Warisan Terbaik Bukan Gelar, Tapi Iman

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Banyak orang tua merasa bangga saat anak-anaknya meraih gelar akademik tinggi, menempati posisi strategis, atau dikenal sebagai sosok berpengaruh di masyarakat.

Namun, dalam kebanggaan dunia yang semu itu, sering kali dilupakan bekal abadi yang seharusnya diwariskan: cahaya iman, salat yang khusyuk, dan pemahaman agama yang kokoh.

Tidak salah jika orang tua merasa bangga saat anaknya berhasil menjadi sarjana, bahkan meraih gelar doktor. Itu wajar.

Tetapi akan menjadi keliru jika kebanggaan itu menutupi pandangan terhadap kebutuhan yang lebih hakiki: kebutuhan anak terhadap agama, terhadap Allah, terhadap akhirat.

Dunia hanyalah tempat singgah sementara. Akhirat adalah tempat kembali yang kekal.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab terbesar orang tua bukanlah menjadikan anaknya doktor atau pejabat negara, melainkan menyelamatkan mereka dari api neraka. Keselamatan spiritual anak adalah warisan utama yang tidak boleh diabaikan.

Sungguh kerugian besar bila orang tua hanya fokus pada prestasi dunia, namun lalai dalam mendidik anak dengan nilai-nilai agama.

Anak-anak yang tidak diajarkan salat, tidak diperkenalkan Al-Qur’an, tidak dibiasakan berdoa, dan tidak diajak merasakan manisnya iman, bisa tumbuh menjadi generasi yang asing terhadap Rabb-nya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Maka, orang tua adalah pemimpin bagi anak-anaknya. Bila anak tidak salat, tidak mengaji, tidak mengenal adab Islam—maka orang tua adalah pihak pertama yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Sebagian orang tua merasa cukup dengan menyekolahkan anak di institusi ternama.

Namun, ketika ajal menjemput, dan ruh berpisah dari jasad, gelar akademik anak takkan mampu menggantikan suara doa mereka untukmu. Jabatan mereka takkan bisa menggantikan pahala salat jenazah yang mereka tak mampu tunaikan.

Betapa banyak anak yang hanya bisa terdiam saat orang tuanya wafat. Mereka tak tahu cara mensalatkan jenazah, tak tahu doa yang harus dibaca, bahkan harus membayar orang lain untuk mengurus semua itu karena mereka sendiri buta agama.

Inilah kegagalan pendidikan rumah tangga yang sebenarnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.” (QS. Ath-Thur: 21)

Ayat ini memberi harapan: jika keluarga saling terhubung dalam keimanan, Allah akan menyatukan mereka di surga.

Tapi bagaimana mungkin anak mengikuti orang tuanya dalam iman jika sejak kecil tidak pernah ditanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya?

Coba kita lihat realita hari ini. Berapa banyak anak yang pandai matematika, fasih berbahasa asing, tetapi tak mampu membaca satu ayat Al-Qur’an?

Berapa banyak yang piawai dalam teknologi, namun tak tahu bacaan rukuk dan sujud? Itu bukan sepenuhnya salah mereka. Sebagian besar karena kelalaian orang tua.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Tidak ada pemberian terbaik yang diberikan seorang ayah kepada anaknya selain adab yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Adab yang baik bersumber dari iman dan ilmu agama. Salat adalah adab terhadap Allah.

Menutup aurat adalah adab terhadap diri. Menjaga lisan dan akhlak adalah adab terhadap sesama.

Maka siapa yang mengajarkan adab kepada anak, berarti ia telah mewariskan perisai kehidupan.

Bukan berarti kita menolak pendidikan formal. Islam justru mendorong umatnya untuk menuntut ilmu.

Namun, semua ilmu harus dibingkai dalam cahaya iman. Tanpa agama, ilmu hanyalah alat, bukan arah. Tanpa iman, kesuksesan hanya tampak di dunia, tapi kosong di akhirat.

Anak-anak bukan sekadar aset dunia, tapi juga investasi akhirat. Jika mereka shalih, mereka akan terus mendoakan orang tuanya, bahkan setelah wafat.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Bayangkan, ketika ruhmu telah menghadap Allah, lalu anak-anakmu mengangkat tangan dan memohonkan ampunan untukmu. Bukankah itu nikmat yang tak bisa dibayar oleh gelar atau harta?

Maka, wahai para orang tua, jangan bersedih jika anakmu bukan doktor, bukan insinyur, bukan politisi. Sedihlah bila anakmu tidak mengenal Allah, tidak khusyuk dalam salat, dan tidak memahami hakikat hidup. Sedihlah jika anakmu tidak bisa menyentuh mushaf, apalagi membacanya.

Hidup ini sebentar. Kematian bisa datang kapan saja.

Jangan wariskan rumah megah yang kosong dari tilawah.
Jangan wariskan kendaraan mewah jika anakmu tak tahu arah ke masjid.
Wariskan iman.
Wariskan ilmu agama.
Wariskan cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Itulah warisan yang tak lapuk dimakan zaman.

Kita boleh bangga jika anak berhasil di dunia. Tapi banggalah terlebih dahulu jika anak kita mampu sujud di hadapan Allah, menangis dalam doa, dan menyebut nama kita dalam setiap salatnya.

Karena pada akhirnya, bukan gelar dunia yang menyelamatkan kita di alam kubur, tetapi anak-anak saleh yang mendoakan kita dengan air mata keikhlasan.

“Ya Allah, karuniakan kepada kami keturunan yang shalih, yang menjadi cahaya bagi dunia dan akhirat. Jadikan rumah kami sebagai madrasah cinta kepada-Mu. Aamiin.” (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search