Wanita Pemintal Benang, Tentang Janji yang Dilanggar

Wanita Pemintal Benang, Tentang Janji yang Dilanggar
www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri

Dikisahkan wanita pemintal benang merujuk pada Surat An-Nahl 92 dalam Al Qur’an. Ayat ini menggunakan perumpamaan seorang wanita yang memintal benang dengan kuat, tetapi kemudian mengurainya kembali, untuk menggambarkan tindakan seseorang yang mengingkari perjanjian atau sumpahnya.

Berikut ini ayatnya,

وَلَا تَكُوْنُوْا كَا لَّتِيْ نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ اَنْكَا ثًا ۗ تَتَّخِذُوْنَ اَيْمَا نَكُمْ دَخَلًاۢ بَيْنَكُمْ اَنْ تَكُوْنَ اُمَّةٌ هِيَ اَرْبٰى مِنْ اُمَّةٍ ۗ اِنَّمَا يَبْلُوْكُمُ اللّٰهُ بِهٖ ۗ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَـكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ مَا كُنْـتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali. Kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Allah hanya menguji kamu dengan hal itu, dan pasti pada hari Kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.”
(QS An-Nahl : 92)

Ayat ini memberikan perumpamaan tentang orang yang mengingkari janji dan sumpahnya. Wanita pemintal benang yang mengurai kembali pintalannya dibiarkan sebagai orang yang tidak menepati janji, padahal janji itu sudah dibiarkan dengan sungguh-sungguh.

Tindakan mengingkari janji ini dianggap sebagai bentuk penipuan dan perbuatan yang buruk. Ayat ini juga mengingatkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjelaskan semua perselisihan yang terjadi pada hari kiamat.

Kisah Rithah al- Hamqa

Beberapa ulama menafsirkan ayat ini berkaitan dengan kisah seorang wanita bernama Rithah al-Hamqa (Rithah si Bodoh) pada masa Jahiliyah. Rithah diceritakan sebagai wanita yang selalu memintal benang, tetapi kemudian mengurainya kembali, sehingga benangnya tidak pernah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kisah ini menjadi perumpamaan bagi orang yang tidak menepati janji dan sumpahnya.

Pelajaran yang dapat diambil
Ayat ini mengajarkan pentingnya menepati janji dan sumpahnya. Menepati janji adalah tanda keimanan dan kejujuran. Mengingkari janji adalah perbuatan yang tercela dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

Wallahu a’lam bishshawab. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search