Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, DR. KH. Sholihin Fanani, menegaskan bahwa kiprah dakwah Muhammadiyah kini semakin meluas hingga ke berbagai penjuru dunia. Menurut pria yang akrab disapa Abah Shol ini, Muhammadiyah telah membuktikan dirinya sebagai salah satu komponen penting dalam kemajuan Indonesia berkat pengamalan visi lima hal yang diwariskan oleh pendirinya, KH. Ahmad Dahlan.
Abah Shol menjelaskan, eksistensi Muhammadiyah tidak hanya diukur dari besarnya jumlah massa, tetapi dari seberapa besar dampak nyata yang diberikan terhadap pembangunan manusia Indonesia.
“Kontribusi Muhammadiyah bisa dilihat dari upaya mengatasi kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat sektor sosial-ekonomi, dan menjaga kemurnian ajaran Islam di tengah tantangan global,” ujarnya di Surabaya, Senin (29/9/2025).
Ia menuturkan bahwa jauh sebelum kemerdekaan, Muhammadiyah telah berjuang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa Indonesia.
“Sejak awal berdiri, Muhammadiyah tidak pernah berhenti mengabdikan diri bagi kepentingan bangsa. Inilah yang membedakan gerakan Muhammadiyah dengan organisasi lainnya,” kata Abah Shol.
Lebih lanjut, Abah Shol menyebut lima hal pokok yang diperjuangkan KH. Ahmad Dahlan sebagai fondasi gerakan Muhammadiyah. Pertama, memerangi kebodohan melalui pendidikan yang luas dan berjenjang. Kedua, memerangi kemiskinan dengan memberdayakan masyarakat agar mandiri. Ketiga, memurnikan ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan Sunnah. Keempat, membentuk manusia Indonesia seutuhnya, yaitu sehat lahir dan batin. Kelima, membendung pengaruh negatif dari luar yang berpotensi merusak moral generasi bangsa.
Menurut Abah Shol, kelima visi tersebut bukan sekadar wacana, tetapi terus diwujudkan melalui program-program konkret. Di bidang pendidikan, Muhammadiyah mendirikan ribuan sekolah, perguruan tinggi, dan pesantren modern di berbagai daerah.
Sesuai data Simam per 2023, Muhammadiyah memiliki 172 institusi PTMA (terdiri atas 83 universitas, 53 sekolah tinggi, dan 36 bentuk lainnya. Sedangkan SD/MI sekitar 2.453 unit, SMP/MTs sekitar 1.599 unit, dan SMA/MA/SMK sekitar 1.294 unit.
Sementara di bidang kesehatan, Muhammadiyah memiliki 122 rumah sakit, plus 20 rumah sakit dalam proses serta 231 klinik. Mereka melayani masyarakat luas, termasuk mereka yang kurang mampu.
Pada sektor sosial dan ekonomi, lanjut Abah Shol, Muhammadiyah juga mengembangkan program pemberdayaan masyarakat, pengelolaan zakat, infak, dan wakaf, serta pembinaan usaha kecil dan menengah.
Aset wakaf yang dikelola Muhammadiyah juga cukup besar: lebih dari 20.465 lokasi wakaf, dengan luas tanah wakaf mencapai ± 214.742.677 m² (Data Simam 09/2023).
“Semua ini bukti nyata bahwa Muhammadiyah tidak hanya bicara di tingkat konsep, tetapi hadir dengan aksi nyata di lapangan,” tegasnya.
Angka-angka tersebut, lanjut Abah Shol adalah bukti konkret bagaimana visi “lima hal” KH. Ahmad Dahlan—yaitu memerangi kebodohan, memerangi kemiskinan, memurnikan ajaran Islam, membentuk manusia seutuhnya, dan membendung pengaruh negatif dari luar—telah diformulasikan ke dalam institusi nyata.
Abah Shol menilai, keberhasilan Muhammadiyah di kancah internasional juga tak lepas dari komitmen pada lima visi tadi. Cabang-cabang Muhammadiyah kini berdiri di berbagai negara, menjadi pusat dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial bagi masyarakat Indonesia di luar negeri. “Itu menunjukkan bahwa Muhammadiyah bukan hanya milik bangsa Indonesia, tetapi juga membawa nilai-nilai Islam berkemajuan di tingkat global,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Abah Shol mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk terus menguatkan peran strategis organisasi ini dalam pembangunan nasional dan global.
“Dengan tetap berpegang pada visi yang diajarkan KH. Ahmad Dahlan, kita dapat memperkuat kontribusi Muhammadiyah bagi kemajuan bangsa dan umat manusia,” tegasnya. (m.roissudin)
