Kita hidup di zaman, di mana baterai lemah lebih bermasalah daripada iman yang lemah.
* Baterai lemah: langsung terasa dampaknya—HP mati, motor mogok, laptop tidak bisa dipakai. Dunia modern berhenti seketika.
* Iman lemah: dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tapi jauh lebih mendalam. Ia bisa membuat seseorang kehilangan arah, kehilangan makna, dan akhirnya tersesat dalam keputusan hidup.
Perbandingan ini sebenarnya provokatif: seolah-olah baterai lemah lebih “bermasalah” karena efeknya instan dan praktis, sementara iman lemah sering diabaikan karena tidak langsung terasa. Padahal, kalau kita tarik ke akar, iman lemah justru lebih berbahaya karena ia merusak fondasi hidup, bukan sekadar fungsi alat.
Refleksi yang bisa diambil
* Baterai lemah → masalah teknis: bisa diatasi dengan charger, powerbank, atau ganti baterai.
* Iman lemah → masalah eksistensial: butuh muatan spiritual, doa, tilawah, dzikir, dan lingkungan yang menumbuhkan.
* Pelajaran: jangan sampai kita lebih panik kehilangan daya pada gawai daripada kehilangan daya pada hati.
“Baterai lemah lebih bermasalah daripada iman yang lemah” kalau dilihat dari perspektif Islam sebenarnya terbalik: justru iman yang lemah jauh lebih bermasalah daripada baterai lemah
1. Baterai Lemah: Masalah Duniawi
* Baterai lemah hanya mengganggu aktivitas sehari-hari: HP mati, kendaraan tidak bisa dipakai, pekerjaan tertunda.
* Solusinya mudah: cukup diisi ulang, diganti, atau diperbaiki.
* Dampaknya terbatas pada urusan dunia, tidak menyentuh keselamatan akhirat.
2. Iman Lemah: Masalah Hakiki
* Iman adalah “energi rohani” yang menghidupkan hati. Allah berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)
* Jika iman lemah, seseorang mudah tergelincir dalam maksiat, kehilangan arah hidup, dan tidak siap menghadapi ujian.
* Lemahnya iman bisa membuat amal tidak diterima, doa tidak khusyuk, dan hati gersang.
* Dampaknya bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.
Islam mengajarkan agar kita tidak lebih panik kehilangan daya pada gawai daripada kehilangan daya pada hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:“Dalam tubuh ada segumpal daging; jika ia baik maka seluruh tubuh baik, jika ia rusak maka seluruh tubuh rusak. Itulah hati.” (HR. Bukhari & Muslim)
Jadi, perspektif Islam menegaskan: iman lemah jauh lebih bermasalah daripada baterai lemah, karena iman adalah sumber kekuatan hidup, penentu arah, dan bekal menuju Allah.
Perspektif Dunia vs. Akhirat
* Baterai lemah → masalah duniawi, langsung terasa, cepat diatasi.
* Iman lemah → masalah ukhrawi, tidak selalu tampak, tapi efeknya jauh lebih serius.
* Islam mengingatkan:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Artinya: Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (QS. Ali Imran: 185).
Artinya, kepanikan terhadap baterai lemah mencerminkan keterikatan pada dunia, sementara ketenangan menghadapi iman lemah menunjukkan kelalaian terhadap akhirat.
Energi Fisik vs. Energi Rohani
* Baterai adalah energi alat: ia menggerakkan benda mati.
* Iman adalah energi hati: ia menggerakkan manusia menuju Allah.
* Rasulullah ﷺ bersabda: “Iman itu ada lebih dari tujuh puluh cabang, yang paling tinggi adalah ucapan ‘La ilaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Muslim).
Lemahnya iman berarti hilangnya energi untuk berbuat baik, padahal itu inti kehidupan.
