Kita berada di ujung bulan Ramadan tahun 1447 H. Sebulan kita telah menunaikan ibadah puasa dengan rangkaiannya seperti qiyamul lail ( tarawih), tadarus Alquran, iktikaf, dzikir, wirid dan lain sebagainya.
Semua itu kita kerjakan dengan semangat karena keimanan dan ketakwaan. Sungguh tanpa kita sadari bahwa keimanan dan ketakwaan inilah yang mendorong kita untuk mampu melakukan bentuk penghambaan kita kepada Allah SWT. Bisa melakukan itu semua bukanlah perkara ringan tanpa hidayah Allah SWT.
Berpuasa merupakan syariat tahunan umat Islam. Dengan berpuasa diharapkan manusia menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa, dan di luar bulan Ramadan ada pula puasa puasa sunah, seperti puasa 6 hari di bulan Syawal, puasa ayyaamul bidh (puasa tengah bulan), puasa Senin dan Kamis, puasa dawud.
Berikut ini 4 pilar tujuan puasa sebagai pengendali jiwa kita :
1. Takwinun nafs (pembentuk jiwa), yaitu jiwa yang beriman dan bertakwa. Ibadah puasa hanya mampu dilakukan oleh orang yang jiwanya memiliki keimanan dan ketakwaan, tanpa landasan itu maka mustahil manusia mampu melakukan nya.
2. Islahun Nafs (perbaikan diri). Bulan Ramadan merupakan momen untuk mengkoreksi diri, sejauh mana amalan yang telah kita persiapkan, dan sudah sebaik apa kita ini dihadapan Sang pencipta Allah SWT.
Sekiranya di luar Ramadan, kita adalah hamba yang kurang baik salatnya maka, di bulan Ramadan kita perbaiki salat kita. Kalau di luar bulan Ramadan, kita kurang dalam membaca, tadarus, dan mentadabburi Al Qur’an maka di Bulan Ramadan kita memperbanyak membaca Al Qur’an.
3. Kaffaratudh Dhunub (Self – remedial) atau upaya untuk menebus kesalahan dan dosa kita di masa silam. Tidak ada anak adam (manusia) yang hidup di dunia ini tanpa dosa dan kesalahan, hadits Rasulullah:
کل بنی أدم خطاء وخیر الخطاٸين التوابون
“setiap anak adam pasti memiliki kesalahan/dosa, dan sebaik baik orang bersalah itu adalah yang bertaubat. (HR. Tirmidzi) .
4. Tazkiyatun Nafs ( Penyucian jiwa). Ibarat kain putih yang kita jaga kesucian nya maka kain putih tersebut jangan sampai di dekatkan kotoran atau zat zat yang bisa mengotorinya, demikian juga diri kita yang berupaya tetap bersih dan suci maka kita jauhi perbuatan perbuatan munkar dan maksiat.
Dengan demikian jiwa kita menjadi bersih dan suci karena kita berupaya mendekat kepada Allah SWT untuk memohon perlindungan terhadap jiwa kita. Allah sangat mencintai hambanya yang selalu bertaubat dan menjaga kesucian jiwanya sebagaimana firman Nya :
إن الله يحب التوابین ويحب المتطهرین
” Sesungguhnya Allah mencintai hambanya yang bertaubat dan mensucikan diri ”
(Q.S. Al Baqarah : 222).
Kita akhiri Ramadan dengan jiwa yang kembali bersih, dan termasuk manusia muflihun (menang) atau sukses di hadapan Allah SWT. Minal Aidin wal faizin, kullu ‘aamin wa antum bikhoirin. (*)
