Penolakan Alquran dan Ancaman Regenerasi
foto: iha photo
UM Surabaya

*) Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari

Alquran sebagai kitab suci yang diturunkan dari Yang Maha Agung akan memuliakan seorang hamba.

Bahkan sebagai karunia terbesar, Alquran ini lebih baik daripada harta yang dikumpulkan manusia.

Namun tidak sedikit di antara manusia yang menolak dan mencampakkannya sebagi pedoman hidupnya.

Allah pun mengancam tidak akan memperdengarkan Alquran dan ini berarti membiarkan hidup tanpa arah.

Ketika hidup tanpa arah berarti menghancurkannya. Di saat kehancuran generasi yang mencampakkan Alquran ini, maka Allah mendatangkan generasi baru yang jauh lebih baik.

Bergembira dengan Alquran 

Kalau mukjizat nabi dan rasul terdahulu sudah lenyap bersamaan meninggalnya beliau, namun berbeda dengan mukjizat Nabi Muhammad.

Alquran sebagai mukjizat terbesar beliau masih bisa dilihat dan dirasakan umat Islam hingga saat ini. Oleh karena itu, sebagai umat Islam pantas untuk bersyukur atas nikmat besar ini.

Dikatakan nikmat terbesar karena Alquran akan membimbing dan mengantarkan umat Islam menjadi umat yang mulia.

Sejarah telah membuktikan sejarah kejayaan generasi sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in sehingga menjadi negara besar dan agung.

Ketika berpegang teguh dengan Alquran , maka Allah langsung ikut membimbing dan mewujudkan cita-citanya. Oleh karenanya, pantas apabila manusia memuliakan-Nya. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَـفْرَحُوْا ۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus : 58)

Allah menegaskan bahwa Alquran nerupakan kitab suci yang mendatangkan kemuliaan, dan manusia pilihan yang bisa bergembira atas Kalamullah ini.

Allah pun menyatakan bahwa Alquran lebih baik daripada apapun yang dikumpulkan manusia.

Pencampakan Alquran

Allah memilih masyarakat tertentu yang dikehendaki untuk membuka hati untuk menerima Alquran. Artinya, tidak semua komunitas mau menerima pesan dan nasihat Alquran.

Allah pun mengabadikan masyarakat yang enggan menerima Alquran . Bahkan tidak sedikit di antara masyarakat yang menolak dan meremehkannya.

Menghadapi penolakan terhadap Alquran ini, Allah pun memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk bersikat tegas.

Nabi diminta untuk menegaskan dengan ancaman yang keras, ketika menolak Alquran. Ancaman keras ini layak diberitakan, karena karakter dan watak Nabi Muhammad sudah mereka kenal sebelumnya.

Hal ini dinarasikan Alquran sebagaimana firman-Nya:

قُلْ لَّوْ شَآءَ اللّٰهُ مَا تَلَوْتُهٗ عَلَيْكُمْ وَلَاۤ اَدْرٰٮكُمْ بِهٖ ۖ فَقَدْ لَبِثْتُ فِيْكُمْ عُمُرًا مِّنْ قَبْلِهٖ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Jika Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu.”

Aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya (sebelum turun Alquran). Apakah kamu tidak mengerti?” (QS. Yunus : 16)

Menolak Alquran dengan menuduh Nabi Muhammad sebagai manusia kurang waras atau mengada-ada, sama saja mengalamatkan tuduhan itu pada Allah.

Atas tuduhan ini, maka Allah akan melenyapkan generasi ini, dan menggantikannya dengan generasi baru yang merespons lebih bergairah dan tulus.

Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :

هٰۤاَ نْـتُمْ هٰۤؤُلَآ ءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۚ فَمِنْكُمْ مَّنْ يَّبْخَلُ ۚ وَمَنْ يَّبْخَلْ فَاِ نَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَّـفْسِهٖ ۗ وَا للّٰهُ الْغَنِيُّ وَاَ نْـتُمُ الْفُقَرَآءُ ۚ وَاِ نْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَـبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ۙ ثُمَّ لَا يَكُوْنُوْۤا اَمْثَا لَـكُم

“Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada orang yang kikir, dan barang siapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri.

Dan Allah-lah Yang Maha Kaya, dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu.” (QS. Muhammad : 38)

Generasi-generasi terdahulu telah dilenyapkan karena menolak kebenaran dan digantikan oleh kaum yang lebih cinta kepada Allah.

Penolakan terhadap Alquran ini tidak lepas dari pengaruh dunia atau kekuasaan. Heraklius, Raja Romawi, merupakan contoh manusia yang hampir masuk Islam ketika mendapatkan penjelasan dari Abu Sufyan tentang Muhammad.

Namun Heraklius tiba-tiba berbalik menolak Islam karena khawatir kekuasaannya yang lepas.

Hal yang sangat tragis dialami oleh Raja Persia, Kisra, yang merobek-robek surat ajakan dari Nabi Muhammad untuk memeluk Islam.

Kesombongan yang ditunjukkan Kisra berbuntut terkoyak-koyaknya kerajaannya, dia mati dibunuh anaknya sendiri dalam peristiwa kudeta berdaya.

Allah turun tangan untuk meruntuhkan kerajaan Kisra karena meremehkan ajakan Nabi untuk masuk Islam.

Hal ini berbeda dengan raja Najasyi, yang bernama Ashamah yang menerima Islam. Hatinya yang tulus membuat Ashamah menerima Islam, lewat sahabat Ja’far bin Abi Thalib.

Sebagai raja tidak memungkinkan untuk mendeklarasikan keislamannya. Beliau memilih untuk menyembunyikan keislamannya hingga kematiannya.

Ketika Rasulullah mendengar beliau pun, maka Nabi Muhammad mengadakan shalat jenasah untuknya.

Demikianlah akhir kehidupan Raja Najasyi (Ashamah) yang memuliakan Islam akan diagungkan kerajaannya, sementara yang menolak dan melecehkan Islam, seperti Raja Kisra maka Allah merendahkan dan menghinakannya.

Ketika menolak Islam, maka Allah menggantikannya dengan generasi yang lebih baik dan lebih mengagungkan Islam. (*)

Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini