Bahaya Salafisme di Tubuh Muhammadiyah

Bahaya Salafisme di Tubuh Muhammadiyah
*) Oleh : Dr. Sholikh Al Huda, M. Fil. I
Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UMSURA & Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Timur & Penulis Buku The Clash of Ideologi Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Islam Berkemajuan: Karakter Keislaman Muhammadiyah

Muhammadiyah sejak kelahirannya memosisikan diri sebagai gerakan Islam berkemajuan: Islam yang berakar pada al-Qur’an dan Sunnah, namun pembacaannya secara rasional, kontekstual, dan berorientasi pada kemaslahatan sosial. Tajdid (pembaruan) menjadi napas ideologisnya, bukan sekadar pemurnian ritual, tetapi juga pembaruan cara berpikir dan bertindak.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, muncul gejala yang patut ada kewaspadaan: masuknya paham Salafisme ke ruang-ruang dakwah dan praksis keagamaan warga Muhammadiyah.

Masalahnya bukan semata perbedaan mazhab atau selera keagamaan, melainkan pergeseran paradigma yang bersifat ideologis. Salafisme membawa corak keberagamaan yang cenderung tekstual, formalistik, dan kaku.

Dalam konteks Muhammadiyah, paham ini berpotensi menggeser “Islam berkemajuan” menjadi Islam yang tertutup terhadap konteks sosial, sejarah, dan kebudayaan. Agama tereduksi menjadi kumpulan dalil literal, sementara ijtihad sosial dan rasionalitas yang selama ini menjadi kekuatan Muhammadiyah perlahan terpinggirkan.

Bahaya Salafi di Muhammadiyah

Bahaya pertama adalah perubahan cara berpikir keagamaan.

Warga Muhammadiyah yang sebelumnya terbiasa dengan pendekatan tarjih yang argumentatif dan dialogis mulai terarahkan pada cara beragama yang hitam-putih: bid‘ah versus sunnah, benar versus sesat. Nuansa maqāṣid al-syarī‘ah, pertimbangan kemaslahatan, dan konteks keindonesiaan sering kali dianggap sebagai “kompromi terhadap Barat” atau “pengaruh liberal”.

Padahal, justru melalui pendekatan kontekstual itulah Muhammadiyah mampu bertahan dan relevan lebih dari satu abad.

Bahaya kedua tampak pada perubahan perilaku keagamaan dan sosial.

Infiltrasi Salafisme tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi masuk ke praksis sehari-hari. Gejala “kearab-araban” menjadi simbol kesalehan baru: cara berpakaian, gaya bicara, hingga ekspresi sosial yang seragam.

Warga Muhammadiyah mulai lebih patuh pada ustadz Salafi di media sosial daripada ulama dan intelektual Muhammadiyah sendiri.

Tidak jarang, amalan khas Muhammadiyah mengalami pembandingan secara negatif dengan praktik Salafi, seolah-olah Muhammadiyah belum cukup “murni”.

Dampak lanjutannya adalah kecenderungan eksklusivisme. Relasi sosial dan budaya yang sebelumnya cair berubah menjadi kaku. Memandang tradisi lokal dengan curiga, dialog lintas kelompok melemah, dan semangat dakwah kultural berubah menjadi dakwah konfrontatif.

Ini jelas bertentangan dengan etos Muhammadiyah yang sejak awal berdakwah melalui pendidikan, kesehatan, dan kerja-kerja sosial yang inklusif.

Hegemoni Ideologi: Perbuatan Kuasa Kebenaran Paling Islam

Secara teoretis, fenomena ini dapat dibaca melalui teori infiltrasi ideologi Antonio Gramsci tentang hegemoni. Ideologi tidak selalu masuk melalui konflik terbuka, tetapi lewat normalisasi wacana, simbol, dan otoritas keagamaan. Salafisme menyusup melalui ceramah, media digital, dan klaim “paling sesuai sunnah”, hingga perlahan membentuk kesadaran baru.

Dalam konteks ini, warga Muhammadiyah bisa mengalami apa yang disebut Louis Althusser sebagai interpellation: individu “dipanggil” menjadi subjek ideologi tertentu tanpa sadar bahwa kesadarannya sedang dibentuk.

Jika ada pembiaran, infiltrasi ini berpotensi melemahkan identitas Muhammadiyah dari dalam. Bukan dengan membubarkannya, tetapi dengan mengosongkan ruhnya. Muhammadiyah tetap ada secara struktural, namun kehilangan karakter progresif dan keindonesiaannya. Karena itu, kewaspadaan ideologis menjadi keharusan.

Waspada dan Menjaga Ideologi Muhammadiyah

Penguatan ideologi Islam berkemajuan, kaderisasi pemikiran, serta literasi keagamaan kritis di kalangan warga harus ada peningkatan. Muhammadiyah tidak alergi terhadap purifikasi, tetapi menolak puritanisme yang mematikan akal, budaya, dan kemanusiaan.

Menjaga Muhammadiyah dari Salafisme bukan soal konflik internal, melainkan ikhtiar menjaga warisan tajdid agar tetap hidup dan relevan bagi umat dan bangsa. (*)

Tinggalkan Balasan

Search