***
Setelah semua urusan di pasar selesai, Yai Usman pulang dengan hati tenang. Malam hari, seperti biasa, Yai Usman menghitung keuangan usahanya. Yai Usman sengaja tak menaruh uangnya sepeser pun di bank. Terkesan konvensional memang, tapi dia merasa tenang bisa menyimpan uangnya sendiri.
Yai Usman memiliki sebuah kotak kayu kecil yang sudah bertahun-tahun setia menjadi tempat penyimpanan uangnya. Kotak itu diletakkan di sudut kamar, di bawah lemari tua yang sudah agak miring. Setiap malam, setelah menghitung hasil usahanya, Yai Usman menyelipkan lembaran-lembaran uang itu dengan hati-hati ke dalam kotak, sambil berdoa agar rezekinya selalu berkah.
Baginya, uang bukan sekadar alat tukar, tapi juga titipan yang harus dikelola dengan amanah. Meski sederhana, Yai Usman memiliki aturan yang ketat dalam mengelola keuangannya. Sepertiga untuk kebutuhan keluarga, sepertiga untuk modal usaha, dan sepertiga lagi ia sisihkan untuk sedekah.
“Menyimpan untuk dunia, tapi juga untuk akhirat,” gumamnya sambil tersenyum. Ia teringat pesan almarhum ayahnya yang dulu sering mengingat
Bulan ini, Yai Usman sudah meniatkan diri menyisihkan hasil usaha untuk membeli karpet baru bagi masjid. Karena karpet yang lama sudah terlihat lusuh dan kasar. Keinginan itu pun bisa ia wujudkan. Sore itu, ia membawanya ke masjid dengan hati riang.
Di masjid, ia menggantikan karpet lama. Tak ada yang memintanya, namun Yai Usman merasa ini adalah bagian dari tanggung jawabnya. Karena apa pun yang kita miliki, sekecil apa pun, harus bisa bermanfaat untuk orang lain.
Setelah selesai memasang karpet baru, Yai Usman duduk sejenak di salah satu sudut masjid. Ia memperhatikan karpet yang kini terlihat lebih bersih dan nyaman untuk digunakan. Senyum kecil menghiasi wajahnya saat membayangkan jamaah yang akan lebih khusyuk saat salat.
Tak lama, azan maghrib berkumandang. Beberapa jamaah mulai berdatangan. Mereka terlihat terkejut dan kagum melihat karpet baru yang terpasang rapi. “Masya Allah, siapa yang memasang karpet baru ini?” tanya salah seorang jamaah.
Yai Usman hanya tersenyum dan menjawab, “Ini semua dari Allah. Saya hanya berusaha menyisihkan sedikit rezeki yang saya punya untuk rumah-Nya.” Ucapannya sederhana, tapi membuat hati jamaah tersentuh.
Malam itu, masjid terasa lebih hangat. Tidak hanya karena karpet baru yang empuk, tetapi juga karena keikhlasan Yai Usman yang menyentuh hati banyak orang. Jamaah yang hadir sepakat untuk mendoakan kesehatan dan keberkahan bagi Yai Usman. Ia pun merasa bahwa kebahagiaan sejati memang datang dari berbagi, bukan dari memiliki.
Bagi Yai Usman, hidup adalah tentang kejujuran, kesahajaan, dan memberi. Ia percaya bahwa setiap tindakan baik, sekecil apa pun, adalah investasi menuju kehidupan yang lebih mulia.
Ia selalu mengajarkan kepada anak-anak muda di kampungnya bahwa rezeki bukanlah soal berapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa banyak yang bisa kita bagikan.
“Harta itu seperti air,” katanya suatu ketika, “jika ditahan terlalu lama, ia akan keruh dan tak berguna. Tapi jika dialirkan, ia akan membawa kehidupan.”
Kejujuran adalah prinsip yang tak pernah ia tawar. Dalam berdagang, Yai Usman selalu memastikan timbangan pas, harga wajar, dan tidak pernah mengambil keuntungan yang berlebihan.
Baginya, keberkahan lebih penting daripada sekadar keuntungan materi. Hal ini membuatnya dihormati, bukan hanya sebagai seorang pedagang, tetapi juga sebagai teladan dalam bermasyarakat.
Kesahajaan adalah cerminan hidupnya. Rumah Yai Usman sederhana, tanpa ornamen mewah. Namun, rumah itu selalu terbuka untuk siapa saja yang membutuhkan tempat berteduh atau sekadar berbagi cerita. Ia percaya bahwa kesahajaan bukan berarti kekurangan, melainkan kemampuan untuk merasa cukup dan bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah.
Dan memberi, itu adalah inti hidupnya. Setiap panen hasil kebun, sebagian selalu ia sisihkan untuk tetangga yang kurang mampu. Setiap kali ada rezeki lebih, ia gunakan untuk membantu perbaikan fasilitas umum, seperti masjid atau jalan kampung. Ia sering berkata, “Jika tangan kita sering memberi, Allah akan selalu membuat kita cukup, bahkan lebih.”
Hidup Yai Usman menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dalam kesederhanaannya, ia menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki segalanya, melainkan tentang bagaimana kita bisa menjadi manfaat bagi sesama. “Hidup ini singkat,” katanya, “jadilah cahaya bagi orang lain, meskipun kecil, karena gelap tak pernah bisa menang dari terang.”
