Aroma Surga Bagi Penuntut Ilmu

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Abdurrahman
Mahasiswa LIPIA Jakarta

Ketekunan menuntut ilmu, bukan hanya melahirkan ilmuwan mumpuni tetapi akan melahirkan kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan itu berupa ketenangan hidup di dunia dan akhirat. Islam sendiri membuka jalan pada para hamba untuk mendapatkan kebahagiaan dengan menuntut ilmu. Ganjarannya berupa kebahagiaan di tempat teragung, yakni surga.

Ibnu Abbas disebut sebagai tintanya umat. Karena begitu mendalamnya ilmu disebabkan ketekunan dan keseriusan dalam menuntut ilmu. Imam An-Nawawi sebagai Muhyiddin (penghidup agama) karena dengan ilmunya membuat umat bangkit dan tercerahkan dengan ilmunya.

Berkahnya Ilmu

Orang yang berilmu dijamin keberkahan hidupnya. Betapa tidak, dengan berilmu kedudukan seseorang terangkat. Hidupnya akan berkah dan dimudahkan dalam segala hal. Hal ini selaras dengan petunjuk yang disampaikan Nabi Muhammad dengan sabdanya :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من سلك طريقاً يلتمس فيه علماً سهّل الله له به طريقا إلى الجنة.

رواه الترمذي وقال حديث حسن

Artinya:

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”(HR. Tirmidzi)

Sabda nabi ini mendorong kepada umatnya untuk mencari ilmu dengan mendalami  ilmu – ilmu syari’ah sehingga mengenal hukum salah-benar, baik-buruk. Hal ini membuat manusia menjadi makhluk yang paling baik dan mulia.

Hadits di atas menjelaskan barangsiapa yang menempuh ilmu dengan pergi dari tempat ke tempat lain, dari satu negeri ke negeri lain, atau melakukan sebab yang mengantarkan untuk memperoleh ilmu dari pembelajaran atau pemahaman.

Buah yang dperoleh dari menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan hidupnya hingga akhirnya masuk ke dalam surga. Ganjaran surga pantas diperoleh karena dengan ilmu yang dimiliki, dia tercegah untuk bermaksiat dan terus berbuat kebaikan serta menebarkannya kepada orang lain.

Ibnu Abbas merupakan contoh manusia yang serius dalam menuntut ilmu sehingga dia mendapat julukan sebagai “Hibrul Ummah” (tintanya umat). Karena ilmunya yang luas dan mendalam, maka umatnya banyak belajar padanya. Dia dikenal sebagai sahabat yang yang bersemangat dalam menuntut ilmu, dengan mendatangi para sahabat senior satu per satu untuk belajar. Karena ilmunya, ia dihormati para khalifah dan dijadikan rujukan umat. Sebagai tintanya umat, tidak lain karena doa Nabi kepadanya :

“اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل”

Artinya:

“Ya Allah, berikanlah kepadanya pemahaman yang baik tentang agama dan ajarkanlah kepadanya takwil (penafsiran) Al-Qur’an.” (HR. Ahmad)

Dengan Ilmunya yang luas dan mendalam, Allah mengangkat derajatnya sehingga banyak ulama yang menjadikan sebagai rujukan dalam memahami agama ini. Ibnu Abbas akhirnya dikenal sebagai seorang sahabat yang dmuliakan. Dalam pemerintahan khulafaurrasyidin, beliau dimasukkan sebagai penasehat. Usia muda namun disejajarkan dengan para sahabat senior. Hal ini tidak lepas dari kesungguhannya mencari ilmu dan keikhlasannya dalam menjalankan ilmunya.

Imam An-Nawawi juga layak disebut sebagai ulama yang memiliki keberkahan dan hidupnya mulia. Hidupnya sangat sederhana, tak menikah demi fokus pada ilmu. Allah pun memberkahi waktunya. Usianya cukup singkat (kurang dari 45 tahun), namun beliau menulis ratusan kitab. Di antara kitabnya, Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in An-Nawawiyah dibaca jutaan orang hingga sekarang. Beliau memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap ilmu.

Berkat kecintaan pada ilmu, menjadikan umat Islam di berbagai belahan dunia mencintai beliau. Bukunya dibaca dan diajarkan kepada umat Islam seluruh dunia, sehingga pahala jariyah terus mengalir kepadanya. Hal ini selaras dengan perintah Allah bahwa ketika menuntut imu agama dijalani dengan ikhlas dan bersungguh sungguh dalam mempelajarinya. Allah pun mengangkat derajatnya.

Dengan demikian, ilmu yang dipelajari dengan sungguh sungguh, maka akan menjadikannya sebagai orang yang asalnya dari keluarga kecil sederhana menjadi tokoh umat. Bahkan karyanya dikenal dan dikenal banyak orang, sehingga kemuliaannya pun tersohor.

Ibnu Abbas dan Imam An-Nawawi merupakan contoh empirik dari sedikit manusia yang mendapatkan buah atas ketekunan menuntut ilmu. Beliau telah mengamalkan hadits nabi yang menuntut ilmu. Mereka meniti jalan untuk mendapatkan ilmu. Allah pun mendekatkan mereka jalan ke surga. Aroma surga dunia sudah mereka rasakan. Mereka mendapatkan kebahagiaan berupa ketenangan hidup di dunia dan akherat.

Penyebutan terhadap Ibnu Abbas sebagai tintanya umat, Imam An-Nawawi sebagai Muhyiddin (penghidup agama). Hal ini sebagai buah keseriusan dan ketekunan dalam menuntut ilmu. Allah seolah-olah menampakkan aroma surga pada mereka berdua, karena mereka bahagia dalam menuntut ilmu, dan umat pun mencintainya. (*)

Surabaya, 19 Mei 2025.

 

 

Tinggalkan Balasan

Search