#Dentuman “Wailun Yauma’idhin Lil Mukadzdzibin” dan Kesadaran Hamba yang Sedang Menunggu
Di antara keunikan retorika Al-Qur’an adalah pengulangan ayat untuk mengguncang kesadaran manusia. Salah satu contoh paling kuat terdapat dalam Surah Al-Mursalat, ketika Allah mengulang sebuah kalimat ancaman sebanyak sepuluh kali.
Kalimat itu berbunyi:
وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ.
“Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”
Sepuluh kali ayat ini diulang dalam satu surah. Setiap kali ia muncul setelah Allah memaparkan tanda-tanda kekuasaan-Nya: tentang penciptaan manusia, kehancuran umat terdahulu, dan gambaran hari kiamat.
Pengulangan ini bukan sekadar gaya bahasa. Dalam perspektif balaghah Qur’ani, pengulangan tersebut adalah ta’kīd—penegasan yang bertujuan menggetarkan hati manusia agar tidak mendustakan kebenaran.
Seakan-akan setiap pengulangan itu adalah dentuman peringatan.
Satu peringatan mungkin diabaikan.
Dua peringatan mungkin dianggap biasa.
Tetapi ketika peringatan itu diulang sepuluh kali, Al-Qur’an sedang mengguncang kesadaran manusia.
Hidup yang Sedang Menunggu
Jika direnungkan lebih dalam, manusia sebenarnya hidup dalam satu kondisi yang sama: menunggu.
Ada yang menunggu rezeki.
Ada yang menunggu kesuksesan.
Ada yang menunggu kebahagiaan.
Tetapi semua penantian itu tidak pernah benar-benar pasti. Masa depan selalu berada di balik tabir yang tidak bisa ditembus manusia.
Al-Qur’an menegaskan keterbatasan ini dalam Surah Luqman:
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
“Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan ia kerjakan besok. Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati.” (QS. Luqman: 34)
Ayat ini menunjukkan satu kenyataan besar: manusia hidup dalam ketidaktahuan tentang masa depannya sendiri.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Kita tidak tahu bagaimana akhir perjalanan hidup kita.
Namun di balik semua ketidakpastian itu ada satu kepastian yang tidak pernah berubah: kematian.
Penantian yang Paling Pasti
Kematian adalah satu-satunya penantian yang pasti datang, meskipun waktunya tidak pernah diketahui manusia.
Karena itu Al-Qur’an mengarahkan manusia pada satu kesadaran paling mendasar: hidup ini adalah masa persiapan sebagai seorang hamba.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hijr:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqīn (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)
Para ulama tafsir, seperti dalam Tafsir Ibn Kathir, menjelaskan bahwa “al-yaqīn” pada ayat ini bermakna kematian.
Artinya, selama kehidupan masih berlangsung, manusia tetap berada dalam satu posisi yang tidak berubah: seorang hamba yang mengabdi kepada Tuhannya.
Tidak ada masa berhenti dari penghambaan.
Tidak ada masa pensiun dari ibadah.
Selama nafas masih berjalan, manusia tetap berada dalam satu tugas: beribadah kepada Allah.
Sepuluh Kali Peringatan
Jika direnungkan kembali, pengulangan sepuluh kali dalam Surah Al-Mursalat sebenarnya mengajarkan satu pesan yang sangat dalam.
Manusia sering menunda kesadaran.
Manusia sering menganggap waktu masih panjang.
Padahal kehidupan ini sedang berjalan menuju satu titik yang pasti: pertemuan dengan kematian.
Dan ketika kematian datang, semua penantian dunia tiba-tiba selesai.
Tidak ada lagi rencana yang bisa diperbaiki.
Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali.
Yang tersisa hanyalah hasil dari kehidupan yang telah dijalani.
Harta tidak ikut masuk ke dalam kubur.
Jabatan tidak ikut menemani di alam barzakh.
Popularitas tidak mampu menjawab pertanyaan malaikat.
Yang tersisa hanyalah: iman, amal dan jejak kebaikan yang pernah ditanam dalam kehidupan.
Sebuah Pertanyaan untuk Diri Kita
Pengulangan ayat “Wailun yauma’idhin lil mukadzdzibin” sebanyak sepuluh kali sebenarnya seperti sepuluh ketukan yang membangunkan kesadaran manusia.
Seolah-olah Al-Qur’an sedang mengetuk hati kita berkali-kali:
Apakah manusia masih akan lalai?
Apakah manusia masih akan menunda kesadaran?
Apakah manusia masih akan mendustakan kebenaran?
Karena pada akhirnya hidup ini hanyalah masa penantian sebelum kepastian datang.
Dan ketika kepastian itu tiba, tidak ada lagi yang tersisa kecuali satu pertanyaan besar:
Sebagai hamba, sudahkah kita benar-benar bersiap?
