Bau Mulut Saat Puasa, Simak 4 Rahasia Nafas Segar ala Pakar FKG UMSURA Ini!

Bau Mulut Saat Puasa,  Simak 6 Rahasia Nafas Segar ala Pakar FKG UMSURA Ini!
www.majelistabligh.id -

Menjalankan ibadah puasa di Indonesia memberikan tantangan tersendiri bagi kesehatan tubuh, terutama pada area rongga mulut.
Dengan durasi menahan lapar dan dahaga selama kurang lebih 13 hingga 14 jam, perubahan pola makan yang drastis kerap memicu masalah kenyamanan, seperti mulut kering dan bau nafas yang kurang sedap.

​Aryo Sutowijoyo, praktisi sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), menekankan, menjaga kesehatan gigi bukan sekadar rutinitas estetika, melainkan kunci agar ibadah tetap lancar tanpa gangguan medis.

Menurutnya, pemahaman masyarakat mengenai manajemen kesehatan mulut selama Ramadan perlu ditingkatkan.
​Mengapa Nafas Berubah Saat Berpuasa ? ​Seringkali muncul kekhawatiran mengenai aroma nafas yang berubah saat berpuasa.
Aryo menjelaskan bahwa fenomena ini bersifat fisiologis.

Ketika perut kosong, tubuh mulai membakar cadangan lemak untuk energi, yang kemudian melepaskan zat sampingan penyebab aroma khas pada napas.

​Selain faktor internal tersebut, penurunan produksi air liur (saliva) akibat ketiadaan asupan cairan dalam waktu lama membuat mulut menjadi kering. Hal inilah yang memicu pertumbuhan bakteri lebih cepat jika kebersihan tidak dijaga secara intensif.

Langkah Preventif Menjaga Kesehatan Rongga Mulut
​Untuk meminimalisir kendala tersebut, terdapat beberapa langkah strategis yang bisa diterapkan oleh umat muslim:

​1. Optimalisasi Durasi dan Teknik Menyikat Gigi Aryo menyarankan agar pembersihan gigi dilakukan secara menyeluruh dengan durasi minimal dua menit.
Waktu yang ideal adalah setelah santap sahur dan sebelum tidur malam.
Durasi ini dianggap cukup untuk menjangkau seluruh permukaan gigi dan gusi agar plak tidak menumpuk.

​2. Manajemen Hidrasi di Waktu Non-Puasa Dehidrasi adalah musuh utama kesehatan mulut.
Masyarakat dianjurkan tetap memenuhi kebutuhan cairan dengan pola 2-4-2 (2 gelas saat berbuka, 4 gelas sepanjang malam, dan 2 gelas saat sahur). Asupan air putih yang cukup sangat membantu menjaga kelembaban mulut di siang hari.

3. Konsumsi Makanan Pengendali Asam Pemilihan menu saat berbuka dan sahur memegang peranan vital.
Sayuran dan buah-buahan sangat direkomendasikan karena mampu menciptakan lingkungan rongga mulut yang lebih basa (alkalin).
Lingkungan yang basa dapat menetralkan tingkat keasaman yang sering menjadi biang kerok bau mulut.

4. Penggunaan Alat Bantu Kebersihan Pembersihan dengan sikat gigi saja terkadang belum cukup.
Aryo mendorong penggunaan dental floss atau benang gigi untuk membersihkan sisa makanan di celah sempit yang tidak terjangkau bulu sikat. Sisa makanan yang tertinggal di celah gigi adalah pemicu utama meningkatnya kadar asam dalam mulut.

Prosedur Medis dan Persiapan Sebelum Ramadan

​Menariknya, banyak masyarakat yang ragu melakukan perawatan gigi saat bulan puasa karena takut membatalkan ibadah.
Namun, Aryo menegaskan, berbagai tindakan medis tetap bisa dilakukan sesuai kebutuhan dan indikasi klinis.

​Beberapa perawatan seperti pembersihan karang gigi (scaling), penambalan lubang, hingga prosedur estetika seperti pemasangan kawat gigi atau veneer tetap dapat berjalan selama dilakukan oleh profesional.

Meski demikian, melakukan pemeriksaan rutin atau check-up sesaat sebelum memasuki bulan Ramadhan sangat disarankan agar masalah besar bisa tertangani lebih awal.

​Terakhir, Aryo mengingatkan untuk membatasi konsumsi makanan yang bersifat iritan, seperti makanan yang terlalu pedas atau mengandung kadar garam (asin) yang tinggi. Jenis makanan ini cenderung memicu rasa haus yang berlebihan dan meningkatkan risiko peradangan pada jaringan lunak di dalam mulut.

Dengan disiplin menjaga kebersihan dan memperhatikan asupan nutrisi, kesehatan mulut akan tetap prima, sehingga kekhusyukan ibadah di bulan suci tetap terjaga. (abdul fatah)

Tinggalkan Balasan

Search