”Whoever eats a lot will have many illnesses and a hard heart”
”(Siapa yang banyak makannya, maka akan banyak pula penyakitnya dan keras hatinya)”
Makan adalah wasilah (perantara) untuk beribadah. Namun, kekenyangan yang melampaui batas justru menjadi belenggu bagi jiwa. Di balik lezatnya hidangan, tersimpan risiko tumpulnya kecerdasan dan beratnya raga untuk bersujud.
Fenomena “Balas Dendam”
Fenomena ini sering kali menodai kesucian Ramadan. Puasa yang sejatinya melatih kendali diri justru kerap diakhiri dengan “balas dendam” saat berbuka. Padahal, kekenyangan saat berbuka melenyapkan esensi lapar yang seharusnya menumbuhkan empati serta kejernihan spiritual.
Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya:
وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا ۚ اِنَّهٗ لَا یُحِبُّ الْمُسْرِفِیْنَ
Artinya:
“...makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. Al-A’raf: 31)
Menurut Tafsir Al-Muyassar, ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang melampaui batas akan merusak manfaatnya. Dalam konteks kesehatan, beban pencernaan yang berat akibat israf (berlebihan) dapat mengganggu metabolisme tubuh.
Panduan Proporsional dari Rasulullah SAW
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis sahih:
مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أَكَلاَتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
Artinya:
“Tidak ada wadah yang dipenuhi manusia yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan punggungnya. Jika harus dipenuhi, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napasnya.”(HR. At-Tirmidzi No. 2380, Ibnu Majah No. 3349)
Hadis ini adalah panduan utama Islam dalam menjaga kesehatan. Rasulullah SAW mengajarkan kesederhanaan, di mana beberapa suap saja sudah cukup untuk menopang aktivitas. Jika harus makan lebih banyak, pembagian idealnya adalah: 1/3 bagian untuk makanan.1/3 bagian untuk minuman.1/3 bagian sisanya untuk napas.
Menahan diri saat berbuka adalah puncak kemenangan puasa yang sesungguhnya. Dengan menjaga porsi, kita memberi ruang bagi hati untuk tetap bercahaya dan raga untuk tetap sigap dalam bertadarus serta bertahajud.
Semoga bermanfaat.
