Apakah Meninggal Dunia itu Musibah?

Apakah Meninggal Dunia itu Musibah?
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Musibah dalam bahasa Arab berasal dari kata aṣāba yang berarti “menimpa”. Dalam Al-Qur’an, musibah sering dipahami sebagai ujian atau peristiwa yang menimpa manusia, baik berupa kesulitan maupun sesuatu yang tidak menyenangkan.

Meninggal dunia adalah kepastian hidup (kullu nafsin dzā’iqatul maut – setiap jiwa pasti akan merasakan mati). Ia bukan sekadar “musibah”, melainkan bagian dari sunnatullah.

Perspektif Qur’ani

* QS. Al-Baqarah 2:155-156:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ
155. Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar,
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).

Tafsir & Makna

* Ujian hidup adalah keniscayaan: Allah menegaskan bahwa manusia pasti diuji dengan berbagai bentuk kesulitan. Ujian ini bukan tanda kebencian, melainkan sarana untuk menguji kesabaran dan keimanan.

* Musibah sebagai ujian kesabaran: Kehilangan harta, jiwa, dan hasil usaha adalah bagian dari musibah yang menimpa manusia. Namun, Allah memerintahkan untuk tetap sabar dan tidak berputus asa.

* Respon orang beriman: Kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” adalah pengakuan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ini adalah bentuk kepasrahan total dan pengingat bahwa dunia hanyalah sementara.

* Balasan bagi yang sabar: Dalam ayat berikutnya (2:157), Allah menjanjikan shalawat (pujian), rahmat, dan petunjuk bagi mereka yang sabar. Artinya, kesabaran bukan hanya sikap mental, tetapi jalan menuju keberkahan dan hidayah.

Hikmah Utama

* Kematian, kehilangan, dan kesulitan bukan akhir, melainkan ujian iman.

* Kalimat istirja’ (“Inna lillahi…”) adalah zikir yang menenangkan hati dan mengingatkan manusia akan hakikat kepemilikan Allah atas segala sesuatu.

* Sabar adalah kunci kemenangan spiritual: orang sabar mendapat rahmat, doa, dan petunjuk langsung dari Allah.

* QS. Ali Imran 3:185:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
185. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.

Tafsir & Makna

1. Kepastian Kematian
* Ayat ini menegaskan bahwa kematian adalah keniscayaan bagi setiap makhluk hidup. Tidak ada yang bisa lari darinya.
* Kematian adalah pintu menuju kehidupan akhirat, bukan akhir dari segalanya.

2. Hari Kiamat sebagai Hari Pembalasan
* Balasan amal tidak diberikan secara penuh di dunia, melainkan disempurnakan di akhirat.
* Dunia hanyalah tempat menanam, akhirat tempat menuai.

3. Hakikat Kemenangan
* Kemenangan sejati bukanlah kejayaan dunia, melainkan selamat dari neraka dan masuk ke surga.
* Ayat ini menggeser orientasi manusia dari prestasi dunia ke keselamatan akhirat.

4. Dunia sebagai Tipuan
* Dunia disebut mataa’ul ghurur (kesenangan yang memperdaya). Artinya, dunia bisa menipu jika dijadikan tujuan, bukan sarana.
* Dunia indah, tetapi fana. Ia bisa menjerumuskan bila tidak dipandang sebagai ladang amal.

Hikmah Utama

* Kematian adalah kepastian, bukan musibah. Musibah ada pada cara manusia menyikapi kehilangan.
* Orientasi hidup harus akhirat. Dunia hanyalah sarana, bukan tujuan.
* Kemenangan sejati adalah selamat dari neraka. Semua pencapaian dunia tidak berarti jika tidak mengantarkan ke surga.

Perspektif Spiritual

* Bagi yang ditinggalkan, kematian bisa terasa sebagai musibah karena ada rasa kehilangan, kesedihan, dan ujian kesabaran.

* Bagi yang wafat, kematian adalah pintu menuju kehidupan abadi. Ia bukan musibah, melainkan transisi menuju janji Allah.

Kesimpulan

* Yang, meninggal dunia bisa disebut musibah dalam arti ujian bagi yang ditinggalkan.

* Namun, secara hakikat ia bukan musibah, melainkan bagian dari takdir Allah yang pasti. Musibah ada pada rasa kehilangan, bukan pada kematian itu sendiri.

Jadi, meninggal dunia adalah takdir yang pasti, sementara musibah adalah cara kita merasakan dan menyikapi kehilangan.

Tinggalkan Balasan

Search