Bahaya Sifat Takabur

Bahaya Sifat Takabur
www.majelistabligh.id -

“Sifat takabur sangat berbahaya karena bisa menghapus pahala amal kebaikan yang telah dikumpulkan bertahun-tahun. Orang yang takabur merasa dirinya paling benar, paling hebat, dan berhak meremehkan orang lain.” — Ust. Drs. H. Suhadi M. Sahli, M.Ag.

***

Suasana pagi di Masjid Al-Muhajirin, Jalan Jojoran I terasa begitu khidmat pada Sabtu (10/10/2026). Selepas menunaikan salat subuh berjamaah, para jamaah tampak antusias memadati ruang utama masjid untuk mengikuti pengajian rutin bakda subuh.

Kajian kali ini menghadirkan penceramah, Ust. Drs. H. Suhadi M. Sahli, M.Ag., Wakil Ketua PDM Surabaya, yang mengupas tema mendalam dan penting untuk pembersihan hati, yakni “Takabur dan Bahayanya.”

Dalam ceramahnya, Ust. Suhadi menjelaskan bahwa takabur secara spiritual merupakan salah satu penyakit hati yang sangat dibenci oleh Allah Swt. Mengutip Surat Luqman ayat 18, beliau mengingatkan agar umat Islam tidak berjalan di muka bumi dengan angkuh dan membanggakan diri, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.

Beliau juga merujuk pada hadis Nabi Muhammad saw yang menegaskan bahwa seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meski sekecil biji zarah tidak akan bisa masuk surga.

Lebih lanjut, Ust. Suhadi, menerangkan hakikat sombong sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW, yaitu batarul haq (menolak kebenaran) dan ghomtun nas (meremehkan manusia).

“Ciri-ciri orang yang takabur di antaranya adalah suka meremehkan orang lain, gemar mencela sesama, bersikap antikritik atau mudah emosi, serta selalu memuji diri sendiri,” tandasnya.

Ust. Suhadi kemudian memaparkan tujuh penyebab utama seseorang terjangkit sifat sombong berdasarkan rincian Syekh Jamaluddin Al-Qasimi dalam kitab Tahzib Mauidhotil Mukminin. Ketujuh faktor tersebut meliputi:

  1. Ilmu: Merasa ilmunya paling luas, paling benar, dan meremehkan orang lain yang dianggap kurang pandai.
  2. Amal dan Ibadah: Berbangga diri atas ibadah yang dilakukan dan menganggap rendah orang lain yang belum sepadan amal ibadahnya.
  3. Kedudukan dan Nasab: Menyombongkan jabatan, pangkat, atau keturunan bangsawan.
  4. Kecantikan dan Ketampanan: Membanggakan kelebihan paras fisik dan mengolok-olok kekurangan fisik orang lain.
  5. Harta Kekayaan: Menggunakan kekayaan materi untuk bersikap angkuh.
  6. Kekuatan Fisik: Menyalahgunakan kekuatan tubuh atau keahlian bela diri untuk melakukan penindasan.
  7. Pengikut dan Kelompok: Mentang-mentang memiliki pendukung yang banyak lalu merendahkan kelompok minoritas.

Bahaya perilaku takabur ini sangat nyata, mulai dari menimbulkan dendam di tengah masyarakat, memperbanyak lawan, membuat batin senantiasa gelisah dan tersiksa, hingga ancaman siksa neraka jahanam di akhirat kelak.

Sebagai solusi penangkalnya, jamaah diajak untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat, melatih diri memiliki sifat tawadu (rendah hati), serta senantiasa menghargai dan menghormati sesama manusia tanpa memandang status sosial.

Pengajian yang berlangsung hangat ini diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif bersama para jamaah serta doa bersama. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search