Zakat Dikembangkan Menjadi Instrumen Perlindungan Sosial Umat

Kemenag memberikan bantuan Al Quran dan kitab Iqro pada penyintas banjir Sumatra. (ist)
www.majelistabligh.id -

Melalui skema sinergi nasional zakat, dana umat dikonversi mulai dari 385 ribu porsi makanan siap saji, hingga pembangunan 1.000 unit rumah sementara untuk menjamin keberlanjutan hidup penyintas di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Karena itu, Kementerian Agama memperkuat peran zakat sebagai instrumen perlindungan sosial keagamaan dalam penanganan bencana di Sumatra.

Pendekatan ini dikembangkan Kementerian Agama melalui Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Ditjen Bimas Islam, yang mendorong perubahan paradigma pengelolaan zakat dari sekadar bantuan karitatif menjadi sistem perlindungan sosial umat yang bekerja dari fase darurat hingga pemulihan.

Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama, Waryono Abdul Ghafur, menegaskan bahwa arah kebijakan ini menempatkan zakat sebagai bagian dari sistem jaminan sosial umat.

“Zakat tidak boleh berhenti sebagai respons darurat. Ia harus bekerja sebagai sistem perlindungan sosial umat—menjaga agar penyintas tetap memiliki akses pangan, air bersih, pendidikan, listrik, dan konektivitas untuk memulihkan kehidupannya,” ujarnya.

Dengan pendekatan ini, zakat tidak lagi semata bergerak berdasarkan empati sesaat, tetapi menjadi instrumen kebijakan sosial-keagamaan yang menopang daya tahan masyarakat di tengah krisis yang semakin kompleks dan berulang.

Berdasarkan data Kemenag, pada tahap tanggap darurat, sinergi nasional zakat bersama BAZNAS dan berbagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) memastikan kebutuhan dasar penyintas tetap terpenuhi. Tercatat 385.330 porsi makanan siap saji telah disalurkan, dengan rincian 276.656 porsi di Aceh, 57.472 porsi di Sumatra Utara, dan 51.202 porsi di Sumatra Barat. Selain itu, 239.021 paket sembako dan logistik keluarga juga didistribusikan untuk menjaga ketahanan pangan rumah tangga di wilayah terdampak.

Di sektor kesehatan, zakat menopang layanan di 37 titik pos kesehatan—19 titik di Aceh, 9 di Sumatra Utara, dan 9 di Sumatra Barat—yang telah melayani 10.497 jiwa. Seluruh layanan ini didukung oleh 5.874 relawan dan personel respon yang terjun langsung di lapangan untuk memastikan bantuan sampai dan berfungsi secara berkelanjutan.

Memasuki fase pemulihan, zakat diarahkan pada intervensi yang lebih struktural. Dompet Dhuafa membangun 1.000 unit Rumah Sementara (Rumtara) di tiga provinsi terdampak, dengan 200 unit ditargetkan selesai pada Januari 2026. Sementara itu, Rumah Zakat membangun 100 unit hunian sementara (huntara) di Aceh Utara yang dibarengi dengan pelatihan konstruksi kayu bagi warga agar proses pemulihan turut memperkuat kapasitas masyarakat lokal.

Zakat juga digunakan untuk menjaga keberlanjutan layanan dasar. Di bidang pendidikan dan keagamaan, disalurkan 29 ribu mushaf Al-Qur’an dan buku Iqra, serta 3.548 paket bantuan pendidikan siswa.

Untuk air bersih dan sanitasi, zakat mendukung distribusi 1,3 juta liter air bersih, pembangunan 60 sumur bor, dan pengadaan 10 unit alat filter air siap minum. Untuk memastikan wilayah terdampak tetap terhubung, turut disediakan 35 unit genset dan 15 perangkat Starlink. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search