Firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).:
{كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ}
Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu); dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui. (At-Takatsur. 3-4)
Al-Hasan mengatakan bahwa dalam ayat ini terkandung pengertian ancaman sesudah ancaman lainnya.
Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui. (At-Takatsur: 4) Yakni hai orang-orang kafir. janganlah begitu, jika kalian mengetahui. (At-Takatsur: 5) Yaitu hai orang-orang mukmin.
Dan mengenai firman selanjutnya, yaitu:
{كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ}
Janganlah begitu, jika kalian mengetahui dengan pengetahuan ‘ainul yaqin. (At-Takatsur: 5)
Yakni seandainya kalian mengetahui dengan pengetahuan yang sebenarnya, niscaya kalian tidak akan terlena dengan memperbanyak harta hingga lupa dari mencari pahala akhirat, sampai kalian masuk ke dalam kubur. Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya:
{لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ}
niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim, dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. (At-Takatsur: 6-7)
Ini merupakan penjelasan dari ancaman yang telah disebutkan di atas, yaitu pada firman-Nya: Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu); dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui. (At-Takatsur: 3-4)
Allah mengancam mereka dengan keadaan tersebut, yaitu saat ahli neraka melihat neraka manakala neraka bergolak dengan sekali golak. Maka menyungkurlah semua malaikat terdekat dan nabi yang diutus dengan bersideku di atas kedua lututnya masing-masing karena takut menyaksikan peristiwa-peristiwa yang sangat mengerikan itu, sebagaimana yang akan disebutkan dalam atsar yang menceritakan keadaan tersebut.
Firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).:
{ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ}
kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia itu). (At-Takatsur: 8)
Yakni kemudian kalian benar-benar akan dimintai pertanggungjawaban di hari itu tentang mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kalian, seperti kesehatan, keamanan, rezeki, dan lain sebagainya, apakah kalian bersyukur dan beribadah kepada-Nya?
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Yahya Al-Jazzar Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Isa alias Abu Khalid Al-Jazzar, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Ubaid, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas; ia pernah mendengar Umar ibnul Khattab mengatakan bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) keluar di waktu tengah hari, dan beliau menjumpai Abu Bakar berada di dalam masjid. Maka Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) bertanya, “Apakah yang mendorongmu keluar di saat seperti ini?” Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasulullah, telah mengeluarkan aku Tuhan yang telah mengeluarkanmu.” Lalu datanglah pula Umar ibnul Khattab, makaNabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) bertanya, “Apakah yang menyebabkan kamu keluar, hai Ibnul Khattab?” Umar menjawab, “Tuhan yang telah menyebabkan kamu berdua keluar.” Lalu Umar duduk, dan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) berbicara kepada keduanya, “Maukah kamu berdua aku ajak menuju ke kebun kurma itu, maka kamu akan mendapat makanan, minuman, dan naungan?” Keduanya menjawab, “Kami mau.” Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda, “Marilah kita singgah di rumah Ibnut Taihan alias Abul Haisam Al-Ansari.” Maka Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) berada di depan kami dan mengucapkan salam serta meminta izin sebanyak tiga kali, sedangkan Ummul Haisam berada di balik pintu rumahnya mendengarkan ucapan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dengan maksud ia mendapat tambahan dari salam Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Ketika Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) hendak pergi, Ummul Haisam keluar dan mengerjarnya dari belakang, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya aku mendengar suara salammu, tetapi aku bermaksud ingin mendapat tambahan dari salammu.” Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) menjawab, “Itu baik.” Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) bertanya, “Mana Abul Haisam, aku tidak melihatnya?” Ummul Haisam menjawab, “Wahai Rasulullah, dia pergi sebentar untuk menyejukkan air minum, sebentar lagi insya Allah dia akan datang, masuklah.” Lalu Ummul Haisam menggelarkan permadani di bawah pohon kurma. Tidak lama kemudian datanglah Abul Haisam, dan ia merasa senang dengan kedatangan mereka, lalu ia segera menaiki pohon kurma dan memetik beberapa tangkai buah kurma. Maka Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda kepadanya, “Itu sudah cukup, hai Abul Haisam.” Abul Haisam berkata, “Wahai Rasulullah, engkau makan buahnya yang masih gemading dan yang telah masak,” lalu Abul Haisam menyuguhkan air minum buat mereka dan mereka pun minum dari air yang disuguhkannya. Setelah itu Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda:
“هَذَا مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي تُسْأَلُونَ عَنْهُ”
Ini termasuk nikmat yang kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban mengenainya
Hadis berpredikat garib bila ditinjau dari segi jalurnya.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Husain ibnu Ali As-Sada’i, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnul Qasim, dari Yazid ibnu Kaisan, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa ketika Abu Bakar dan Umar sedang duduk,’ maka datanglah Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) kepada keduanya, lalu beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam) bertanya, “Apakah yang membuat kamu berdua duduk di sini?” keduanya menjawab, “Demi Tuhan Yang telah mengutus engkau dengan hak, tiada yang menyebabkan kami keluar melainkan rasa lapar.” Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda; “Demi Allah yang telah mengutusku dengan hak, tidak ada yang mendorongku keluar selain dari alasan yang sama.” Lalu mereka pergi hingga sampai di rumah seorang lelaki dari kalangan Ansar, maka mereka disambut oleh seorang wanita, dan Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) bertanya kepada wanita itu, “Kemanakah si Fulan (suaminya)?” Wanita itu menjawab bahwa suaminya sedang pergi untuk menyejukkan air minum buat dia dan keluarganya. Tidak lama kemudian datanglah orang yang dicari mereka dengan membawa qirbah wadah airnya, dan ia langsung berkata menyambut mereka, “Marhaban (selamat datang), tiada seorang tamu pun berkunjung kepada seseorang lebih afdal daripada Nabi yang hari ini datang berkunjung kepadaku.” Lalu ia menggantungkan qirbah wadah airnya ke pohon kurma dan ia pergi, kemudian datang lagi dengan membawa setandan buah kurma. MakaNabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda kepadanya, “Bukankah engkau telah memetik buah kurmamu?” Lelaki itu menjawab “Aku ingin menghormati kalian dengan rnenyajikan makanan yang masih segar menurut kesukaan kalian.” Kemudian ia mengambil pisau besar (untuk menyembelih kambing), maka Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda, “Janganlah kamu sembelih kambing yang sedang menyusui.” Ia menyembelih kambing buat mereka di hari itu dan mereka makan makanan yang telah disajikan, lalu Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda:
“لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ. أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ، فَلَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَبْتُمْ هَذَا، فَهَذَا مِنَ النَّعِيمِ”
Sungguh kamu akan ditanyai mengenai hal ini kelak di hari kiamat. Kamu keluar karena terdorong oleh rasa lapar, dan sebelum pulang kamu telah mendapatkan semua ini, dan ini termasuk dari nikmat.
