Keinginan untuk hidup di dunia dengan memiliki harta benda yang banyak atau bahkan berlebih merupakan hasrat semua manusia, namun perlu dicermati bahwa hidup itu penuh pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah SWT.
Menjadi orang kaya boleh boleh saja, tapi yang perlu diingat adalah apakah setelah kita menjadi kaya, kita mampu mengemban amanah Allah berupa harta benda untuk sebagian kita keluarkan sedekah, infaq dan zakatnya?
Memiliki banyak harta akan menjadi beban berat di hadapan Allah SWT, jika kita tidak bisa mengatur penggunaan harta benda kita di jalan Allah SWT. Sifat umum manusia yang amat cinta terhadap kepemilikan harta benda terkadang membuat lupa dan khilaf untuk berjuang di jalan Allah dengan hartanya. Bahkan terkadang saking cintanya maka menolak mengeluarkan zakat atau infaq.
Hal ini pernah dikisahkan oleh Qorun, manusia terkaya zaman Nabi Musa A.S. Bahkan saking kayanya, maka harta harta itu disimpan dalam beberapa gudang, sampai asistenyapun tidak kuat memikul kunci kunci gudang itu.
Qorun manusia terkaya yang perna hidup di muka bumi ini dengan karakter kikir. Akibat kikirnya tersebut maka Allah SWT menenggelamkan Qorun bersama dengan hartanya dalam perut bumi.
Firman Allah SWT:
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ
Maka kami benamkan Qorun beserta rumahnya kedalam bumi. Maka, tidak ada suatu golonganpun yang dapat menolongnya dari azab Allah (QS. Al qashas : 81).
Sifat merasa puas dan menyombongkan diri yang sering disebut juga dengan tamak atau serakah, merupakan akhlak tercela dan dapat menyebabkan seseorang melupakan Tuhan serta melakukan perbuatan buruk seperti curang, menipu atau bahkan korupsi. Sifat ini dapat dihindari dengan menumbuhkan rasa syukur, mengendalikan keinginan, menerapkan kesederhanaan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. untuk menjauhkan diri dari godaan harta dan kekuasaan yang berlebihan.
Sifat kecintaan terhadap harta yang berlebihan bisa menjerumuskan kehidupan manusia ke dalam sifat kikir, yang mana sifat ini tidak disukai oleh semua mahluk, bahkan si kikir sendiri kalau ada teman dan saudaranya yang bersifat seperti itu maka, si kikir juga tidak suka.
Oleh karenanya menjadi sangat penting untuk belajar sifat wara` dan zuhud.
Wara’ adalah menjaga diri dari hal-hal yang meragukan atau berpotensi membahayakan akhirat, seperti hal hal haram atau syubhat, untuk mencapai kedekatan dengan Allah dan menjaga integritas spiritual. Sementara itu, pentingnya zuhud adalah sikap tidak terikat pada dunia materi, menolak kesenangan duniawi yang tidak bermanfaat untuk akhirat, dan memfokuskan hidup untuk meraih kebahagiaan abadi.
Zuhud adalah tingkatan yang lebih tinggi dari wara’ karena mencakup meninggalkan hal yang tidak bermanfaat. Bukan hanya yang berbahaya dalam kehidupanya. Ibnul qayyim mendengar gurunya, syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
الزُّهْدُ تَرْكُ مَالاَ يَنْفَعُ فِي الآخِرَةِ
وَالوَرَعُ تَرْكُ مَا تَخَافُ ضَرَرَهُ فِي الآخِرَةِ
“Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Sedangkan wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang membawa madharat di akhirat“.
Zuhud ini bukan berarti kita tidak boleh mengurus dunia yang bisa mengantarkan untuk taat kepada Allah. Zuhud bukan berarti kita harus tinggalkan kebiasaan dunia secara umum, seperti meninggalkan jual beli, bertani, dan bekerja.
Boleh saja kita mencari dunia asalkan tidak melalaikan dari persiapan akhirat, hati tetap tidak penuh pada dunia, dan mengharap apa yang ada di sisi Allah. Kehidupan dunia merupakan kehidupan yang penuh hiasan dan juga godaan. Godaan dunia itu berupa kesenangan yang berlebihan terhadap harta benda, kesenangan terhadap jabatan/kedudukan,dll.
Wajar kiranya manusia menginginkan kesenangan dalam kehidupan dunia ini, namun harus tetap waspada agar jangan terpedaya dengan kesenangan dan hiasan dunia.
Karena itulah pentingnya belajar zuhud dan wara dengan maksud:
1. zuhud dan wara sebagai self contemplation (kontemplasi diri) sarana untuk menginterograsi diri agar tidak terjerumus lebih jauh kedalam kecintaan duniawi yang berlebihan.
2. zuhud dan wara sebagai self sensitivity (kepekaan diri) akan kebutuhan beramal sholeh sebagai persiapan kehidupan akhirat.
3. zuhud dan wara sebagai self management (pengaturan diri) atas pola hidup yang seimbang yaitu kehidupan dunia dan juga kehidupan akhirat. (*)
