Bahaya Flexing Beragama di Media Sosial

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Dr. Sholikh Al Huda, M. Fil. I

Dalam era digital seperti sekarang, media sosial (YouTube, TikTok, Instagram, Facebook) menjadi panggung utama bagi banyak orang untuk mengekspresikan diri. Tak terkecuali dalam hal ekspresi keagamaan.

Sayangnya, cenderung ekspresi keagamaan ini sering bergeser dari niat tulus menjadi ajang “flexing beragama” pamer ibadah, sedekah, atau kehidupan religius yang dibalut demi citra di laman digital.

Fenomena flexing beragama tentu berbahaya karena mengaburkan esensi dari ajaran agama itu sendiri. Ibadah yang sejatinya bersifat personal (ptivate) dan penuh keikhlasan berubah menjadi konsumsi publik yang dipenuhi pencitraan.

Alih-alih menginspirasi, unggahan-unggahan tersebut kerap memicu rasa rendah diri bagi mereka yang merasa kurang “sempurna” secara spiritual. Bahkan mungkin terjadi depresi beragama, sebuah fenomena tertekan atau kondisi stress seseorang dalam beragama yang mereka merasa kurang saleh ditimbang yang lain karena kurang upload kegiatan di laman digital media sosial.

Lebih jauh, flexing beragama bisa melahirkan budaya religius yang dangkal di mana kesalehan diukur dari jumlah likes, views, atau followers. Ini tentu bertentangan dengan nilai spiritualitas sejati yang menekankan ketulusan, kerendahan hati, dan hubungan vertikal dengan Tuhan, bukan validasi sosial.

Kedangkalan beragama ini disebabkan pemahaman beragama berorientasi pada simbol formal keagamaan (eksetoris) daripada isi beragama (esoteris).

Tentu berbagi informasi kebaikan di media sosial bukanlah hal yang salah. Namun, motivasinya harus dikaji ulang. Apakah untuk menginspirasi, atau sekadar menunjukkan “aku lebih suci darimu”? Media sosial semestinya menjadi sarana dakwah yang bijak, bukan panggung ego yang terselubung.

Flexing beragama mungkin terlihat menginspirasi di permukaan, tapi di balik itu ada bahaya kesombongan spiritual yang tak kasat mata, kondisi ini yang harus dijaga bagi kita yang akan uplod kegiatan keagamaan.

Kesombongan Spiritual: Bahaya Flexing Beragama

Kesombongan spiritual, atau spiritual pride adalah kondisi di mana seseorang merasa lebih tinggi, lebih suci, atau lebih dekat dengan Tuhan dibanding orang lain karena ibadah atau kesalehan yang dimilikinya. Ini adalah bentuk keangkuhan yang halus dan sering tidak disadari, justru karena ia muncul dalam konteks sesuatu yang dianggap “baik” yaitu agama dan ibadah.

Kesombongan spiritual mencakup beberapa ciri berikut:

Pertama, Merasa paling benar dalam beragama

Orang yang mengalami kesombongan spiritual cenderung menganggap pandangan atau praktik keagamaannya sebagai satu-satunya yang sahih, dan mudah menghakimi orang lain yang berbeda.

Kedua, Ibadah sebagai alat pencitraan

Alih-alih menjadi sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, ibadah atau amal kebaikan dijadikan ajang unjuk diri atau branding religius apalagi di media sosial.

Ketiga, Mengecilkan orang lain yang dianggap kurang religius

Kesombongan ini bisa mendorong seseorang untuk memandang rendah orang yang tidak menjalankan ajaran agama dengan cara yang sama, tanpa melihat latar belakang atau perjuangan spiritual masing-masing.

Keempat, Tidak sadar bahwa dirinya sedang sombong

Karena dibungkus dalam aktivitas keagamaan, kesombongan spiritual seringkali tidak dikenali. Justru yang merasa paling “ikhlas” bisa jadi yang paling terjebak di dalamnya.

Dalam banyak tradisi agama, kesombongan spiritual dianggap lebih berbahaya dibanding dosa-dosa lahiriah, karena ia tersembunyi di balik kebaikan. Alih-alih mendekatkan diri kepada Tuhan, ia justru menjauhkan karena menciptakan ilusi keutamaan diri.

Maka dari itu, keikhlasan, introspeksi, dan kerendahan hati adalah fondasi penting dalam beragama agar spiritualitas kita tidak berubah menjadi alat pembenaran ego. (*)

 

*) Wakil Direktur Pascasarjana Univ. Muhammdiyah Surabaya & Peneliti Senior di InSID for Research and Humanity

 

Tinggalkan Balasan

Search