Allah Dekat, Bahkan Sebelum Kata-Kata Terucap

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
www.majelistabligh.id -

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Zat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Salah satu bukti kasih sayang-Nya yang paling nyata adalah kedekatan-Nya dengan hamba-hamba-Nya, khususnya mereka yang berdoa dan memohon kepada-Nya dengan penuh keyakinan dan keikhlasan.

Dalam Al-Qur’an, Allah secara langsung menegaskan bahwa Dia sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher manusia. Kedekatan ini bukan hanya dalam arti pengawasan, tetapi juga kedekatan kasih sayang, perhatian, dan kesiapan untuk mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya.

Allah berfirman:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap doa yang dipanjatkan dengan sepenuh hati tidak akan sia-sia. Allah tidak memerlukan perantara untuk mendengar doa hamba-Nya. Cukup mengangkat tangan, atau bahkan hanya dengan bisikan dalam hati, Allah sudah mengetahui dan siap mengabulkannya.

Bahkan dalam ayat lain Allah mengingatkan betapa Dia begitu dekat dan mengetahui isi hati manusia:

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16)

Kedekatan ini menjadi penyejuk hati bagi setiap mukmin, bahwa dalam kondisi apa pun—suka maupun duka, sehat maupun sakit—Allah senantiasa hadir dan mendengar. Maka berdoalah, jangan pernah ragu untuk meminta, karena Allah sendiri telah menjanjikan:

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)

Sejarah para nabi pun memberikan pelajaran berharga tentang doa yang tulus dan penuh harapan. Lihatlah Nabi Ayyub ‘alaihis salam yang tetap bersabar dalam kesakitan yang panjang, namun ketika beliau berdoa, kalimatnya begitu indah dan penuh adab:

“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83)

Begitu pula Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yang dalam kepasrahan dan keyakinan yang kuat, menggambarkan bagaimana Allah adalah sumber segala kebaikan dan penolong dalam setiap keadaan:

“(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang memberi petunjuk kepadaku. Dan Tuhanku yang memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu‘ara: 78–80)

Dari ayat-ayat tersebut, kita belajar bahwa doa bukan sekadar permintaan, melainkan bentuk pengakuan atas kelemahan diri dan pengharapan kepada kekuatan dan kasih sayang Allah. Doa adalah dialog batin yang penuh keikhlasan antara hamba dengan Rabb-nya.

Maka, jangan pernah berhenti berdoa, karena Allah tidak pernah jauh. Dia lebih dekat dari apa yang kita bayangkan, dan Dia Maha Mengetahui isi hati yang paling dalam.

Semoga hati kita senantiasa terpaut dengan doa, dan hidup kita selalu diberkahi oleh kedekatan dengan Allah yang Maha Pengasih. (*)

Tinggalkan Balasan

Search