*)Oleh: Bahrus Surur-Iyunk
Penulis Buku, Guru SMA Muhammadiyah I Sumenep
Bagi seorang Muslim, anak bukan sekadar titipan, tapi juga investasi jangka panjang. Bukan untuk dunia semata, tapi sampai ke akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Bayangkan, di saat semua amalan kita terhenti, doa dari anak yang saleh tetap mengalir. Maka, menjadikan anak sebagai pribadi beriman dan bertakwa bukan hanya tugas, tapi juga peluang emas. Karena doa anak saleh, alam kubur orang tuanya diterangi bercahaya.
Lalu, bagaimana caranya membentuk anak yang saleh? Setidaknya ada tiga kunci penting yang bisa kita pegang.
Pertama, Tanamkan Tauhid Sejak Dini. Tauhid atau keesaan Allah adalah fondasi paling dasar dalam Islam. Nabi Ya’qub pernah bertanya kepada anak-anaknya menjelang wafat:
﴿مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي﴾
“Apa yang kalian sembah setelah aku tiada?” (QS. Al-Baqarah: 133)
Pertanyaan ini menunjukkan bahwa tugas utama orang tua adalah memastikan akidah anak lurus. Anak harus tahu bahwa hanya Allah yang pantas disembah. Dan syirik adalah dosa terbesar. Mengajarkan mereka kalimat La ilaha illallah sejak dini adalah pondasi membangun pribadi yang kuat secara spiritual.
Kedua, ajarkan hak Allah atas dirinya. Anak perlu tahu bahwa hidup ini bukan tanpa aturan. Rasulullah SAW pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal, “Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas hamba dan hak hamba atas Allah?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hak Allah adalah disembah tanpa disekutukan. Dan jika seorang hamba menunaikannya, maka hal Allah atas hamba-Nya adalah tidak akan mengazabnya. Ini membentuk kesadaran bahwa hidup bukan hanya soal kebebasan, tapi juga tanggung jawab.
Ketiga, tumbuhkan rasa diawasi oleh Allah (muraqabah). Anak yang merasa diawasi oleh Allah (muraqabah) akan memiliki kontrol diri. Al-Qur’an menyebut tentang dua malaikat pencatat:
﴿إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ﴾
“Ketika dua malaikat mencatat, yang satu di kanan dan satu di kiri, dalam keadaan duduk.” (QS. Qaf: 17)
Kesadaran ini akan melahirkan anak yang tangguh. Bukan generasi “stroberi” yang menarik dipandang dan manis segar, tapi mudah remuk. Kita ingin generasi pembela agama Allah, bukan penikmat dunia yang lalai.
Ironisnya, di tengah upaya ini, kita justru sering menormalisasi kemaksiatan. Pacaran dianggap biasa. Membawa anak perempuan jalan-jalan tanpa nikah dibolehkan. Tapi, ketika datang lelaki saleh melamar, malah dipertimbangkan lama-lama. Padahal Rasulullah sudah mengingatkan:
“Jika datang seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia.” (HR. Tirmidzi)
Maka hari ini, saatnya kita kembali menyadari betapa membentuk anak yang saleh bukan sekadar impian, tapi kewajiban. Karena anak bukan hanya penerus garis keturunan, tapi juga penyambung pahala bagi orang tua hingga alam akhirat. Wallahu a’lamu. (*)
