***
Malam itu, setelah menunaikan salat isya, Yai Usman duduk di serambi masjid. Ia merenungi perjalanan hidupnya yang sederhana namun penuh makna. Di tengah kesunyian malam, ia mengingat ayat Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidupnya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat itu senantiasa menguatkan langkahnya untuk terus menjaga kejujuran dan amanah, meskipun sering kali harus menghadapi godaan dunia. Baginya, rida Allah adalah tujuan utama, dan kejujuran adalah jalan menuju rida-Nya.
Sambil memandangi langit malam yang bertabur bintang, Yai Usman merasakan kedamaian yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Dalam hati, ia berdoa agar Allah selalu memberinya kekuatan untuk terus berada di jalan yang benar, jalan yang penuh dengan keikhlasan dan tanggung jawab.
Ia teringat bagaimana ayat itu telah menuntunnya dalam berbagai keputusan sulit. Seperti saat ia harus menyelesaikan sengketa tanah antarwarga beberapa tahun lalu. Meski kedua belah pihak mencoba memengaruhinya dengan berbagai tawaran, ia tetap teguh memutuskan perkara dengan adil, sesuai dengan kebenaran.
“Keadilan itu berat, tapi itulah amanah,” gumamnya saat itu. Keputusannya memang tidak membuat semua pihak senang, tetapi dalam jangka panjang, ia melihat bagaimana kebenaran akhirnya membawa kedamaian.
Di usianya yang sudah senja, Yai Usman merasa bersyukur bahwa ia masih diberi kesempatan untuk berbuat baik. Setiap hari baginya adalah kesempatan baru untuk menanam amal, seperti seorang petani yang menanam benih di ladang. Ia tidak pernah tahu kapan hasilnya akan dituai, tapi ia yakin Allah tidak pernah lalai mencatat setiap usaha hamba-Nya.
Malam semakin larut, namun hati Yai Usman terasa semakin terang. Ia mengambil Al-Qur’an yang selalu ia simpan di sudut serambi masjid, membacanya dengan khusyuk, menyelami setiap maknanya. Di sela-sela bacaannya, ia berdoa, “Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang selalu menjaga amanah-Mu. Bimbinglah aku agar tetap berada di jalan-Mu, hingga akhir hayatku.”
Bagi Yai Usman, hidup bukan tentang seberapa banyak yang telah ia capai, melainkan seberapa banyak ia bisa memberi manfaat. Ia percaya bahwa setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah investasi menuju keabadian, investasi untuk mendapatkan senyum rida Allah di akhirat nanti. (*)
Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News
