Balasan atas perbuatan dosa tidak selalu menunggu kehidupan di akhirat. Ada perbuatan-perbuatan tertentu yang siksaannya dapat disegerakan oleh Allah Swt sewaktu manusia masih hidup di dunia.
Hal tersebut ditegaskan oleh Dewan Pakar Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, KH. Muhyiddin Junaidi, di Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat.
“Para pendosa tersebut akan diturunkan siksaan di dunia sebelum di akhirat. Jadi, ada down payment siksaan, tidak harus menunggu sampai tibanya kiamat,” ujar Kiai Muhyiddin.
Ia merincikan setidaknya ada empat dosa besar yang mendatangkan azab langsung di dunia sekaligus siksaan di akhirat kelak, yakni:
- Melakukan Kezaliman dan Penyalahgunaan Amanah
Kezaliman tidak hanya dilakukan oleh orang awam, tetapi juga acap kali melibatkan figur yang berpendidikan, berkedudukan, hingga pemegang kekuasaan—khususnya dalam bentuk penyalahgunaan jabatan demi kepentingan pribadi atau kelompok.
Ia mengingatkan bahwa kezaliman berdampak sistemik terhadap masyarakat. Merujuk QS. Al-Kahfi ayat 59, suatu bangsa atau negeri dapat dibinasakan akibat kezaliman yang dibiarkan. Oleh karena itu, umat Islam dilarang bersikap apatis.
“Kalau kezaliman dibiarkan, kita punya kewajiban moral individu untuk menyuarakan kebenaran dan melawannya dalam bentuk apa pun, baik melalui tulisan, lisan, maupun ceramah,” tegasnya.
- Memutus Tali Silaturahim
Memutus persaudaraan merupakan dosa berikutnya yang mengundang azab cepat. Kiai Muhyiddin menekankan bahwa perbedaan latar belakang sosial, ekonomi, hingga tensi politik tidak boleh meretakkan hubungan antarmanusia.
“Perbedaan pilihan politik justru jangan sampai membuat kita jauh. Allah mengingatkan kita agar tetap menjaga silaturahim, walaupun berbeda pilihan partai politik,” tuturnya.
- Durhaka kepada Kedua Orang Tua
Islam menempatkan bakti kepada orang tua pada kedudukan yang sangat mulia. Sebaliknya, sikap durhaka—baik melalui ucapan kasar, tindakan merendahkan, maupun hilangnya rasa hormat—menjadi pemicu datangnya siksaan di dunia.
- Sumpah Palsu dan Mengingkari Janji
Sumpah palsu acap kali disalahgunakan untuk menutupi kebohongan atau mengincar keuntungan pragmatis. Hal ini bersinggungan langsung dengan sumpah jabatan. Ketika sumpah atas nama Tuhan dilanggar dan amanah disalahgunakan, pelaku tidak hanya mengkhianati publik, tetapi juga mengundang murka Allah secara langsung.
Mengakhiri khutbahnya, Kiai Muhyiddin mengingatkan bahwa identitas sebagai Muslim tidak otomatis meluputkan seseorang dari sanksi Ilahi. Keimanan sejati harus terefleksikan dalam tindakan nyata: jujur, amanah, menghormati orang tua, dan berani menyuarakan kebenaran.
“Sebab jika kezaliman itu kita biarkan, kita sendiri termasuk ke dalam golongan orang-orang yang melakukan kezaliman,” pungkasnya. (*/tim)
