Adab, Iman dan Akhlak: Jalan Manusia Rabbani di Tengah Relasi Sosial Modern

Adab, Iman dan Akhlak: Jalan Manusia Rabbani di Tengah Relasi Sosial Modern
*) Oleh : Agus Santosa Purba, K. Ua
Tapak Suci Pimda 166 Grobogan
www.majelistabligh.id -

Perkembangan masyarakat modern membawa kemajuan di banyak sisi, namun juga menyisakan persoalan mendasar dalam relasi sosial. Salah satunya adalah pergeseran cara memaknai harga diri. Dalam praktik keseharian, muncul anggapan bahwa siapa yang menyapa lebih dulu, datang lebih awal, atau meminta pertolongan berada pada posisi lebih rendah. Sebaliknya, sikap menjaga jarak, menunda respons, dan menampilkan ketidakpedulian sering dipersepsikan sebagai tanda wibawa.

Fenomena ini patut dikritisi secara jernih. Sebab, sejak kapan adab dipahami sebagai kelemahan?
Dalam pandangan Islam yang rasional dan berkemajuan, adab bukanlah simbol inferioritas, melainkan ekspresi akhlak yang bersumber dari iman. Menyapa lebih dulu adalah etika sosial. Datang lebih awal adalah penghormatan terhadap waktu dan manusia. Meminta pertolongan adalah pengakuan atas keterbatasan diri sebagai makhluk. Ketiganya tidak merendahkan martabat, justru menguatkan kemanusiaan.

Secara sosiologis, relasi sosial modern memang cenderung mengalami pergeseran. Hubungan antarmanusia tidak lagi sepenuhnya dibangun atas dasar kebersamaan, melainkan kerap dipengaruhi oleh logika kuasa simbolik. Sikap dingin, jarak emosional, dan keengganan menunjukkan kebutuhan diperlakukan sebagai strategi untuk mempertahankan posisi. Akibatnya, relasi kehilangan dimensi etis dan berubah menjadi arena pencitraan.

Kondisi ini diperparah oleh budaya digital yang mendorong manusia untuk terus menampilkan diri. Dalam ruang media sosial, ukuran nilai sering kali bergeser dari kualitas akhlak menuju pengelolaan citra. Diam dianggap berkelas, tidak responsif dianggap berdaulat, dan keterbukaan disalahartikan sebagai ketergantungan. Padahal, sikap sikap tersebut tidak selalu mencerminkan kekuatan, melainkan sering berakar pada kegamangan identitas.

Dari perspektif keislaman, persoalan ini menunjukkan adanya krisis iman yang berimplikasi pada krisis akhlak. Al Quran menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh relasi kuasa, melainkan oleh ketakwaan:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al Hujurat: 13)
Ayat ini menegaskan bahwa martabat manusia bersifat prinsipil dan melekat. Ia tidak bertambah karena mengungguli orang lain, dan tidak berkurang karena berbuat baik. Dalam kerangka inilah konsep manusia rabbani menemukan relevansinya: manusia yang orientasi hidupnya berpusat pada Allah, bukan pada pengakuan sosial yang fluktuatif.

Iman, dalam pandangan Muhammadiyah, tidak berhenti pada keyakinan personal, tetapi harus melahirkan akhlak sosial. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa misi kerasulan berorientasi pada penyempurnaan akhlak. Artinya, keberagamaan yang tidak berbuah pada etika relasi patut dipertanyakan kedalaman dan fungsinya.

Manusia rabbani tidak alergi terhadap kerendahan hati. Ia tidak merasa terancam dengan menyapa lebih dulu, karena ia tidak menggantungkan nilai dirinya pada gengsi. Ia tidak enggan datang lebih awal, karena ia menghargai waktu sebagai amanah. Ia tidak malu meminta pertolongan, karena ia sadar bahwa kemandirian tidak identik dengan menafikan keterhubungan.

Dalam konteks ini, iman berfungsi sebagai fondasi ketenangan dan keberanian moral, sementara akhlak menjadi manifestasi konkret dalam kehidupan sosial. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Ketika iman dilepaskan dari akhlak, agama berisiko menjadi simbol kosong. Sebaliknya, ketika akhlak dilepaskan dari iman, ia kehilangan orientasi nilai ibadah.

Masyarakat berkemajuan yang dicita citakan Islam dan diperjuangkan Muhammadiyah bukanlah masyarakat yang dibangun atas dasar gengsi dan jarak, melainkan atas dasar nilai, rasionalitas, dan tanggung jawab moral. Relasi sosial seharusnya menjadi ruang saling menumbuhkan, bukan arena saling mengungguli secara simbolik.

Di tengah dunia yang semakin dingin dan penuh perhitungan, menjaga adab bukanlah sikap konservatif, melainkan bentuk keberanian etis. Menyapa, hadir, dan saling menolong adalah ekspresi iman yang hidup. Dari sanalah manusia rabbani dibentuk, bukan melalui citra, tetapi melalui iman dan Akhlak yang di munculkan dalam kehidupan. Wa Allahu A’lam. (*)

Tinggalkan Balasan

Search