Sosial dan Dhuafa Center, PRM Sukomulyo Manyar Gresik sukses mengadakan santunan dhuafa dan yatim. Program ini telah berjalan sejak tahun 2015. Santunan kali ini menghadirkan H. dr. Fahruddin Fahri, Sp.Pd. sebagai pemberi tausiyah.
Tampak hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua Sosial dan Dhuafa Center H. Muslih Yaman M.Kes., pengurus PRM Sukomulyo, pengurus takmir masjid Al Aqsho, pengurus PRA Sukomulyo, serta sejumlah 55 anak yatim dan juga dhuafa masyarakat sekitar masjid.

Dalam tausiyahnya, H. dr.Fahruddin Fahri, Sp.Pd. menyampaikan, pintu syurga itu bermacam macam, ada pintu syurga untuk orang yang bersedekah dan juga pintu syurga untuk orang berpuasa. “Semoga kita dapat masuk dari pintu keduanya,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan Sosial dan Dhuafa Center yang berkantor di Masjid Al Aqsho, PRM Suomulyo untuk bisa menebar manfaat bagi sesama terutama kaum dhuafa dan anak yatim,.
“Besar harapan kami bahwa Sosial dan Dhuafa Center senantiasa mampu meneladani gerakan al maun yang menjadi otot bagi gerakan filantropi di organisasi Muhammadiyah, surat Al-Ma’un ini merupakan landasan teologis (Teologi Al-Ma’un) yang mendasari gerakan filantropi dan amal usaha Muhammadiyah,” tambahnya.
KH Ahmad Dahlan, lanjutnya, menekankan pemaknaan ayat ini sebagai aksi nyata menyantuni anak yatim dan fakir miskin, bukan sekadar hafalan. Ini menjadi otot Muhammadiyah dalam mewujudkan kedermawanan sosial melalui pilar pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Berikut adalah hikmah penting Surat Al-Ma’un sebagai pondasi filantropi Muhammadiyah:
* Berdaya Amal Usaha: Surat Al-Ma’un mendasari berdirinya panti asuhan, rumah sakit, sekolah, dan juga lazismu yang merupakan wujud nyata kepedulian terhadap sesama.
* Hikmah Sosial: Ayat ini menuntut aksi konkret dalam membantu fakir miskin dan yatim, di mana mengabaikan mereka dianggap sebagai “pendusta agama”.
* Gerakan Sosial Mandiri: Filantropi Muhammadiyah berfokus pada empati sosial atau juga memberdayakan, bagi-bagi sembako atau uang juga terkadang menciptakan kemandirian ekonomi bagi kaum lemah.
* Inklusivitas: Ajaran ini mendorong tolong-menolong kepada sesama tanpa memandang ras, suku bahkan agama. (Husnul Khuluq, M.Pd. – Ketua PRM Sukomulyo)
