan tentang perjalanan dan perkembangan Muhammadiyah terutama dalam bidang pendidikan di Pulau Flores, khususnya di Kota Ende. SMA Muhammadiyah Ende, katanya, sudah berdiri sejak tahun 1971 dan sejak saat itu pula menjadi salah satu sekolah pilihan utama masyarakat setempat.
“Sekolah Muhammadiyah di NTT itu sangat toleran, sangat terbuka. Buktinya apa? Di Ende ada SMA Muhammadiyah yang duapertiga siswanya adalah non-Muslim (Katolik dan Protestan). Itu yang menjadi salah satu kebanggaan, bahwa Muhammadiyah ini merangkul, Muhammadiyah ini inklusif. Hemat saya, spirit itu yang harus terus diabadikan oleh sekolah ini. Dengan cara itulah sekolah ini bisa terus berkembang dan bertahan,” ungkap Fajar yang juga Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis PP Muhammadiyah.
Menurutnya, banyak momen bersejarah di Ende yang tidak lepas dari Muhammadiyah. Misalnya, pengasingan Soekarno ke Ende yang kemudian melahirkan inspirasi tentang Pancasila sehingga kota ini dikenal sebagai Kota Pancasila.
“Soekarno merupakan kader Muhammadiyah. Soekarno pernah menjadi pengurus bahkan Ketua Majelis Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah Bengkulu. Jadi, begitu banyak momen bersejarah yang itu tidak lepas dari Muhammadiyah,” paparnya.
Kalau itu dinarasikan atau dikemas ulang, lanjutnya, ia percaya Muhammadiyah akan bersinar. Menyala. “Sering saya katakan, bahwa matahari itu tidak pernah pilih kasih memberikan cahaya. Matahari memberikan sinar yang sama kepada siapa pun. Itulah filosofi Muhammadiyah, Sang Surya,” tutupnya. (*)
