Tujuh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) resmi meluncurkan 24 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dalam seremoni yang digelar di Ballroom University Hotel UMY, Yogyakarta. Peluncuran dilakukan langsung oleh Mendiktisaintek Prof. Brian Yuliarto, M.Eng, PhD dan dihadiri pimpinan PP Muhammadiyah serta perwakilan tujuh kampus Muhammadiyah yang membuka program tersebut. Momentum ini menandai babak baru kontribusi PTMA dalam memperkuat layanan kesehatan nasional.
Dalam sambutannya, Mendiktisaintek Prof. Brian Yuliarto menegaskan, pembukaan 24 program studi PPDS di lingkungan PTMA merupakan langkah strategis untuk menjawab kebutuhan dokter spesialis yang masih belum merata.
“Ini merupakan upaya Muhammadiyah dalam mewujudkan Indonesia sehat dan bermartabat,” ujarnya saat pembukaan. Ia menilai inisiatif tersebut sejalan dengan agenda pemerintah dalam mempercepat peningkatan kualitas dan distribusi tenaga medis spesialis di berbagai daerah.

Ketua PP Muhammadiyah, Dr dr Agus Taufiqurrahman, yang hadir mewakili Ketua Umum PP Muhammadiyah, menyampaikan, pengembangan PPDS menjadi bagian dari penguatan amal usaha bidang kesehatan. “Muhammadiyah terus meningkatkan layanan kesehatan terbaik bagi semua, bukan hanya warga Muhammadiyah tetapi masyarakat Indonesia,” ucapnya.
Ia menambahkan, pendidikan dokter spesialis di PTMA diharapkan melahirkan tenaga medis yang unggul secara profesional sekaligus berjiwa pengabdian.
Peluncuran ini dihadiri langsung oleh tujuh kampus Muhammadiyah yang resmi membuka PPDS. Ketujuhnya adalah Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Makassar, Universitas Muhammadiyah Semarang, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Universitas Muhammadiyah Surabaya, Universitas Muhammadiyah Surakarta, serta Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kehadiran langsung pimpinan dan sivitas akademika dari masing-masing kampus mempertegas kesiapan institusi dalam menyelenggarakan pendidikan dokter spesialis secara optimal.
Rinciannya, Universitas Muhammadiyah Jakarta membuka Ilmu Bedah, Penyakit Dalam, dan Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Universitas Muhammadiyah Makassar menghadirkan Kedokteran Emergensi serta Anestesiologi dan Terapi Intensif. Universitas Muhammadiyah Semarang membuka Obstetri dan Ginekologi.
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara serta Universitas Muhammadiyah Surakarta masing-masing membuka Kedokteran Keluarga Layanan Primer, sementara Universitas Muhammadiyah Surabaya membuka Patologi Klinik.
Adapun Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjadi PTMA dengan jumlah program terbanyak, yakni 12 program studi, meliputi Ilmu Bedah, Obstetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Anak, Ortopedi dan Traumatologi, Radiologi, Psikiatri, Anestesiologi dan Terapi Intensif, Jantung dan Pembuluh Darah, Patologi Klinik, Kedokteran Keluarga Layanan Primer, Neurologi, serta Ilmu Kesehatan Mata. Langkah ekspansif ini dinilai sebagai bentuk kesiapan infrastruktur, sumber daya dosen, serta dukungan rumah sakit pendidikan yang dimiliki jaringan Muhammadiyah.
Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Prof Dr Mundakir, turut menyampaikan apresiasi atas peluncuran tersebut. Menurutnya, kehadiran PPDS di lingkungan PTMA akan mempercepat lahirnya dokter spesialis yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Kami optimistis, dengan kolaborasi antar-PTMA dan dukungan pemerintah, program ini akan memperkuat kualitas layanan kesehatan nasional. PPDS bukan sekadar pengembangan akademik, tetapi wujud tanggung jawab sosial perguruan tinggi Muhammadiyah untuk menghadirkan dokter spesialis yang kompeten dan berintegritas,” tegasnya.
Dengan diluncurkannya 24 PPDS di tujuh PTMA ini, Muhammadiyah kembali menegaskan perannya sebagai salah satu pilar utama pendidikan dan kesehatan di Indonesia. Diharapkan, program ini menjadi awal lahirnya dokter-dokter spesialis yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga memiliki komitmen sosial dan integritas tinggi dalam melayani bangsa. (m roissudin)
