Yussi Perdana, Kader Muhammadiyah yang Sukses Bangun Teknologi Radar Nasional

www.majelistabligh.id -

Tak banyak anak muda Indonesia yang berani menembus industri strategis pertahanan. Tapi Yussi Perdana, kader Muhammadiyah yang dibesarkan di lingkungan Angkatan Muda Masjid Al Jihad (AMMA) Banjarmasin, membuktikan bahwa tekad dan ilmu bisa membawa anak bangsa ke pentas nasional, bahkan internasional.

Lahir dan besar di Banjarmasin, Yussi tumbuh dalam semangat organisasi remaja masjid. Di AMMA yang dulunya bernama RMJ (Remaja Masjid Al Jihad), ia tak hanya belajar agama, tapi juga menempa jiwa kepemimpinan dan semangat memberi manfaat bagi umat.

“Pengalaman saya di AMMA sangat berharga. Dari sanalah saya belajar arti tanggung jawab dan kerja sama,” kenangnya seperti dilansir di laman resmi PP Muhammadiyah, pada Kamis (17/4/2025).

Setelah menamatkan pendidikan di SMP Tsanawiyah, Yussi melanjutkan sekolah ke SMK Telkom Banjarbaru, mengambil jurusan informatika.

Di sana, kecintaannya pada teknologi mulai tumbuh. “Di SMK itulah saya pertama kali jatuh cinta pada dunia teknologi. Rasanya dunia ini begitu luas dan menarik untuk dieksplorasi,” ujarnya.

Kecintaan itu membawanya ke Bandung, kuliah di Universitas Telkom mengambil jurusan Teknik Telekomunikasi. Meski hidup di perantauan, Yussi tak menyia-nyiakan waktunya.

Dia aktif menjadi asisten dosen untuk menambah uang saku, dan bahkan ikut dalam berbagai riset teknologi. Sambil menyelesaikan skripsi, ia nyambi menjadi asisten peneliti di LIPI.

“Saya ingin terus belajar dan mencari pengalaman. Karena itu, setelah lulus, saya memutuskan untuk tetap tinggal di Jawa dan melanjutkan kuliah S2 di ITB lewat jalur beasiswa. Alhamdulillah, orang tua mendukung,” ujarnya.

Puncak kiprah Yussi dimulai pada 5 Februari 2016, ketika ia dan beberapa rekannya mendirikan PT Radar Telekomunikasi Indonesia (RTI)—perusahaan yang bergerak di bidang radar, telekomunikasi, dan sistem informasi pertahanan.

Di bawah binaan Kementerian Pertahanan RI, PT RTI menjadi salah satu pelopor pengembangan teknologi radar lokal dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) tinggi.

Produk-produk radar yang mereka kembangkan digunakan oleh berbagai lembaga negara, terutama TNI. Mulai dari radar pertahanan udara, radar pelacak senjata, hingga radar pantai—semua dirancang untuk memperkuat sistem pertahanan nasional.

Bahkan, salah satu produk mereka sempat menarik perhatian Pemerintah Arab Saudi, dengan tawaran investasi Rp 80 miliar.

Namun Yussi menolak tawaran menggiurkan itu. “Mereka ingin saya pindah kewarganegaraan dan tinggal di Saudi minimal lima tahun. Rasanya berat, karena saya ingin tetap berkontribusi untuk negeri sendiri,” ucapnya mantap.

Kini, Yussi tak hanya fokus pada pengembangan teknologi. Ia juga mengikuti perkembangan kampung halamannya dan masjid tempat ia tumbuh. Ketika ditanya tentang Masjid Al Jihad, ia mengapresiasi kemajuan pesat yang terjadi.

“Masjidnya sekarang makin megah. Informasi digitalnya juga maju. Ada radio, website, sosial media, dan kajian online,” katanya bangga.

Yussi juga memuji layanan sosial masjid, seperti layanan jenazah profesional dengan mobil ambulans Toyota Alphard, toilet berstandar hotel berbintang, hingga layanan penyembelihan kurban yang bisa menyelesaikan hingga 90 sapi dalam sehari, terbanyak se-Indonesia.

Untuk generasi muda Muhammadiyah, Yussi memberikan pesan inspiratif. “Pegang teguh nilai agama. Turuti arahan orang tua.

Jangan lupa bersedekah, selalu berbuat baik, terus belajar, dan bangun silaturahmi. Dan yang paling penting, pandai melihat peluang,” ujarnya.

Perjalanan Yussi adalah bukti bahwa kader Muhammadiyah bisa memberi warna dalam industri strategis nasional. Dari remaja masjid hingga membangun teknologi radar, ia menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam, ilmu, dan kerja keras bisa menjadi fondasi kuat untuk membangun masa depan bangsa. (*/wh)

Tinggalkan Balasan

Search