Memperingati Hari Buruh Internasional yang jatuh pada 1 Mei, guru dan siswa SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk mengadakan ziarah ke makam Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Nganjuk, pada Selasa (30/4/2025). Kegiatan ini bertujuan mengenalkan sosok Marsinah, pejuang hak buruh sekaligus alumni sekolah tersebut pada tahun 1982, yang gugur dalam memperjuangkan keadilan bagi kaum pekerja.
Ziarah dipimpin oleh guru sejarah, Fascal Wilanda Pamungkas, S.Pd., bersama sejumlah perwakilan siswa. Mereka berharap kegiatan ini menjadi media pembelajaran kontekstual tentang sejarah perjuangan buruh, terutama dari sudut pandang peran perempuan.
Kepala SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk, Nurul Fajarianan, S.Pd., menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif para guru sejarah sebagai bagian dari pendidikan karakter dan penguatan sejarah lokal.
“Kami mendukung penuh kegiatan ini. Ini bukan sekadar kunjungan, tapi usaha untuk mengenalkan siswa pada sosok pejuang keadilan yang berasal dari sekolah mereka sendiri,” jelasnya.

Marsinah adalah alumni angkatan 1982 yang dikenal vokal dalam memperjuangkan hak-hak buruh. Ia bekerja di PT Catur Putra Surya (CPS), Sidoarjo, dan aktif menuntut upah layak bagi pekerja. Pada 3 Mei 1993, setelah memprotes pemutusan hubungan kerja terhadap rekan-rekannya yang melakukan mogok kerja, Marsinah dilaporkan hilang. Tiga hari kemudian, jasadnya ditemukan di hutan Wilangan, Nganjuk, dalam kondisi mengenaskan. Autopsi menunjukkan ia mengalami penyiksaan berat sebelum meninggal dunia.
Hingga kini, pelaku pembunuhan Marsinah belum terungkap. Kasusnya mendapat perhatian luas dari masyarakat nasional maupun internasional, dan Marsinah dikenang sebagai simbol perjuangan buruh Indonesia.
Fascal Wilanda menekankan bahwa ziarah ini adalah bentuk pendekatan pembelajaran sejarah yang menyentuh dan bermakna.
“Siswa harus memahami bahwa sejarah bukan hanya masa lalu, tetapi juga tentang nilai-nilai keadilan yang harus terus diperjuangkan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan pentingnya mengenalkan sosok perempuan dalam sejarah perjuangan bangsa. “Marsinah adalah contoh nyata perempuan tangguh yang layak dijadikan teladan, terutama dalam memperjuangkan keadilan dan hak perempuan,” imbuhnya.
Dalam kegiatan ziarah tersebut, para siswa mengikuti doa bersama secara khusyuk. Beberapa di antaranya mengaku terinspirasi oleh kisah hidup Marsinah.
“Saya baru tahu kalau beliau alumni sekolah kami. Saya jadi ingin tahu lebih banyak tentang perjuangan buruh,” ujar salah satu siswi kelas XI.
Kegiatan diakhiri dengan refleksi bersama di halaman makam. Sekolah berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan empati sosial dan kepedulian terhadap isu-isu keadilan di kalangan pelajar.
Ke depan, SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk berencana menjadikan ziarah ke makam Marsinah sebagai agenda rutin tahunan. Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap Marsinah, kegiatan ini juga akan menjadi bagian dari kurikulum sejarah lokal sekolah.
“Marsinah adalah ikon kebanggaan sekolah dalam memperjuangkan keadilan. Semangatnya akan terus hidup melalui generasi muda penerusnya,” tutup Kepala Sekolah, Nurul Fajarianan.
Dengan kegiatan ini, SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk menegaskan komitmennya dalam pendidikan berbasis nilai, sejarah kontekstual, dan kearifan lokal. (m roissudin)
