*Oleh: M Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan
“Toxic” adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang beracun atau berbahaya, baik secara fisik maupun psikologis. Dalam konteks sosial, toxic sering merujuk pada perilaku, hubungan, atau lingkungan yang memiliki dampak negatif terhadap individu atau kelompok.
Dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang toxic dapat berupa:
• Perilaku toxic – Sikap manipulatif, merendahkan, atau selalu negatif.
• Hubungan toxic – Relasi yang penuh dengan drama, kurang dukungan, atau membuat seseorang merasa tidak dihargai.
• Lingkungan toxic – Tempat kerja, komunitas, atau keluarga yang penuh dengan tekanan emosional atau konflik tidak sehat.
Ketika seseorang berada dalam situasi yang toxic, penting untuk mengenali tanda-tandanya dan mencari cara untuk mengatasinya, baik dengan menetapkan batasan, mencari dukungan, atau menjauh jika perlu.
Lingkungan yang toxic bisa berdampak negatif pada kesehatan mental dan emosional seseorang. Hal ini bisa terjadi di berbagai aspek kehidupan, mulai dari pertemanan, keluarga, hingga lingkungan kerja.
Beberapa tanda lingkungan toxic:
• Kurangnya dukungan – Alih-alih saling mendukung, orang-orang justru menjatuhkan atau meremehkan satu sama lain.
• Manipulasi dan kontrol – Adanya tekanan untuk mengikuti kehendak orang lain tanpa ruang untuk berpendapat.
• Negatifitas yang berlebihan – Kritik yang tidak membangun, sikap merendahkan, dan suasana yang dipenuhi ketegangan.
• Kurangnya rasa hormat – Tidak adanya batasan pribadi dan sikap saling menghargai.
1. Dampak pada Kesehatan Mental
• Stres berlebihan – Interaksi negatif terus-menerus bisa menyebabkan tekanan mental yang tinggi.
• Kecemasan & depresi – Lingkungan yang penuh kritik dan konflik bisa membuat seseorang merasa tidak berharga.
• Merasa tidak aman – Ketidakstabilan dalam hubungan sosial dapat menyebabkan ketidakpercayaan dan ketakutan.
2. Pengaruh pada Perilaku dan Kepribadian
• Menurunkan rasa percaya diri – Terpapar lingkungan yang sering meremehkan atau mengontrol bisa mengikis keyakinan diri.
• Membentuk pola pikir negatif – Jika dikelilingi oleh toxicitas terus-menerus, seseorang bisa mulai melihat dunia dengan cara yang pesimistis.
• Mengubah cara berkomunikasi – Bisa menjadi lebih defensif, kurang terbuka, atau
bahkan menyerap perilaku toxic itu sendiri.
3. Dampak pada Hubungan Sosial
• Merusak relasi dengan orang baik – Seseorang bisa kehilangan koneksi dengan orang-orang yang sebenarnya mendukungnya karena terlalu sibuk menghadapi lingkungan toxic.
• Menjadi lebih tertutup – Bisa menyebabkan seseorang menarik diri dari pergaulan untuk menghindari konflik.
• Meningkatkan konflik interpersonal – Lingkungan toxic sering kali menciptakan suasana penuh persaingan tidak sehat dan perselisihan.
4. Risiko Kesehatan Fisik
• Gangguan tidur – Stres akibat lingkungan toxic bisa menyebabkan insomnia.
• Masalah pencernaan dan tekanan darah – Emosi negatif yang terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan fisik, termasuk tekanan darah tinggi dan gangguan pencernaan.
• Menurunnya sistem imun – Stres yang berkepanjangan bisa melemahkan daya tahan tubuh, membuat seseorang lebih rentan terhadap penyakit.
Menghindari atau keluar dari lingkungan toxic bisa menjadi langkah yang sulit, tetapi penting untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan diri. Jika tidak bisa langsung menjauh, menetapkan batasan dan mencari dukungan dari orang-orang positif bisa membantu mengurangi dampaknya.
Dalam Islam, menghadapi lingkungan toxic bisa dilakukan dengan prinsip-prinsip yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan Hadis. Berikut beberapa cara yang dianjurkan:
1. Menjaga Kesabaran dan Mengendalikan Emosi
Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 134,
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.
bahwa orang beriman adalah mereka yang mampu mengendalikan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Dalam lingkungan toxic, penting untuk tetap tenang dan tidak terbawa emosi negatif.
2. Menjaga Jarak dan Memilih Lingkungan yang Baik
Islam mengajarkan pentingnya memilih teman dan lingkungan yang baik. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi bisa memberimu wangi, sedangkan pandai besi bisa membakar pakaianmu atau membuatmu terkena bau yang tidak sedap.” (HR. Bukhari & Muslim).
3. Menghindari Ghibah dan Fitnah
Lingkungan toxic sering kali dipenuhi dengan ghibah (menggunjing) dan fitnah. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 12,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
Allah melarang prasangka buruk dan menggunjing sesama. Sebisa mungkin, hindari ikut serta dalam percakapan negatif.
