Dunia bergerak begitu cepat. Persaingan hidup begitu ketat. Berbagai masalah datang silih berganti. Berbagai informasi membanjiri otak. Banyak diantaranya berupa sampah dan sumpah serapah.
Dalam situasi demikian, masyarakat mengalami burnsout, stres, depresi, dan berbagai masalah kejiwaan. Angka gangguan jiwa dan bunuh diri meningkat.
Bagaimana bisa tetap bertahan dan bahagia? Ada beberapa inspirasi menarik dari buku Haemin Sunim, The Things You Can See Only When You Slow Down: How To Be Calm in a Busy World (2018). Manusia tidak harus mengikuti arus. Dunia boleh bergerak cepat, tapi diri bisa tetap kalem. Dunia begitu sibuk, bising, dan berisik, tapi hati dan pikiran bisa tetap tenang dan jernih.
Kuncinya mindfulness, berkesadaran penuh. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, slow, pelan-pelan, sabar. Tidak semua hal harus dimiliki. Jangan bernafsu berkuasa. Banyak hal terjadi di luar kehendak dan kemampuan.
Tapi itu semua tidaklah mudah. Tabiat manusia suka tergesa-gesa (QS. al-Anbiya [21]:37): Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak Aku akan memperlihatkan kepadamu (azab yang menjadi) tanda-tanda (kekuasaan)- Ku. Maka, janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya.
Padahal, menurut Hadits riwayat Abu Ya’la: tergesa-gesa (‘ajal) adalah perbuatan setan. Tergesa-gesa bisa membuat orang salah mengambil keputusan karena pikiran keruh, dikuasai amarah, dan tidak objektif.
Puasa mendidik manusia agar mampu menahan diri. Tidak mudah marah dan dikuasai amarah. Puasa mendidik manusia mencukupkan diri, tidak serakah. Dengan berpuasa, manusia melatih diri untuk melakukan semua hal dengan penuh kesadaran dan kesabaran. Bersabar berarti tidak terburu-buru, not being hasty. Sabar berarti tidak grusa-grusu, alon-alon waton kelakon, biar lambat asal selamat. (*)
