Allah Tidak Akan Salah Membagi Rezeki

Allah Tidak Akan Salah Membagi Rezeki
*) Oleh : Bahrus Surur-Iyunk
Pernah Nyantri di Pondok Modern Muhammadiyah Paciran Lamongan, guru Ekskul Jurnalistik SMA Muhammadiyah I Sumenep
www.majelistabligh.id -

Seorang pria dengan pakaian batik sebuah kantor swasta hendak membeli kerupuk di pinggir jalan bertanya, “Pak, berapa harga kerupuknya?”

Penjual kerupuk itu bilang, “3000 saja mas.” Penjual kerupuk itu langsung berdiri dan meraba-raba letak tas pinggangnya. “Astagfirullah.. Ternyata bapak ini buta,” kata bapak itu dalam hati. Bapak itu pun hanya bengong menunggu sambil menjulurkan uangnya untuk tiga bungkus kerupuk.

“3 ya, jadi 9000. Uangnya berapa ya?”, tanya si penjual kerupuk.

“Sepuluh Pak,” sahut bapak pembeli.

Bapak itu lalu sibuk membongkar uang di tasnya. Uang itu nyaris keluar semua di tangannya. Tak lama kemudian penjual kerupuk itu bilang, “Ambil saja mas kembaliannya.”

Si pembeli itu terkejut mendengar perintah dari si bapak penjual kerupuk ini. Sebenarnya bapak pembeli itu tidak serius ingin mendapatkan kembalian. Dia hanya ingin tahu bagaimana cara bapak ini memberikan kembalian. Si bapak itu pun penasaran, “Pak, kalau seumpama saya kasih uang 2000 lalu saya ambil kembalian 10.000, bapak kan enggak tahu. Terus nanti bapak rugi dong?”

Di luar dugaan si penjual kerupuk itu serasa berhikmah, “Gusti Allah enggak akan salah alamat ketika kasih rezeki mas. Kalau sekarang saya harus rugi, saya yakin Gusti Allah pasti lagi nyiapin rezeki lainnya buat saya.”

Subhanallah. Gemetar hati si bapak itu. Terdiam. “Sudah ambil saja kembaliannya!” kata si penjual kerupuk itu.

“Enggak usah Pak. Hari ini Allah kirim rezeki buat bapak,” kata si pembeli lalu menyalakan sepeda motornya.

“Terima kasih mas (kata si bapak sambil tersenyum).”

“Sama-sama. Bapak hati-hati ya…”
***

Kisah singkat ini menyiratkan pelajaran yang sangat dalam. Tidak sedikit orang yang melihat rezeki itu dengan mata, tetapi hatinya gelap oleh prasangka. Ada pula yang matanya tak lagi berfungsi, namun hatinya terang oleh kedalaman hikmah.

Penjual kerupuk itu tidak menghitung rezeki dengan jari-jemari, tetapi menimbangnya dengan iman. Ia tahu, apa yang luput dari tangan manusia tidak pernah luput dari catatan Yang Maha Mulia. Baginya, kehilangan bukanlah akhir, karena ia yakin Tuhan tidak pernah salah menaruh titipan. Jika hari ini ia harus merelakan, maka esok atau kelak Allah akan menggantinya dengan cara yang tidak ada dalam dugaan.

Bukankah Allah sendiri yang menegaskan:
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ
Dan di langitlah rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 22)

Rezeki bukan sekadar angka dalam genggaman, tetapi ketenangan yang tumbuh dari kejujuran. Dan keberkahan itu lahir dari prasangka baik kepada Tuhan. Orang boleh saja berbuat curang, namun orang beriman memilih petunjuk yang terang. Karena ia tahu bahwa rezeki tidak ditarik oleh kecerdikan, melainkan dihadirkan oleh keikhlasan.

Rasulullah pernah mengingatkan dengan sangat tegas:
إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّىٰ تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا وَأَجَلَهَا
Sesungguhnya Ruhul Qudus telah membisikkan ke dalam hatiku bahwa tidak satu pun jiwa akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya dan ajalnya.” (HR. Abu Nu‘aim, al-Baihaqi).

Maka apa yang harus kita takutkan? Mengapa kita gelisah kehilangan, sementara Allah telah menjamin tidak ada satu rezeki pun yang tertukar? Penjual kerupuk itu mengajarkan satu pelajaran besar bahwa iman yang kokoh lebih mahal daripada keuntungan sesaat. Ia mungkin buta secara fisik, namun mampu melihat jauh ke depan secara metafisik.

Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan keyakinan hamba-Nya, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalāq [65]: 2–3)

Sekali lagi, rezeki tidak berkurang karena dibagi, justru bertambah karena kebersamaan dalam menikmati. Kejujuran adalah investasi yang disimpan langsung di langit. Yakin kepada Allah membuat hati kaya, meski tangan sederhana. Jika hari ini kita diuji dengan kekurangan, barangkali Allah sedang mengajarkan tentang keimanan dan kepasrahan. Dan jika hari ini kita diberi kelapangan, mungkin Allah sedang menguji untuk ketakwaan.

Karena pada akhirnya, Allah tidak pernah salah membagi rezeki. Yang sering keliru hanyalah cara manusia memandangnya. Masing-masing orang memiliki bagian rezekinya sendiri. Wallahu a’lamu.

Tinggalkan Balasan

Search