*)Oleh: Moh. Mas’al, S HI, M Ag
Kepsek SMP AL Fattah dan Anggota MTT PDM Sidoarjo
Adab guru adalah diksi penting yang tidak bisa dilepaskan dari dunia pendidikan kita. Adab guru sebagai satu simbol. Jika adab guru baik maka wajah pendidikan kita akan tercerahkan, sebaliknya jika jelek maka wajah pendidikan kita akan tercoreng.
Dalam khazanah Islam, ilmu adalah cahaya, dan adab adalah lentera yang membawanya sampai ke hati murid. Seorang guru bukan sekadar penyampai informasi/transfer of knowledge, melainkan pembimbing ruhani yang menanamkan nilai dan menumbuhkan akhlak. Maka, adab dalam mengajar bukan pelengkap, tetapi ruh dari pengajaran itu sendiri.
Imam Malik pernah berkata kepada anak-anak muridnya:
رُوِيَ عَنِ الإِمَامِ مَالِكٍ: تَعَلَّمُوا الأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمُوا العِلْمَ
“Pelajarilah adab sebelum kalian mempelajari ilmu.”
Demikian pula, guru dituntut meneladani akhlak Rasulullah ﷺ, yang bukan hanya menyampaikan wahyu, tapi menyentuh hati umatnya dengan kelembutan, kasih sayang, dan kebijaksanaan.
Mengapa Adab Guru Penting?
- Membuka Hati Murid
Kata-kata yang lembut, tatapan kasih, dan sikap hormat kepada murid akan membuka pintu hati mereka. Sebaliknya, sikap kasar dan angkuh justru menghalangi sampainya ilmu.
- Menjaga Keberkahan Ilmu
Ilmu yang diajarkan dengan ikhlas, tawadhu’, dan adab akan Allah berkahi. Imam al-Ghazali menegaskan bahwa keberkahan ilmu lebih utama dari sekadar banyaknya informasi.
- Menjadi Teladan Hidup
Guru adalah sosok yang diteladani. Jika ucapannya indah namun tindakannya buruk, maka akan hilang wibawa ilmunya. Adab guru adalah pelajaran hidup yang tak tertulis.
Sikap Umar bin Abdul Aziz terhadap Guru Anaknya
Khalifah agung Umar bin Abdul Aziz memberikan pelajaran luar biasa tentang bagaimana seorang pemimpin menaruh hormat kepada guru. Ia pernah berkata kepada guru privat anaknya:
لا تُكْرِمْهُمْ لِقَرَابَتِهِمْ مِنِّي، وَلكِنْ أَكْرِمْهُم لِلْعِلْمِ، وَعَلِّمْهُم خَشْيَةَ اللهِ قَبْلَ أَنْ تُعَلِّمَهُم الْقُرْآنَ
“Janganlah engkau menganggap kami dimuliakan karena kami adalah keluarga khalifah. Tapi muliakanlah kami karena ilmu. Ajarkanlah anakku rasa takut kepada Allah sebelum engkau ajarkan Al-Qur’an.”
Kisah ini menggambarkan bahwa Umar bin Abdul Aziz sangat memahami bahwa inti pendidikan adalah pembentukan jiwa, bukan sekadar kecerdasan otak. Ia juga memberi pesan agar guru tetap bersikap tegas dan berwibawa, tidak tunduk oleh status murid, bahkan jika itu anak khalifah.
Pandangan Ulama tentang Adab Guru
Ibnu Jama’ah dalam kitab Tadhkirah al-Sāmi’ wa al-Mutakallim berkata:
وَيَنْبَغِي لِلْمُعَلِّمِ أَنْ يَتَحَلَّى بِالْمَكَارِمِ، فَإِنَّ أَعْيُنَ الطَّلَبَةِ إِلَيْهِ أَسْرَعُ مِنْ أَسْمَاعِهِمْ
“Guru harus menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia, karena pandangan murid lebih cepat menangkap sikap guru daripada kata-katanya.”
Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta‘allim juga menekankan bahwa guru sejati adalah yang mengajarkan ilmu dengan adab, karena itulah warisan Nabi.
Adab bukan hanya etika, tapi jembatan antara hati guru dan hati murid. Guru yang beradab bukan hanya mengajarkan pelajaran, tetapi juga menanamkan kebajikan yang tumbuh seumur hidup.
Ilmu tanpa adab adalah seperti pohon tanpa buah. (*)
