Bangkit dari Kesulitan dengan Doa dan Istighfar

Bangkit dari Kesulitan dengan Doa dan Istighfar
*) Oleh : Hanif Asyhar, M. Pd, C.H, C.Ht
Trainer Healthy Parenting Nasional dan Anggota Majelis Dikdasmen PDM Kab. Malang
www.majelistabligh.id -

#Tinjauan Spiritual dan Psikologis 

Dalam kehidupan ini setiap manusia tidak dapat terlepas dari dinamika ujian, kesulitan, baik berupa krisis ekonomi, maupun tekanan mental adalah sunnatullah yang berfungsi menguji kadar keimanan.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah: 155)

Dalam menghadapi badai kehidupan, Islam menawarkan dua senjata spiritual yang fundamental yakni doa dan istighfar. Keduanya tidak hanya ritual verbal, melainkan mekanisme transformatif yang mampu mengubah keputusasaan menjadi harapan.

Landasan Teologis: Kekuatan Istighfar sebagai Pembuka Pintu Rezeki

Istighfar seringkali disalahpahami hanya sebagai permohonan ampun atas dosa besar. Padahal, dalam Al-Qur’an, istighfar diposisikan sebagai kunci pembuka solusi atas problematika duniawi. Allah SWT berfirman dalam Surah Nuh ayat 10-12:

فَقُلۡتُ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّكُمۡؕ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًا ۙ‏ ١٠

maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun,

يُّرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَيۡكُمۡ مِّدۡرَارًا ۙ‏ ١١

niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,

وَّيُمۡدِدۡكُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّبَنِيۡنَ وَيَجۡعَلۡ لَّـكُمۡ جَنّٰتٍ وَّيَجۡعَلۡ لَّـكُمۡ اَنۡهٰرًا ؕ‏ ١٢

dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.

Ayat ini menunjukkan adanya hubungan secara langsung antara pertaubatan dengan kelapangan hidup. Secara teologis, kemacetan dalam urusan dunia seringkali disebabkan oleh “sumbatan” dosa yang menghalangi aliran rahmat Allah. Istighfar berfungsi membersihkan sumbatan tersebut, sehingga keberkahan akan kembali mengalir.

Bahkan Rasulullah SAW  menegaskan akan pentingnya ungkapan istighfar ini menjadi solusi dan jalan keluar bagi setiap kesempitan. Banyak sekali hadits Nabi yang membahas tentang pentingnya dan manfaat dari istighfar ini, diantaranya :

من لزم الاستغفار جعل الله له من كل ضيق مخرجا ومن كل هم فرجا ورزقه من حيث لايحتسب

Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesedihan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. ( HR. Abu Dawud )

Sayyidul Istighfar (doa istighfar terbaik)

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ

بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ

(HR. Bukhari, Tirmidzi)

Kalimat istighfar ini sangat mudah untuk diucapkan namun tidak semuanya dapat mengucapkan dengan sepenuh hati, masuk dalam relung hati sehingga dapat memberikan efek bagi dirinya. Intinya, istighfar adalah amalan kunci yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT, menghilangkan kesedihan, melapangkan kesulitan, dan mendatangkan rezeki, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Doa: Manifestasi Tauhid dalam Menghadapi Krisis

Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 186.

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ۝١٨٦

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ( Al Baqarah : 186 ).

Jika istighfar merupakan upaya untuk pembersihan diri, maka doa sebagai bentuk pengakuan totalitas atas kelemahan hamba di hadapan Sang Pencipta. Doa adalah ibadah itu sendiri. Di saat manusia merasa berada di titik nadir, doa menjadi jembatan yang menghubungkan keterbatasan makhluk dengan kemahakuasaan Khalik.

Doa dapat memberikan kekuatan yang sangat dahsyat bagi jiwa untuk bertahan (resilience). Ketika seseorang berdoa, sejatinya ia sedang memindahkan beban berat pundaknya kepada Dzat yang Maha Memikul Beban, Dzat yang Maha Kuasa atas segalanya. Hal ini dapat menciptakan ketenangan batin yang luar biasa, sehingga akal pikiran dapat bekerja lebih jernih dalam mencari solusi praktis atas masalah yang dihadapi.

Tinjauan Akademik: Perspektif Psikologi dan Kesehatan Mental

Secara akademik, khususnya dalam kajian psikologi agama, praktik doa dan istighfar memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan mental. Dalam teori Religious Coping, aktivitas spiritual membantu individu memaknai penderitaan sehingga tidak terjerumus ke dalam depresi klinis.

  1. Reduksi Stres dan Efek Relaksasi: Pengulangan kalimat istighfar secara lisan (zikir) memiliki efek serupa dengan teknik meditasi atau mindfulness. Secara fisiologis, ini dapat menurunkan kadar hormon kortisol (hormon stres) dan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis yang menginduksi ketenangan.
  2. Locus of Control: Dalam psikologi, orang yang memiliki External Locus of Control yang positif (meyakini kekuatan Tuhan) cenderung lebih tangguh menghadapi kegagalan. Dengan berdoa, seseorang merasa memiliki “dukungan sosial tertinggi” (Perceived Social Support), yang meningkatkan rasa percaya diri untuk bangkit kembali.
  3. Kognitif-Perilaku: Istighfar mendorong individu untuk melakukan introspeksi diri (self-reflection). Dalam perspektif kognitif, pengakuan kesalahan (dosa) dan tekad untuk memperbaiki diri adalah langkah awal dari perubahan perilaku yang lebih konstruktif. Daripada menyalahkan keadaan atau orang lain, istighfar mengarahkan energi individu untuk memperbaiki kualitas internalnya.

Integrasi Doa, Istighfar, dan Ikhtiar

Bangkit dari kesulitan itu tidak cukup hanya dengan duduk bersila. Islam mengajarkan keseimbangan antara langit (doa/istighfar) dan bumi (ikhtiar). Doa dan istighfar berperan sebagai “bahan bakar” mental dan spiritual, sementara ikhtiar adalah kendaraannya.

Ketika hati tenang karena istighfar dan jiwa kuat karena doa, maka langkah-langkah nyata seperti mencari pekerjaan, belajar keterampilan baru, atau memperbaiki hubungan antarmanusia akan menjadi lebih efektif.

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11).

Perubahan apa yang ada pada diri ini dimulai dari pembersihan hati melalui istighfar dan penguatan niat melalui doa.

Kesulitan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan fase transisi menuju kedewasaan iman dan mental. Doa dan istighfar adalah dua instrumen utama yang disediakan Islam untuk menavigasi masa-masa sulit tersebut. Melalui istighfar, kita menghapus hambatan spiritual, melalui doa, kita menarik kekuatan Ilahi; dan melalui tinjauan akademik, kita memahami bahwa praktik ini adalah terapi kesehatan mental yang saintifik. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search