Ahli Ibadah Mati Dalam Su’ul Khotimah

Ahli Ibadah Mati Dalam Su’ul Khotimah
*) Oleh : M. Mahmud
Sekretaris MPW PCM Paciran Lamongan
www.majelistabligh.id -

Seorang ahli ibadah bisa saja berakhir dengan su’ul khotimah meskipun sepanjang hidupnya penuh dengan amal saleh. Hal ini terjadi karena akhir hidup ditentukan oleh kondisi hati dan amal terakhir, bukan semata jumlah ibadah sebelumnya. Rasulullah ﷺ menegaskan: “Sesungguhnya segala perbuatan ditentukan bagian akhirnya” (HR. Bukhari).

Makna su’ul khotimah
* Su’ul khotimah berarti meninggal dalam keadaan buruk, tidak membawa iman atau amal yang diridai Allah.
* Lawannya adalah husnul khotimah, yaitu meninggal dalam keadaan baik, membawa iman dan amal yang diterima.

Kisah ahli ibadah yang Berakhir Buruk
* Ada riwayat tentang seorang ahli ibadah yang 220 tahun tidak pernah bermaksiat, namun akhirnya meninggal dalam keadaan su’ul khotimah.
* Penyebabnya bukan kurangnya ibadah, melainkan kesombongan, merasa aman dari murka Allah, dan tidak lagi berharap pada rahmat-Nya.
* Pelajaran: amal panjang tidak menjamin husnul khotimah jika hati tidak dijaga dari penyakit seperti ujub (bangga diri), riya, dan merasa pasti masuk surga.

Faktor Penyebab Su’ul Khotimah
1. Kesombongan spiritual – merasa ibadah sudah cukup dan meremehkan orang lain.
2. Putus asa dari rahmat Allah – tidak lagi berharap ampunan-Nya.
3. Kecintaan berlebihan pada dunia – di akhir hayat lebih memilih dunia daripada iman.
4. Kemaksiatan terakhir – meski kecil, bisa menjadi penutup amal buruk.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menyinggung tentang orang yang rajin beribadah namun akhirnya tergelincir dan mati dalam keadaan buruk (su’ul khotimah). Ayat-ayat ini menjadi peringatan bahwa amal panjang tidak menjamin akhir yang baik jika hati tidak dijaga. Berikut beberapa di antaranya:

Ayat Al-Qur’an tentang Su’ul Khotimah
Allah menceritakan tentang seorang hamba yang diberi ilmu, namun ia melepaskan diri dari kebenaran:
1. Surah Al-A’raf (7:175-176)
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ الَّذِيْٓ اٰتَيْنٰهُ اٰيٰتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَاَتْبَعَهُ الشَّيْطٰنُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِيْنَ وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّهٗٓ اَخْلَدَ اِلَى الْاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْۗ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
175. Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka (tentang) berita orang yang telah Kami anugerahkan ayat-ayat Kami kepadanya. Kemudian, dia melepaskan diri dari (ayat-ayat) itu, lalu setan mengikutinya (dan terus menggodanya) sehingga dia termasuk orang yang sesat.
176. Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan (derajat)-nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung pada dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Maka, perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itu adalah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka, ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.

Ayat ini sering dikaitkan dengan kisah Bal’am bin Ba’ura, seorang ahli ibadah yang akhirnya mati dalam keadaan su’ul khotimah karena mengikuti hawa nafsu.

2. Surah Muhammad (47:33)
۞ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَلَا تُبْطِلُوْٓا اَعْمَالَكُمْ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta jangan batalkan amal-amalmu!

Menunjukkan bahwa amal bisa rusak di akhir bila disertai kemaksiatan atau kesombongan.

3. Surah Al-Kahfi (18:103-104)
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْاَخْسَرِيْنَ اَعْمَالًا ۗ اَلَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا
103. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah perlu kami beri tahukan orang-orang yang paling rugi perbuatannya kepadamu?”
104. (Yaitu) orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

Gambaran orang yang rajin beramal, tetapi tidak ikhlas sehingga berakhir dengan kerugian.

Cara Menjaga dari Su’ul Khotimah
* Istiqamah dalam iman dan amal hingga akhir hayat.
* Berdoa memohon husnul khotimah, seperti doa: Allahumma inni as’aluka husnal khotimah.
* Menghindari ujub dan riya, selalu merasa butuh rahmat Allah.
* Perbanyak istighfar dan taubat, karena tidak ada jaminan amal diterima.
* Menjaga hati dengan dzikir, ikhlas, dan tawakal.

Hikmah Penting
* Ibadah panjang tidak otomatis menjamin husnul khotimah.
* Rahmat Allah lebih besar daripada amal manusia.
* Kematian adalah penentu sejati, sehingga fokus utama adalah menjaga hati dan amal hingga akhir.

 

 

Tinggalkan Balasan

Search