Pemerintah Jepang menilai warga negara Indonesia (WNI), khususnya komunitas Muslim, adalah pekerja keras, jujur, dan baik hati. Karena itu, Jepang sangat terbuka bagi pekerja asal Indonesia, sehingga menjadi negara dengan pertumbuhan tenaga kerja asing terbesar di Jepang.
Pernyataan itu disampaikan Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Myochin Mitsuru, dalam acara Buka Bersama Kedubes Jepang bersama tokoh Islam Indonesia, Senin (2/3/2026).
“Masyarakat Jepang saat ini menyadari bahwa komunitas Muslim Indonesia di Jepang adalah komunitas yang pekerja keras, jujur dan baik hati,” kata Myochin.
Dia mengaku belum lama bertugas di Indonesia. Namun, ia mencermati lonjakan signifikan jumlah pekerja Indonesia di Jepang. Jika sebelumnya mayoritas pekerja asing berasal dari Vietnam, kini tren itu berubah. “Data statistik menunjukkan bahwa jumlah pekerja asal Indonesia di Jepang meningkat pesat,” ungkapnya.
Menurutnya, penerimaan masyarakat Jepang terhadap Muslim Indonesia terlihat jelas, termasuk di wilayah pedesaan yang dikenal konservatif.
“Orang Jepang di daerah pedesaan, semacam daerah yang sangat tradisional, daerah konservatif, tetapi mereka menerima begitu banyak orang Indonesia. Ini membuktikan bahwa orang Jepang sekarang tidak ragu-ragu untuk menerima orang Muslim, tentu saja, termasuk orang-orang dari Indonesia,” ujarnya.
WNI Tembus 230 Ribu
Data Kementerian Kehakiman Jepang melalui Badan Pelayanan Imigrasi, mencatat jumlah WNI di Jepang pada Juni 2025 mencapai 230.689 orang. Angka tersebut meningkat 37,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan menempatkan Indonesia dalam enam besar warga asing di Jepang.
Peningkatan tersebut tak hanya mencerminkan mobilitas tenaga kerja, tetapi juga penguatan hubungan bilateral melalui jalur pendidikan, budaya, dan pertukaran pemuda. Sejak 2004, pemerintah Jepang mengundang lebih dari 190 pimpinan pesantren Indonesia ke Jepang.
Tahun ini, delapan pemuda dari NU, Muhammadiyah, Masjid Istiqlal, dan UIN diundang ke Tokyo dan Nagasaki guna memperkuat pemahaman lintas budaya. (*/tim)
