“al-Ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah”, Di Mana Posisi Muhammadiyah?

“al-Ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah”, Di Mana Posisi Muhammadiyah?
www.majelistabligh.id -

Bagi pendukung slogan “al-Ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah”, karena perkembangan zaman memerlukan jawaban yang baru, maka persoalan dan jawaban terhadap masalah yang datang kemuadian terbuka untuk dijawab secara berbeda, jawaban yang baru, tidak sama dengan jawaban yang terdahulu.

Memang slogan “al-Ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah” terkesan tekstualis, padahal tidak juga. Ada beragam varian yang lahir dari penganut slogan tersebut, mulai yang tekstualis hingga yang liberal. Bisa dilihat perkembangan di Mesir pasca Abduh, di Indonesia pasca Kyai Dahlan, ada yang tekstualis, moderat, progresif, bahkan liberal. Yang Liberal misalnya Thaha Husain, Khalafullah, Hassan Hanafi.

Memang kritik Gus Baha’ ada benarnya, ada peng-“khutbah” yang baru belajar dari Youtube, lalu berceramah tentang topik tertentu, tanpa penguasaan yang mendalam, sudah menyerang kanan dan kiri, atas dan bawah, belakang dan depan. Atau belajar kepada satu atau dua guru, dan dilarang berguru kepada yang berbeda manhaj, sudah berfatwa dengan mendeskreditkan yang lain, dengan minim ilmu.

Memang mengkhawatirkan, berfatwa tidak dengan ilmu, namun berdasarkan nafsu. Karena itu Gus Baha’ mengkritik tokoh atau kalangan tertentu yang mengatakan, “Agama kok menurut saya, agama ya berdasar riwayat.” Agama harus berdasarkan dalil, riwayat, bukan nafsu dan pemikiran sendiri. Masak shalat misalnya “menurut saya”, ya rusak. Shalat harus berdasarkan riwayat, dalil. Kalau menurut saya, zhuhur bisa saja misalnya dijadikan 2 rakaat. Atau misalnya menafsirkan QS. Al-Baqarah/2: 115. Nanti ditafsirkan shalat menghadap ke mana saja, karena Allah ada “di mana-mana”. Rusak nanti.

Kritik dari kalangan modernis sendiri datang dari Dr. Sukidi, bahwa “al-Ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah”, dalam bidang tafsir misalnya, yang berkembang sejak awal formasi Islam adalah otoritas komunitas penafsir al-Qur’an, bukan makna dalam teks itu sendiri, karena itu, banyak teks al-Qur’an dibaca secara berbeda dan memiliki makna dan penafsiran yang berbeda.[7]

Sukidi mengkritik monolitas tafsir yang digaungkan kelompok literaris dengan menggemakan slogan “al-Ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah”. Kata Sukidi, “Teks al-Qur’an tidak pernah berfungsi dalam tradisi Islam sebagai “a reservoir of meaning”, karena teks memang tidak mengandung dan membawa makna apa pun pada dirinya sendiri.[8] Teks hanya berdiam diri, sementara penafsirnya berbicara dan bergumul dengan teks dengan memproduksi maknanya melalui proses penafsiran kreatif dalam memproduksi makna …”[9]

Sukidi selanjutnya mengatakan, “Pembuktian adanya satu makna tunggal yang inheren dalam teks al-Qur’an dan dikehendaki oleh Tuhan adalah sesuatu yang muskil. Bukan hanya karena peristiwa pewahyuan dan kenabian menjadi hak eksklusif antara Muhammad dan Tuhannya, tetapi juga makna yang diwahyukan oleh Tuhan kepada Muhammad dalah misteri pewahyuan yang sulit untuk disingkap oleh siapa pun yang tak pernah melihat proses pewahyuan.

Klaim atas makna yang dikehendaki oleh Tuhan hanyalah strategi manusia untuk berbicara atas nama Tuhan untuk kepentingan dirinya sendiri. Makna itu sejatinya tidak pernah berasal dari dan dikehendaki oleh Tuhan.

…Metode “Kembali kepada tradisi tafsir, …[untuk] menemukan makna yang diproduksi oleh komunitas penafsir al-Qur’an melalui penafsiran al-Qur’an yang kreatif dan inovatif.”[10]

Memang di antara yang mengumandangkan “al-Ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah”, sangat literaris dan hanya menerima pendapat yang satu kelompok dengan mereka. Namun, tidak semua yang mengusung slogan tersebut berfaham literaris, ada yang subtantif, filosofis, dan berwatak pembebasan. Dan yang perlu menjadi catatan bahwa, yang literaris pun, tokoh-tokohnya juga banyak membaca kitab, hanya mereka “membatasi diri” pada satu kelompok saja. Apalagi yang berfaham moderen dan liberal.

Tokoh-tokoh yang disebutkan di bawah ini, tidak mungkin tidak menguasai keilmuan “tradisional”, karena mereka mereka lahir dari rahim madrasah “tradisional”. Namun karena banyak “membaca” dan berfikir ke depan, bermunazharah dengan keilmuan moderen, lalu mereka berafiliasi dengan para pemikir modernis untuk melakukan pembaharuan di tempat mereka berada. Mereka adalah para penguasa keilmuan tradisional dan menguasai keilmuan moderen, sesuai dengan tingkat kemajuan zamannya.

Dalam sejarah pemikiran Islam, slogan “al-Ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah” menemukan momentumnya saat dikumandangkan oleh Syaikhul Islam, Ibn Taimiyah, untuk membuka jalan baru Islam dari ketertutupan pemikiran baru dan mengangkat kembali ghirah pemikiran Islam menjadi segar, bebas dari kejumudan, kebekuan, kemandegan, kemunduran, dan berhentinya produktifitas dinamika pemikiran Islam, akibat sikap taqlid buta yang berlebihan, sehingga tidak perlu untuk berfikir lagi dalam menghasilkan pemikiran yang baru, dan menerima saja yang sudah ada, ambil saja, taken for granted, hasil ijtihad ulama’-ulama’ terdahulu.

Ibn Taimiyah, karyanya ratusan buku, mulai teologi Islam hingga muqaranah al-adyan. Muridnya alim-alim, mulai Ibn Qayyim, al-Dzahabi, Ibn Katsir, Ibn Daqiqil ‘Id, bahkan Imam al-Suyuthi dan Ibn Hajar al-‘Asqalani pernah menimba ilmu kepada Ibn Taimiyah, saat Ibn Taimiyah berada di Mesir.

Di masa kolonialisme Barat mulai goyah, namun Islam masih dalam keadaaan dekaden, Jamal al-Din al-Afghani al-Husaini, yang mencetuskan Pan Islamisme, juga mengangkat isu “Kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah,” sebagai salah satu isu utamanya.

 

Tinggalkan Balasan

Search