Bagaimana Cara Rasulullah SAW Menyambut Datangnya Ramadan?

Bagaimana Cara Rasulallah SAW Menyambut Datangnya Ramadan?
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I
Alumni Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah dan Anggota MT PCM Merden, Banjarnegara
www.majelistabligh.id -

Bulan Ramadan adalah bulan yang mulia. Di dalamnya banyak sekali keutamaan bagi yang mengisinya dengan ibadah dan amal saleh lainnya. Bulan Ramadan bukan sekadar ritual tahunan berpindah jam makan, melainkan tamu agung yang kedatangannya sangat dinantikan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Bagi beliau, Ramadhan adalah momentum puncak penghambaan diri kepada Allah SWT.

Oleh karenanya, kita sebagai ummatnya sudah barang tentu mengikuti apa yang dilakukan Nabi SAW dalam menyambut datangnya Ramadan. Bukan dengan pesta kembang api, riuhnya suara bedug atau seremoni keduniaan yang jauh dari kesan Islami.

Sebagai ummat Islam, kita mesti menyambutnya dengan gembira sebagaimana Nabi SAW juga mgembira menyambut datangnya Ramadan. Kegembiraa tersebut karena Ramadan memiliki banyak kemulian yang tidak ada pada bulan lain.Lantas, bagaimana cara Nabi SAW menyambut datangnya tamu agung Ramadan?

Persiapan menyambut Ramadan dimulai dengan memahami bahwa ibadah ini adalah perintah langsung dari Allah SWT untuk mencapai derajat ketakwaan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Surat Al-Baqarah: 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat di atas menyatakan bahwa pada bula Ramadan, kita diwajibkan untuk berpuasa sebagaimana umat – umat sebelum kita dengan tujuan agar menjadi orang yang bertakwa. Dimana takwa merupakan parameter kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT.

Rasulallah SAW menyambut Ramadan dengan penuh suka cita. Beliau tidak menganggapnya sebagai beban, melainkan anugerah besar. Beliau memberikan kabar gembira kepada para sahabat agar mereka bersiap diri secara mental.

Selain mental, sahabat juga dianjurkan untuk menyiapkan diri secara spiritual lantaran dalam bulan Ramadan setiap ibadah akan dilipat gandakan sepuluh kali lipat. Oleh karenanya, pada bulan Ramadan adalah momen untuk memperbanyak amal ibadah. Masa memanen pahala dari Allah SWT melalui setiap kebaikan yang dilakukan.

Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ
Artinya: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah Azza wa Jalla mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan para setan dibelenggu.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).

Hadis tersebut mendorong ummat Islam untuk gemar beribadah, berdoa, memohon ampun (istighfar), tadarus al Qur`an dan lain sebagainya. Pada bulan Ramadan semua pintu surga dibuka dan pintu -pintu neraka ditutup serta setan -setan dibelenggu. Pernyatan ini memberi pesan bahwa Allah SWT memberikan kemudahan dan keleluasaan bagi ummat Islam untuk giat beribdah selama bulan Ramadhan.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Lathaif Al-Ma’arif menjelaskan bahwa hadis ini adalah dasar bagi sesama Muslim untuk saling mengucapkan selamat (tahniah) atas datangnya Ramadan. Kegembiraan ini muncul karena terbukanya pintu rahmat dan ampunan.

Rasulullah SAW tidak menunggu hingga tanggal 1 Ramadan untuk beribadah. Beliau melakukan “pemanasan” sejak bulan Syakban dengan memperbanyak puasa sunnah. Aisyah RA meriwayatkan:
وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ
Artinya: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau paling banyak berpuasa (sunnah) selain di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka, ketika di bulan Syakban, ummat Islam dianjurkan untuk berpuasa sunnah sebagai “pemanasan” sebelum puasa Ramadan. Para ulama menjelaskan bahwa puasa di bulan Syakban berfungsi seperti salat sunnah rawatib sebelum salat fardhu. Ini melatih jiwa agar saat memasuki Ramadan, tubuh sudah terbiasa dan tidak merasa berat.

Secara teknis, Rasulullah SAW sangat memperhatikan pergantian bulan. Beliau mengajarkan sebuah doa khusus saat melihat hilal (bulan sabit) sebagai tanda masuknya Ramadhan:
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
Artinya: “Ya Allah, tampakkanlah bulan itu kepada kami dengan membawa keamanan, keimanan, keselamatan, dan Islam. Tuhanku dan Tuhanmu (wahai bulan) adalah Allah.” (HR. Tirmidzi).

Selain berpuasa, terdapat dua pilar utama yang sangat ditekankan oleh Rasulullah SAW saat memasuki Ramadan yaitu dermawan dan intens dengan Al Qur`an. Ibn Abbas RA menceritakan betapa murah hatinya Nabi saat Ramadhan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ
Artinya: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi saat bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).

Pada bulan Ramadan, Rasulullah SAW juga biasanya melakukan tadarus (muraja’ah) langsung bersama Malaikat Jibril AS setiap malam di bulan Ramadan.

Para salafus shalih (generasi awal Islam yang mengikuti Nabi) memiliki pola persiapan yang sangat rapi. Abu Bakar Al-Balkhi berkata “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Syakban adalah bulan menyiram tanaman, dan bulan Ramadan adalah bulan memanen hasil tanaman.”

Cara Rasulullah SAW menyambut Ramadan melibatkan tiga aspek utama yitu hati, fisik dan sosial. Aspek hati yakni merasa gembira dan rindu akan maghfirah Allah. Aspek fisik dilakukan dengan melatih ketahanan melalui puasa Sya’ban dan sspek sosial dengan meningkatkan kedermawanan dan silaturahmi.

Pendek kata, meneladani beliau berarti kita tidak boleh masuk ke bulan Ramadan secara mendadak tanpa persiapan spiritual yang matang. Marilah kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai momentum berbenah diri menjadi pribadi yang bertakwa. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search