Akibat Kurangnya Kepekaan

Akibat Kurangnya Kepekaan
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Kepekaan bukan sekadar soal “perasaan halus,” tetapi kemampuan untuk menangkap sinyal sosial, memahami emosi, dan merespons dengan bijak. Kekurangannya bisa membuat seseorang tampak egois atau tidak peduli, padahal sering kali itu hanya karena kurang latihan atau kesadaran.

Masih ada anak yang tak punya buku dan pena sederhana untuk belajar. Siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBR (10), ditemukan tewas gantung diri di kebun milik neneknya. Dugaan sementara, korban kecewa karena orang tuanya tak mampu membelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah.

Tragedi ini menyisakan duka mendalam. YBR juga meninggalkan sepucuk surat wasiat untuk sang ibu. Tulisan tangan bocah 10 tahun itu berisi ungkapan kekecewaan sekaligus salam perpisahan.

YBS bocah 10 tahun di Ngada, NTT memikul mimpi kecil tentang sekolah, yang ternyata terlalu berat untuk anak seusianya. Ia bukan lapar akan nasi di piring, tetapi lapar akan alat sederhana untuk belajar dan mengejar harapan.

Kekurangan kepekaan-baik kepekaan diri maupun sosial-dapat menimbulkan sejumlah akibat yang cukup serius dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa dampak utamanya:

Akibat Kekurangan Kepekaan

* Hubungan sosial terganggu
Orang yang kurang peka cenderung tidak menyadari perasaan atau kebutuhan orang lain, sehingga bisa dianggap cuek, dingin, atau tidak peduli. Hal ini berpotensi merusak persahabatan, hubungan keluarga, maupun relasi kerja.

* Kesulitan berempati
Kekurangan kepekaan biasanya berakar dari lemahnya empati. Akibatnya, seseorang sulit memahami sudut pandang orang lain, sehingga komunikasi menjadi kaku dan penuh salah paham.

* Kurang mampu membaca situasi
Kepekaan sosial membantu kita menyesuaikan diri dengan norma, budaya, dan suasana sekitar. Tanpa itu, seseorang bisa bertindak tidak tepat, menyinggung orang lain, atau kehilangan kesempatan untuk berkontribusi secara positif.

* Menurunnya kualitas kepemimpinan dan kerja tim
Dalam konteks organisasi, pemimpin atau anggota tim yang kurang peka sering gagal mengenali kebutuhan, motivasi, atau masalah rekan kerja. Hal ini bisa menurunkan semangat, produktivitas, dan rasa kebersamaan.

* Dampak psikologis pada orang lain
Ketidakpekaan dapat membuat orang di sekitar merasa tidak dihargai, diabaikan, atau bahkan terluka secara emosional. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menimbulkan rasa frustrasi dan menjauhkan hubungan.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menyinggung akibat dari kekurangan kepekaandalam bentuk lalai, berpaling, atau tidak mau menggunakan hati dan akal untuk memahami.

* QS. Al-A’raf [7]:179
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ
Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.

Ayat ini menegaskan bahwa kurangnya kepekaan hati, mata, dan telinga membuat manusia jatuh dalam kelalaian, bahkan lebih buruk dari hewan ternak

* QS. Yunus [10]:100
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تُؤْمِنَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَعْقِلُوْنَ
Artinya: Tidak seorang pun akan beriman, kecuali dengan izin Allah dan Dia menimpakan azab kepada orang-orang yang tidak mau mengerti.

Kurang peka terhadap tanda-tanda Allah dan enggan berpikir membawa pada kemurkaan-Nya.

* QS. Al-Mutaffifin [83]:14
كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya: Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.

Kekurangan kepekaan akibat dosa dan kelalaian membuat hati tertutup, sehingga sulit menerima kebenaran.

Al-Qur’an menggambarkan akibat kekurangan kepekaan sebagai:
* Hati yang tertutup → tidak mampu menerima kebenaran.
* Kelalaian → hidup tanpa arah, kehilangan makna.
* Kesesatan → lebih buruk dari binatang ternak karena tidak menggunakan potensi akal dan hati.

Ada beberapa hadits yang menyinggung akibat dari kurangnya kepekaan hati (ghaflah, keras hati, atau tidak peduli terhadap sesama). Kekurangan kepekaan ini sering dikaitkan dengan hilangnya empati, kerasnya hati, dan tanda-tanda kemunafikan. Berikut beberapa hadits yang relevan:

1. Hati yang Keras dan Lalai
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.”
(HR. Tirmidzi)

Makna: Terlalu banyak tertawa tanpa kepekaan terhadap kondisi sekitar membuat hati keras dan tidak peka terhadap nasihat maupun penderitaan orang lain.

2. Tidak Peduli terhadap Sesama
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna: Kurangnya kepekaan sosial-tidak peduli pada kebutuhan orang lain-merupakan tanda lemahnya iman.

3. Tanda Kemunafikan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Hati yang Lalai dari Dzikir
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan orang yang mengingat Allah dengan orang yang tidak mengingat Allah adalah seperti orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari)

Makna: Lalai dari dzikir membuat hati mati—hilang kepekaan spiritual, sehingga seseorang tidak lagi tergerak oleh kebaikan.

 

Tinggalkan Balasan

Search