Allah berfirman:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya.” (QS. Al-Baqarah: 2)
Menariknya, Allah tidak menggunakan kata lā syakka fīh, tetapi lā rayba fīh.
Ini bukan pilihan diksi biasa. Ini deklarasi epistemologis yang presisi.
Dalam seri Epistemologi Qur’ani, kita harus membedakan secara konseptual antara syakk dan raib.
Syakk: Keraguan pada Level Kognitif
Secara bahasa, syakk berarti keraguan antara dua kemungkinan yang seimbang. Ia bersifat mental, kognitif, dan belum tentu disertai sikap negatif.
Syakk bisa muncul karena:
- Keterbatasan informasi
- Keterbatasan metodologi
- Proses berpikir yang belum tuntas
Syakk adalah kondisi epistemik manusia yang sedang mencari kejelasan.
Raib: Keraguan yang Mengandung Kegelisahan dan Tuduhan
Adapun raib lebih dalam dari sekadar syakk. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa raib adalah keraguan yang disertai kegelisahan, kecurigaan, bahkan tuduhan tersembunyi.
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa lā rayba fīh berarti tidak ada keraguan sedikit pun bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah.
Sebagian ulama bahasa menyebut bahwa raib mencakup unsur kegoncangan batin (idhthirāb) dan kecurigaan destruktif.
Jadi ketika Allah mengatakan lā rayba fīh, itu bukan sekadar “tidak ada kemungkinan ragu”, tetapi “tidak ada ruang bagi keraguan yang menggugat otoritasnya.”
Mengapa Tidak Menggunakan “Syakk”?
Karena secara ontologis, Al-Qur’an memang tidak menyisakan ruang ambiguitas dalam sumber dan prinsipnya.
Jika digunakan kata syakk, itu masih membuka kemungkinan epistemik.
Namun raib menutup pintu keraguan destruktif.
Ini penegasan qath‘iyyah. Qath‘iyyah dalam Epistemologi Qur’ani
Dalam ushul fikih, kita mengenal istilah:
Qath‘i ats-tsubūt (pasti dari sisi transmisi)
Qath‘i ad-dalālah (pasti dari sisi makna)
Al-Qur’an sebagai wahyu mutawatir adalah qath‘i ats-tsubūt. Tidak ada ruang skeptisisme historis terhadap keasliannya.
Adapun dalam makna, terdapat ayat-ayat muhkam yang menjadi fondasi normatif.
Allah berfirman:
مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ
(QS. Ali ‘Imran: 7)
Dalam penjelasannya, Al-Qurthubi menyatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah dasar rujukan yang jelas dan tidak mengandung kontradiksi.
Dalam Epistemologi Qur’ani:
Wahyu adalah sumber kebenaran objektif
Akal adalah instrumen memahami
Realitas diuji dengan wahyu, bukan wahyu diuji oleh realitas
Ini struktur epistemik yang berbeda dari relativisme modern.
Syakk Manusia vs Qath‘iyyah Wahyu
Manusia boleh mengalami syakk karena keterbatasannya. Namun wahyu tidak mengalami syakk secara ontologis.
Jika seseorang meragukan Al-Qur’an, itu bukan karena Al-Qur’an ambigu, tetapi karena instrumen subjek belum jernih.
Di sinilah peran tazkiyah (penyucian hati) dalam Epistemologi Qur’ani. Keraguan sering bukan masalah data, tetapi masalah disposisi batin.
Antitesis terhadap Relativisme
Di era modern, kebenaran sering dianggap relatif dan kontekstual. Semua klaim dianggap setara. Namun lā rayba fīh adalah antitesis terhadap relativisme total.
Al-Qur’an bukan teks yang menunggu legitimasi manusia. Ia sumber legitimasi itu sendiri. Ia bukan produk sejarah.
Ia korektor sejarah.
Penutup: Dari Syakk menuju Yaqīn
Epistemologi Qur’ani bukan meniadakan pertanyaan, tetapi mengarahkannya menuju keyakinan yang kokoh.
Syakk adalah fase manusiawi.
Raib adalah sikap destruktif.
Qath‘iyyah wahyu adalah realitas ontologis.
Maka tugas dakwah bukan merelatifkan Al-Qur’an agar sesuai zaman, tetapi mengembalikan zaman kepada standar Al-Qur’an.
Karena ketika Allah menyatakan:
لَا رَيْبَ فِيهِ
Itu bukan sekadar janji spiritual, tetapi deklarasi epistemologis yang absolut. (*)
