Ayah-Bunda, Doa dan Pelukanmu Lebih Mahal dari Segala Harta

Ayah-Bunda, Doa dan Pelukanmu Lebih Mahal dari Segala Harta
*) Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd
Wakil Kepala SD Muhammadiyah 4 Kota Malang
www.majelistabligh.id -

Setiap anak lahir membawa fitrah suci, penuh harapan dan potensi yang harus dirawat dengan penuh cinta. Namun, di tengah kesibukan dunia modern, banyak orangtua terjebak pada pemahaman sempit bahwa tanggung jawab ayah hanyalah mencari nafkah dan kewajiban ibu sekadar mengurus rumah tangga. Padahal, kebutuhan anak jauh lebih luas daripada sekadar makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Mereka haus akan doa, rindu akan pelukan, dan membutuhkan teladan nyata dari kedua orangtuanya.

Di sinilah pentingnya memahami kembali posisi ayah sebagai qawwam (pemimpin keluarga) dan ibu sebagai madrasah pertama bagi anak. Keduanya harus berjalan seiring, saling melengkapi, dan bersinergi dalam membangun rumah tangga yang penuh kasih sayang, bimbingan, dan teladan. Sebab, doa dan pelukan dari ayah-bunda adalah harta paling mahal yang akan menjadi bekal abadi bagi anak-anak dalam menapaki jalan kehidupan.

Di balik wajah polos seorang anak, ada rindu yang tak pernah terucap dengan kata. Rindu akan pelukan hangat ayah dan bunda, rindu akan doa yang membentengi setiap langkah kecil mereka. Banyak orangtua berpikir bahwa cukup dengan bekerja keras, menyediakan rumah, pakaian, dan makanan, maka kewajiban telah tuntas. Padahal, anak-anak tak hanya lapar perut, mereka juga lapar jiwa. Mereka haus kasih sayang, teladan, dan arahan hidup.

Al-Qur’an menegaskan peran orangtua sebagai penjaga iman keluarga:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab orangtua tidak berhenti pada urusan materi, melainkan juga meliputi perlindungan iman dan akhlak anak-anaknya.

Ayah: Qawwam Bukan Sekadar Pencari Nafkah

Al-Qur’an menyebut suami/ayah sebagai qawwam (pemimpin dan penanggung jawab) bagi keluarganya (QS. An-Nisa: 34). Qawwam berarti lebih dari sekadar bekerja di luar rumah. Ia meliputi empat pilar utama:

1. Ri’ayah (Ngayahi, ngurus): Ayah hadir, bukan hanya di dompet, tapi juga di hati anak dan istrinya. Mengurus kebutuhan mereka dengan penuh cinta.

2. Himayah (Ngayomi & Ngayemi): Memberi rasa aman dan nyaman, menjadi tameng pertama dari segala ancaman moral maupun fisik.

3. Kifayah (Ngayani): Mensejahterakan lahir dan batin. Bukan hanya sandang pangan, tapi juga kebutuhan rohani, pendidikan, dan rasa dihargai.

4. Wilayah (Mendidik & Mengarahkan): Ayah adalah kompas moral. Anak membutuhkan arahan tegas, bimbingan agama, serta teladan nyata dalam ibadah dan akhlak.

Sayangnya, banyak ayah terjebak dalam problem:

Diam saat anak berbuat salah, sehingga anak kehilangan standar kebenaran.

Mengiyakan semua keinginan anak, sehingga kepemimpinan terbalik.

Lari dari masalah anak, berharap waktu menyelesaikan segalanya.

Perilaku kontradiktif: ucapan dan tindakan tidak sejalan.

Lemah komitmen agama, sehingga anak kehilangan pijakan iman sejak dini.

Rasulullah saw bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya…” (HR. Bukhari & Muslim)

Ibu: Sumber Kehangatan dan Penanaman Iman

Di sisi lain, seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Dari lisannya, anak belajar kata pertama. Dari pelukannya, anak belajar tentang rasa aman. Namun, problem yang kerap muncul pada peran ibu antara lain:

Tidak tegas, sehingga anak tumbuh tanpa batasan.

Terlalu memanjakan, membuat anak rapuh dan mudah marah.

Ragu mengambil keputusan, sehingga anak kehilangan arah.

Sering mengkritik, membuat anak merasa tidak pernah cukup baik.

Lemah bekal agama, sehingga tidak ada perencanaan iman, akhlak, dan ibadah dalam pengasuhan.

Padahal doa ibu adalah senjata paling dahsyat. Rasulullah saw pernah bersabda:

ثَلاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لا شَكٍّ فِيهِنَّ : دَعْوَةُ المظلوم، وَدَعْوَةُ المُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الوَالِدِ عَلَى وَلدِهِ

Tiga doa yang mustajab tanpa keraguan: doa orang yang terzalimi, doa orang yang bepergian, dan doa orangtua untuk anaknya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Ayah-Bunda: Tim Kehidupan, Bukan Saling Lempar Peran

Anak-anak hanya memiliki satu masa kecil, yang tidak bisa diulang. Di sanalah peran ayah-bunda harus hadir bersama. Orangtua adalah tim, bukan saling melempar tanggung jawab. Agama harus menjadi pondasi, bukan sekadar tambahan.

Teladan nyata jauh lebih kuat daripada seribu kata. Anak meniru apa yang mereka lihat, bukan sekadar mendengar apa yang diajarkan. Pelukan, doa, dan arahan yang jelas dari ayah-bunda akan menjadi benteng iman dan cahaya kehidupan bagi mereka.

Harta bisa dicari, jabatan bisa silih berganti, tetapi doa tulus dan pelukan hangat ayah-bunda adalah warisan paling mahal. Itulah bekal yang akan menuntun anak hingga kelak mereka dewasa, bahkan sampai setelah kita tiada.

Setiap anak lahir membawa fitrah suci, penuh harapan dan potensi yang harus dirawat dengan penuh cinta. Namun, di tengah kesibukan dunia modern, banyak orangtua terjebak pada pemahaman sempit bahwa tanggung jawab ayah hanyalah mencari nafkah dan kewajiban ibu sekadar mengurus rumah tangga.

Tinggalkan Balasan

Search