*)Oleh: Eko Munjazanah
Peserta Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah di Wonosobo
Dalam perjalanan hidup yang penuh ujian, tidak jarang hati manusia merasakan kegelisahan, kecemasan, bahkan kesedihan. Namun, Islam memberikan solusi terbaik untuk menenangkan hati melalui bacaan, perenungan, dan pengamalan Al-Qur’an.
Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup dan penyembuh bagi hati yang gelisah, seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya:
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit-penyakit yang ada di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Yunus: 57)
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan juga menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan bagi siapa saja yang menghadapinya dengan hati yang ikhlas. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan sejati datang dari zikir atau mengingat Allah. Dalam tafsirnya, para ulama menjelaskan bahwa dzikir ini bukan hanya berupa lisan, tetapi juga mencakup perbuatan dan keyakinan.
Al-Qur’an memberi petunjuk bahwa keimanan yang kokoh akan menggantikan kecemasan dengan ketenangan. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa orang yang hatinya dipenuhi dengan iman kepada Allah akan merasakan kedamaian dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.
Imam Al-Qurthubi juga menambahkan bahwa ketenangan yang diperoleh dari Al-Qur’an tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga memberikan dampak positif pada kondisi psikologis seseorang, membuatnya lebih tabah dan kuat.
Hadis Rasulullah ﷺ juga mengungkapkan manfaat luar biasa dari membaca Al-Qur’an. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.”
(HR. Tirmidzi No. 2910, dinyatakan shahih oleh Al-Albani)
Kisah Para Sahabat dan Pengaruh Al-Qur’an
- Kisah Umar bin Khattab Masuk Islam
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu awalnya adalah seorang yang sangat memusuhi Islam. Bahkan, ia berniat untuk membunuh Nabi Muhammad ﷺ. Dalam perjalanan menuju Rasulullah ﷺ, Umar bertemu dengan seseorang yang memberitahunya bahwa adiknya, Fatimah binti Khattab, telah masuk Islam. Marah besar, Umar langsung menuju rumah adiknya. Ketika ia mendengar bacaan Al-Qur’an dari Fatimah dan suaminya, Said bin Zaid, ia bertindak kasar dan memukul Fatimah. Namun, melihat keteguhan hati adiknya, Umar mulai merasa luluh.
Fatimah kemudian memberikan lembaran mushaf yang berisi ayat dari Surah Thaha:
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 14) Setelah membaca ayat tersebut, hati Umar bergetar dan ia menyadari kebenaran Islam. Dengan hati yang terbuka, Umar akhirnya menghadap Rasulullah ﷺ dan mengucapkan kalimat syahadat. Kisah ini membuktikan bagaimana Al-Qur’an mampu menyentuh dan menenangkan hati yang keras sekalipun. - Ketabahan Bilal bin Rabah
Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu adalah seorang budak yang masuk Islam pada masa awal dakwah Rasulullah ﷺ. Ketika diketahui oleh majikannya, Umayyah bin Khalaf, ia disiksa dengan kejam. Bilal dipaksa untuk kembali kepada agama nenek moyangnya, namun ia tetap teguh pada keimanannya.
Bilal dijemur di bawah terik matahari dan ditindih batu besar di dadanya, namun ia hanya mengucapkan “Ahad, Ahad” (Allah Maha Esa), sebagai bentuk dzikir kepada Allah. Keteguhan hati Bilal yang tak tergoyahkan menunjukkan bahwa meski tubuhnya disiksa, hatinya tetap tenteram karena keimanannya kepada Allah.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ankabut:
“Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan, pasti Kami masukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Ankabut: 9)
Akhirnya, Bilal dibebaskan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan tebusan yang besar. Setelah bebas, Bilal menjadi muazin pertama dalam Islam, dan suara adzannya menjadi simbol kemenangan keimanan atas penderitaan.
Al-Qur’an adalah sumber cahaya bagi hati yang gelap, obat bagi jiwa yang terluka, dan petunjuk bagi kehidupan yang penuh cobaan. Dengan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an, seorang Muslim akan merasakan ketenangan dan kekuatan hati dalam menghadapi segala ujian hidup.
Oleh karena itu, marilah kita mendekatkan diri kepada Al-Qur’an agar hati kita selalu tenteram, dipenuhi kedamaian, dan diberkahi oleh-Nya. (*)
Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News
