Amir Hady: Ber-Muhammadiyah Harus Siap Diatur dan Tertib Berorganisasi

Amir Hady: Ber-Muhammadiyah Harus Siap Diatur dan Tertib Berorganisasi
www.majelistabligh.id -

#Ketaatan pada organisasi sebagai bagian dari akhlak perjuangan Muhammadiyah

Baitul Arqam Magister Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) Samarinda kembali menegaskan pentingnya ideologi dan disiplin organisasi sebagai fondasi utama gerakan Muhammadiyah. Peneguhan tersebut disampaikan dalam Materi 6 bertajuk Organisasi dan Ideologi Muhammadiyah (Muqaddimah AD/ART dan Hirarki Tata Aturan Muhammadiyah), Kamis (23/1/2026).

Materi disampaikan oleh Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Timur, Ir. H. Amir Hady, yang menekankan, Muhammadiyah bukan sekadar gerakan dakwah atau kumpulan amal usaha, melainkan sebuah sistem perjuangan Islam yang dibangun di atas ideologi, nilai, dan tata aturan yang baku.

“Dalam Muhammadiyah, organisasi bukan hanya alat administratif, tetapi instrumen dakwah. Bahkan, berorganisasi dalam Muhammadiyah hukumnya wajib,” tegas Amir Hady.

Penegasan tersebut, lanjutnya, merujuk langsung pada Tafsir Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah yang menyatakan bahwa perjuangan mewujudkan maksud dan tujuan Persyarikatan hanya dapat dicapai apabila dilaksanakan dengan cara berorganisasi. Prinsip ini menjadi dasar ideologis mengapa Muhammadiyah sejak awal menolak dakwah yang bersifat individualistik maupun gerakan yang bertumpu pada kharisma personal.

Amir Hady menjelaskan, lebih dari satu abad perjalanan Muhammadiyah dengan ribuan amal usaha, jutaan anggota, dan struktur organisasi dari pusat hingga ranting, hanya mungkin terwujud karena Persyarikatan berdiri di atas organisasi dan aturan yang kokoh, bukan figur semata.

Dalam pemaparannya, ia juga menekankan pentingnya memahami hirarki tata aturan Muhammadiyah sebagai bagian dari ketaatan ideologis. Berdasarkan ketetapan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, aturan yang lebih tinggi menjadi dasar bagi aturan di bawahnya, dan setiap peraturan yang bertentangan dinyatakan tidak berlaku.

“Ini mengajarkan kepada kader Muhammadiyah bahwa loyalitas utama adalah kepada Persyarikatan, bukan kepada individu, kelompok, atau kepentingan sesaat,” ujarnya.

Menurutnya, disiplin terhadap tata aturan bukanlah bentuk pembatasan kreativitas, melainkan penjaga arah perjuangan agar Muhammadiyah tetap berada di jalur dakwah yang lurus, tertib, dan berkelanjutan. Aturan juga berfungsi sebagai titik temu di tengah keberagaman latar belakang kader, sekaligus sistem pengendalian agar organisasi tidak terjebak dalam konflik internal.

Baitul Arqam Magister sendiri merupakan bagian dari sistem kaderisasi Muhammadiyah di lingkungan perguruan tinggi. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman keislaman dan kemuhammadiyahan, menciptakan kesamaan sikap dan cara berpikir, serta menumbuhkan kepemimpinan yang berkarakter ideologis.

Dalam konteks tersebut, Amir Hady menegaskan bahwa ber-Muhammadiyah bukan hanya soal keanggotaan administratif, tetapi pilihan ideologis yang menuntut kesiapan untuk diatur, ditertibkan, dan menundukkan ego demi kemaslahatan Persyarikatan.

“Ber-Muhammadiyah berarti siap tertib, siap taat, dan siap menjadikan aturan sebagai budaya organisasi, bukan sekadar dokumen,” ungkapnya.

Para peserta Baitul Arqam Magister menyambut materi ini dengan antusias. Mereka menilai peneguhan ideologi organisasi menjadi bekal penting bagi kader intelektual Muhammadiyah agar mampu menjalankan peran dakwah dan kepemimpinan secara konsisten.

Melalui Baitul Arqam Magister UMKT, Muhammadiyah berharap lahir generasi kader yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran ideologis, loyalitas organisasi, dan akhlak perjuangan yang kuat dalam menggerakkan dakwah Persyarikatan di tengah umat dan bangsa.(ay.1)

 

Tinggalkan Balasan

Search