Dalam menjalani kehidupan, ada beberapa hal penting yang perlu senantiasa kita jaga dan ingat. Hal-hal ini bukan sekadar nasihat biasa, melainkan fondasi utama dalam membentuk pribadi yang utuh, baik secara lahir maupun batin.
Jagalah pikiranmu, karena pikiran akan membentuk ucapan. Jagalah ucapanmu, karena ucapan akan menjadi tindakan. Jagalah tindakanmu, karena tindakan akan menjadi kebiasaan. Jagalah kebiasaanmu, karena kebiasaan akan membentuk karakter.
Dan jagalah karaktermu, karena karakter akan menentukan nasibmu. Semua berawal dari apa yang ada di dalam pikiran dan hati kita. Maka, penting bagi setiap manusia untuk selalu berhati-hati dan bijak dalam berpikir serta bersikap.
Secara khusus, kita juga diingatkan untuk menjaga lisan dan ucapan kita. Di mana pun kita berada dan dengan siapa pun kita berinteraksi, berhati-hatilah dalam berbicara.
Sebab, kata-kata yang terucap dapat menenangkan hati, namun juga dapat melukai dan meninggalkan bekas yang mendalam.
Kata-kata yang menyakitkan memang bisa dimaafkan, tetapi tidak mudah untuk dilupakan. Maka, membiasakan diri berkata baik dan santun merupakan bagian penting dari akhlak mulia.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:
“Ketahuilah bahwa di dalam jasad ini terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh ini, dan jika ia buruk, maka buruklah seluruh tubuh ini. Ketahuilah, bahwa ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan kita bahwa perbaikan diri sejati dimulai dari dalam hati. Jika hati kita bersih, maka seluruh aspek kehidupan akan mencerminkan kebaikan itu.
Karena itu, perbaikilah urusan akhiratmu, maka Allah Ta’ala akan memperbaiki urusan duniamu. Perbaikilah batinmu, niscaya Allah Ta’ala akan memperbaiki keadaan lahirmu.
Kematian adalah keniscayaan bagi setiap makhluk yang bernyawa. Namun, ada yang lebih menakutkan dari kematian itu sendiri, yaitu kelalaian dalam menghadapinya.
Banyak orang yang terbuai oleh dunia, lupa bahwa hidup ini adalah persiapan menuju akhirat. Mereka berpaling dan jarang mengingat kematian, serta meninggalkan amal shalih yang seharusnya menjadi bekal utama saat meninggalkan dunia.
Ingatlah, seseorang akan meninggal sesuai dengan kebiasaan dan keadaan yang dijalaninya semasa hidup. Jika seseorang terbiasa dalam ketaatan dan kebaikan, maka itu pula yang akan menjadi penolong dan pengingatnya menjelang ajal tiba.
Sebaliknya, jika hidup dipenuhi maksiat dan kelalaian, maka sangat dikhawatirkan itu pula yang akan menjadi penutup dari kehidupannya.
Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-‘Ashr:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran serta saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)
Ayat ini menegaskan bahwa waktu adalah amanah yang tak bisa kembali. Setiap detiknya adalah peluang untuk berbuat kebaikan dan menjauhi keburukan.
Karena itu, marilah kita membiasakan diri untuk berbuat baik, menjaga pikiran dan perilaku, serta membangun kebiasaan untuk saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan keluarga kita, baik secara lahir maupun batin. Semoga kita semua dilindungi dari berbagai penyakit, bencana, dan kesulitan hidup.
Semoga kita dijadikan sebagai pribadi yang bermanfaat bagi sesama, mampu menjaga lisan dan perbuatan, dan tetap istikamah dalam kebaikan. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin. (*)
